Oleh : Anna Ummu Maryam
(Praktisi Sosial Masyarakat )

Mediaoposisi.com- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada beberapa faktor yang jadi penyebab garis kemiskinan dan terlihat mencolok di Sumsel. Salah satunya adalah perumahan, listrik, bensin, pendidikan, perlengkapan mandi dan angkutan.

Berikut adalah daftar komoditas yang memberikan sumbangsih kemiskinan dari non makanan sebagaimana dikutip detikcom dari website BPS, Rabu (16/1/2019):

1. Perumahan 8,45 persen
2. Listrik 4,56 persen
3. Bensin 4,32 persen
4. Pendidikan 1,86 persen
5. Perlengkapan Mandi 0,99 persen
6. Angkutan 0,88 persen

Sementara itu, Pemprov Sumsel berencana membentuk tim percepatan untuk menurunkan angka kemiskinan di 17 kabupaten/kota yang ada. Bahkan, Pemprov menargetkan penurunan 1,0 persen setiap tahunnya.
(Detik.Com 16/01/2019)

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir peringkat provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi di Sumatera per September 2018. Anehnya, Aceh, yang memiliki kekayaan alam besar dan alokasi dana khusus, malah menduduki peringkat tertinggi angka kemiskinannya.

Berikut ini peringkat orang miskin di Sumatera, sebagaimana dikutip dari website BPS, Rabu (16/1/2019):

1. Aceh
2. Sumatera Utara
3. Sumatera Barat
4. Riau
5. Jambi
6. Sumatera Selatan
7. Bengkulu
8. Lampung
9. Bangka Belitung
10. Kepulauan Riau

Persentase penduduk miskin terbesar berada di Provinsi Aceh, yaitu sebesar 15,68 persen, sementara persentase penduduk miskin terendah berada di Provinsi Bangka Belitung, yaitu sebesar 4,77 persen," papar BPS.(DetikNews 16/01/2019)

Kemiskinan Terus Bertambah
Fakta diatas telah memperlihatkan bagaimana angka kemiskinan terus naik dan sangat sulit untuk diturunkan. Berbagai upaya dilakukan untuk menaikkan tingkat produksi dan kemampuan masyarakat,  namun lagi - lagi hal ini belum sepenuhnya berhasil.

Hal yang membingungkan adalah wilayah yang memiliki tingkat kemiskinan adalah wilayah yang kaya akan sumber daya alamnya,  namun seolah hal itu tidak terlalu berpengaruh pada tingkat ekonomi dan kenaikan taraf kehidupan. Justru yang terlihat adalah ketimpangan semakin besar.

Dimana gedung bertingkat makin banyak tapi rumah kumuh juga tak kalah banyak,   orang kaya bertambah dan orang miskinpun semakin bertambah pula. Pembangunan semakin digalakkan disana-sini tapi belum juga mampu menyedot tenaga kerja bahkan pekerja lokal banyak yang pengangguran.

Bukan hanya dana daerah dan pusat yang digunakan, bahkan dana dari negara asingpun dikucurkan dalam bentuk investasi namun tetap saja tidak mampu mengatasi dan mengurangi angka kemiskinan.

Tentu kita bertanya,  mengapa masalah ini tak bisa diselesaikan?. Masalah ini sebenarnya berasal sistem kapitalis yang menjadi pengatur dan petunjuk yang harus dilakukan oleh negara kepada rakyatnya.

Dalam sistem kapitalis secara perundang undangan memang mengatur pengurusan tentang masyarakat  namun bukan perkepala tapi per kepala keluarga. Sedangkan kehidupan itu adalah hak manusia.

Dalam hal tanggung jawab sebagai penguasa yang mengayomi rakyatpun kurang terasa dalam sistem ini. Dapat kita dapat melihat rakyat mencari kehidupan mereka sendiri dengan sangat minimnya peran negara.

Negara dan penguasa ada sudah selayaknya mengurus dan memperhatikan kesejahteraan hidup seluruh rakyat namun yang terjadi negara mengalihkan perannya pada perusahaan swasta.

Investasi di segala bidang sebagai solusi pembangunan dan pemberdayaan adalah yang di gadang-gadangkan sebenarnya bukanlah solusi tuntas. Karena masalah baru bermunculan seperti penggusuran, masuknya budaya asing dengan kehidupan serba bebas, pengangguranpun makin bertambah karena dianggab memiliki kemampuan yang rendah.

Lahan yang biasanya untuk hutan dan berkebun kini telah dibeli oleh perusahaan besar sehingga menghilangkan lahan pekerjaan bagi rakyat.

Kesehteraan Hanya Ada Dalam Islam
Kehidupan bahagia dan sejahtera itu semua adalah harapan seluruh manusia. Maka keberadaan sebuah negara adalah untuk menjalankan hal ini agar kebutuhan manusia menjadi teratur dan memadai.

Islam adalah agama yang mengatur seluruh hubungan diantara manusia. Dari mulai dirinya sampai bagaimana posisi negara. Inilah yang harus kita pahami dalam ajaran Islam.

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107).

Maka sudah jelaslah bahwa islam hadir untuk pengaturan yang sempurna dan tak pantas kita meragukan aturan yang berasal dari Allah Swt. Maka mencurigai islam sama dengan mengatakan Allah tidak pantas untuk menjadi Pencipta. Tentu itu adalah perbuatan dosa besar.

Dalam islam kepemilikan akan harta di bagi dalam tiga hal :
Pertama,  harta milik pribadi yaitu yang didapatkan dari usaha bersifat pribadi dan dikelola sendiri.

Kedua,  harta milik umum yang tidak boleh dimiliki oleh pribadi dan negara seperti air, api dan hutan.

Ketiga, harta milik negara yang dikelola oleh negara selain milik pribadi dan masyarakat umum yang hasilnya dikembalikan pada rakyat.

Pada harta milik pribadi dan masyarakat negara hanya sebagai penjaga agar kepemilikan ini dapat terlaksana dengan optimal.

Segala kekayaan alam hasilnya adalah untuk menjadikan kesejahteraan pada masyarakat. Kewajiban negara adalah menjadi pelayan umat dan penjaga agar kesejahteraan masyarakat terjadi secara merata dan dapat dinikmati secara individu bukan perkepala keluarga.

Dengan kekayaan yang melimpah maka wajar pendidikan, kesehatan dan keamanan menjadi gratis untuk didapatkan dan itu adalah hak setiap warga negara.

Sudah sepantasnya kita kembali pada syariat Allah yang sempurna dan menjadikan negeri ini penuh berkah. Hanya dengan Islamlah negeri indonesia bangun dari keterpurukannya dan siap menjadi peradaban yang mulia.


وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللّهُ إِلَيْكَ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ (49) أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ حُكْماً لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ (50)

Artinya :”Dan hendaklah kamu berhukum dengan apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayaimu atas sebagian yang Allah turunkan kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang Allah turunkan) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka karena dosa-dosa mereka. Dan sungguh kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (49) APakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik dari Allah (dalam menetapkan hukum)  bagi orang-orang yang yakin (50)”.  (QS Al Maidah 49-50).[MO/sr]

Posting Komentar