Oleh: Sari Ningsih, SE

Mediaoposisi.com-Menjelang pemilu, tiba-tiba Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di Dunia. Praktek rente gila-gilaan seperti ini berkontribusi memperburuk defisit perdagangan," ujar FaisalBasri seperti dikutip dari cuitan di Twitter-nya @FaisalBasri, Selasa, 8 Januari 2019. Demikian Ekonom UI Faisal Basri mengkritik besarnya impor gula yang dilakukan dalam 2 tahun ini.

Selain besarnya volume impor gula, Faisal Basri menyoroti tingginya harga gula di tingkat eceran (bisnis.tempo.co, 10/1/2019). Bagaimana tidak, Indonesia telah mengimpor gula hingga 4,45 juta ton, volume impor gula ini tertinggi di banding Cina 4,2 juta ton dan Amerika Serikat 3,11 juta ton.

Selain tingginya volume impor gula, pemerintah begitu seringnya mengimpor bahan pangan lain, seperti jagung, beras, garam, dan beberapa komoditas strategis lainnya. Hal yang ironis dilakukan pada negeri yang kaya sumber daya alam, gemah ripah loh jinawi. 

Begitulah semboyan yang dulu sering kita dengar akan kemakmuran dan suburnya tanah Indonesia.

Masih segar dalam ingatan kita bahwa salah satu janji Jokowi-JK pada kampanye 2014 lalu, dimana dia berjanji "akan mensejahterakan para petani lokal".

Nyatanya, janji tersebut hanya isapan jempol semata yang hanya menghibur para petani tanpa ada realisasi. Keberpihakan pemerintah saat ini begitu nyata pada pengusaha berkantong tebal yang mematikan bisnis para petani lokal.

Gempuran bahan pangan impor yang terus masuk ke dalam negeri, telah membuat petani seolah minim harapan untuk bisa menjajakan hasil pangannya di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Petani lokal dibuat tak berdaya dan krisis serta minim solusi atas setiap kebijakan pemerintah dalam mengimpor bahan pangan dan lainnya.

Pemerintah saat ini tidak memiliki kedaulatan pangan yang baik, dalam hal ini pemerintah terus menggantungkan pangan pada impor. Kebijakan yang dikeluarkan cenderung Neoliberal, yang tidak memihak pada rakyat kalangan bawah.

Demikian sejatinya sistem ekonomi kapitalis, telah membuat jurang pemisah antara pemimpin dengan rakyatnya. Benarlah slogan yang sering kita dengar "yang kaya semakin di buat kaya, semantara yang miskin semakin sengsara”.

Prof. Sadono Sukirno mengatakan bahwa dalam sistem ekonomi kapitalis alat ukur keberhasilan ekonomi suatu negara adalah kesimbangan penawaran agregat dan permintaan agregat.

Penawaran agregat merupakan penghasilan total barang dalam suatu negara, sedangkan permintaan agregat adalah banyaknya permintaan barang di suatu negara. Jika besarnya penawaran agregat sama dengan permintaan agregat berarti ekonomi normal.

Demikianlah negara pemuja sistem ekonomi kapitalis, mengukur keberhasilan ekonomi dari permintaan dan penawaran yang cenderung semu. Yang terpenting bagi mereka sudah memenuhi keinginan pasar, tanpa melihat apakah kebijakan mengimpor bahan pangan berdampak merugikan rakyat atau tidak, mereka tidak peduli.

Maka kebijakan impor bahan pangan besar-besaran dirasa pemerintah tidak masalah. Disinilah sumber masalah terjadi, dimana rasa keadilan dan kesejahteraan tidak diterima petani lokal.

Petani lokal dibuat sengsara secara sistemik atas kebijakan pemerintah yang Neo liberal. Hasil pertanian mereka tidak di hargai untuk bisa dikonsumsi oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri.

Tentu kebijakan Neoliberal ini harus segera di hentikan. Islam memiliki solusi yang dapat menjamin pada tiap rakyatnya agar tercipta rasa keadilan dan kesejahteraan yang merata. Negara dalam hal ini harus memiliki visi dan misi yang jelas, independen dan berdaulat yang tidak bisa didikte oleh negara lain dalam setiap kebijakannya.

Harus dipahami oleh pemerintah bahwa peran mereka adalah sebagai pelayan rakyat yang mengurusi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, bukan sebagai pebisnis yang hanya memakmurkan diri mereka, juga aseng, dan asing.

Dalam hal ini sistem ekonomi yang dijalankan haruslah sistem ekonomi yang adil dan tidak pro terhadap para kapitalis. Sistem yang berkeadilan hanya ada dalam sistem ekonomi Islam.

Dalam Islam, setiap kebijakannya akan bertumpu pada rasa keadilan bagi rakyat dan pemerataan distribusi kekayaan yang akan menjamin keadilan dan kehidupan mereka. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al- Hasyr ayat 7, yang artinya: "Agar harta tidak hanya beredar diantara orang kaya saja diantara kalian."[MO/ad]

Posting Komentar