Oleh: Nabila Naili Fadel S.ST

Mediaoposisi.com- Tahun 2018 sudah terlewati, serangkaian kejadian yang terjadi telah menyisakan kenangan menyedihkan. Pada 5 Agustus gempa berkekuatan 6,9 menghantam pulau Lombok. Gempa ini menelan 468 korban jiwa, belum reda duka Lombok akibat gempa.

Muncul duka baru yaitu gempa bumi dengan kekuatan 7,7 dan tsunami setinggi 1,5-3 meter di Donggala-Palu, dan meratakan seluruh kota. Belum berakhir duka Palu yang membuat pilu, kini muncul tsunami yang menerjang Banten dan Lampung  (22/12) yang menelan banyak korban antara lain yaitu 222 korban meninggal dunia, 843 luka-luka dan 28 orang hilang (BNPB, 23/12).

Tidak hanya korban jiwa namun mengakibatkan ratusan bangunan rumah dan perahu rusak. Tsunami di Banten seolah-olah menjadi bencana penutup akhir tahun 2018 dari rentetan bencana yang melanda negeri ini.

Secara umum musibah/bencana ada 2 macam antara lain yaitu:
Pertama : musibah/bencana karena faktor alam yang merupakan bagian dari sunnatullah atau merupakan qadha’(ketentuan) dari Allah SWT  yang tak mungkin ditolak. Misalnya musibah gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dll. 

Kedua : musibah/bencana yang merupakan akibat dari berbagai kemaksiatan manusia dan pelanggaran mereka terhadap syariah ALLAH SWT. Misalnya musibah banjir karena banyaknya manusia yang melakukan kemaksiatan dan pelanggaran. Salah satunya menggunduli hutan secara liat tanpa ada pemeliharaan. Contoh lain adalah musibah kemiskinan yang menimpa bangsa ini yang kaya akan sumber daya alam.

Kemiskinan di negeri ini disebabkan oleh rezim yang dzolim yang menyerahkan sebagian besar kekayaan alam milik rakyat kepada pihak swasta dan asing. Kekayaan alam yang melimpah ini tak dinikmati oleh rakyat. Kemiskinan di negeri ini juga disebabkann karena negeri ini terjerat hutang ribawi. Akibatnya pendapatan negara yang seharusnya digunakan untuk mengatasi kemiskinan, terpakai untuk membayar hutang ribawi beserta bunganya.

Tidak hanya musibah/ bencana dibidang sosial dan ekonomi saja namun dibidang moral pun terjadi seperti maraknya perzinaan, LGBT, dll. Hal ini mampu memunculkan musibah/ bencana lain berupa penyakit yang sulit diobati, diantaranya HIV/AIDS. Maraknya riba yang pelaku utamanya adalah Negara, dan zina yang juga dibiarkan oleh negara, boleh jadi menjadi penyebab datangnya azab Allah SWT atas negeri ini.

Musibah/bencana jenis yang kedua sebenarnya bisa dihentikan, bahkan bisa dicegah,dengan cara antara lain: Pertama dengan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap pelaku kemaksiatan atau kedzaliman. Kedua, menerapkan hukuman yang tegas terhadap pelaku kejahatan dan kedzaliman tersebut.

Dari serangkaian peristiwa musibah/bencana yang terjadi pada tahun 2018, seharusnya mampu menjadikan pelajaran untuk senatiasa introspeksi negeri ini untuk menjadi negeri yang senantiasa  bertakwa kepada ALLAH SWT. Tentu takwa yang sebenar-benarnyayaitu mengikuti seluruh petunjuk ALLAH SWT di dalam Al-Qur’an.

Karena Al-Qur’an merupakan sumber keberkahan hidup, maka hanya dengan mengikuti Al-Qur’an saja keberkahan hidup ini bisa dirasakan. Sudah saatnya kita harus berubah, dengan cara meninggalkan semua hukum jahiliyah yang telah terbukti menghasilkan banyak ragam musibah dan menegakkan syariah Islam secara kaffah dengan seluruh aspek kehidupan. Hal ini hanya mungkin terwujud dalam institusi Khilafah ala minhajin an-nubuwwah. Wa’allahu ‘alam bi showab[MO/sr]

Posting Komentar