Oleh: Wida Aulia 

Mediaoposisi.com- Penyidik Polda Jawa Timur sudah menetapkan dua orang TN dan ES sebagai tersangka Prostitusi Online. Keduanya berprofesi sebagai Mucikari. Kepada polisi, kedua tersangka mucikari mengaku tidak hanya melibatkan artis peran VA dalam aktivitasnya, namun juga mencatut 45 nama artis tanah air.

Kata Kapolda Jawa Timur, Irjen Luki Hermawan, kedua tersangka mucikari memiliki 45 nama jaringan artis tanah air lengkap dengan data pribadi dan fotonya.
"Ada 45 nama artis yang disediakan mucikari artis VA kemarin," katanya kepada wartawan, Senin (7/1/2019).( TRIBUN-TIMUR.COM )

Kasus prostitusi yang melibatkan nama-nama artis kondang bukanlah yang pertama terjadi. Dan prostitusi artis juga bukan satu-satunya tempat prostitusi. Masih segar dalam ingatan terkait ditutupnya lokalisasi Dolli di Surabaya dan hotel Alexis yang digunakan sebagai tempat prostitusi. Betapa menunjukkan tempat-tempat maksiat tersebut telah menjamur di negeri ini. Mulai dari kalangan bawah hingga artis, mulai dari tarif ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah.


Ironisnya, para pelaku prostitusi tersebut juga banyak dari kalangan masyarakat yang beragama Islam. Bak fenomena gunung es tentu pelaku prostitusi yang tidak terkuak lebih besar daripada jumlah pelaku zina dan prostitusi yang telah terkuak. Kenapa aktivitas zina dan prostitusi semakin merajalela di negeri ini? Ini akibat negara yang mengabaikan aturan Islam dan justru menerapkan aturan buatan manusia yakni kapitalisme yang melahirkan berbagai turunannya yang merusak tatanan hidup masyarakat seperti sekulerisme, demokrasi, liberalisme, permisivisme dan paham-paham yang semua itu bukan berasal dari Allah sang pencipta.

Dalam Islam sudah jelas tentang larangan melakukan zina, seperti dalam firman Allah : “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 32)

Namun sayangnya, di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini tidak menerapkan aturan Islam. Tidak ada hukuman rajam dan jilid bagi pelaku zina, justru artis-artis pelaku prostitusi online dibebaskan dari pidana karna dianggap sebagai korban bukan pelaku. Padahal prostitusi ini tidak akan terjadi juga tanpa adanya mereka. Sungguh ketika zina ini dibiarkan merajalela sama saja dengan mengundang azab Allah. Naudzubillahimindzalik!

Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri “ (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani)

Siklus prostitusi yang berawal dari gaya hidup bebas, pakaian yang bebas, interaksi pria wanita tanpa batas, perilaku hedonis sehingga menjadikan prostitusi sebagai pilihan pekerjaan yang mudah dengan bayaran yang menggiurkan. Maka sudah seharusnya negara memutus siklus prostitusi ini dengan menerapkan Islam secara kaffah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah yakni melalui institusi negara Khilafah.

Negara Islam (Khilafah) akan senantiasa mengedukasi masyarakat untuk menguatkan dan menjaga akidahnya. Kholifah (pemimpin negara) juga senantiasa menghidupkan suasana masyarakat Islam, syiar-syiar Islam akan ditegakkan. Di samping itu pula akan menegakkan syariah Islam dan menegakkan keadilan dengan seadil-adilnya. Semua di bangun atas dasar ketakwaan, keinginan meraih ridha dan surga-Nya serta takut akan azab dan murka Allah.[MO/sr]

Posting Komentar