Oleh: Naila Rahma Firdausi

Mediaoposisi.com- " Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauhul Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah " (QS. Al-Hadid: 22)

Setiap apa yang menimpa manusia itu sudah merupakan kehendak Allah. Semua peristiwa dalam kehidupan manusia tak akan terjadi kecuali Allah sudah menetapkannya. Begitupun setiap ujian yang menghampiri manusia, baik yang berupa kesenangan maupun kesusahan, Allah yang memberinya. Tak ada yang sulit bagiNya untuk menjadikan sesuatu itu terjadi. Hal yang nampaknya sulit dan berat dalam penglihatan manusia, namun bagi Allah sangatlah mudah menjadikannya. Ibarat membalikkan telapak tangan. Jika Allah sudah berkehendak, tak ada yang dapat mencegahnya.

Tidak ada satu hal pun yang terjadi di muka bumi ini berjalan dengan sendirinya. Semua sudah ada yang mengatur. Hal yang sederhana maupun yang rumit, peristiwa kecil maupun maha dahsyat, semua berlangsung sesuai pengaturanNya. Kelahiran dan kematian, kebahagiaan dan kesedihan, kesenangan dan kesusahan, kemudahan dan kesulitan, kedatangan maupun kepergian, ada menjadi tiada, semua terjadi menurut kehendakNya.

Tidak ada satu peristiwa atau kejadian yang terjadi dengan sendirinya, tanpa arah, tanpa maksud maupun tanpa sebab. Ada yang menggerakkan, ada yang mengatur. Allah lah yang membuatnya berjalan menurut skenario yang teratur dan sempurna. Allah yang berkuasa atas seluruh makhlukNya.

Begitu pula dengan setiap bencana atau musibah yang menimpa manusia. Gempa bumi, tsunami, tanah longsor, gunung meletus, badai topan dan bencana alam lainnya, semua sudah menjadi kehendakNya. Tak ada yang bisa mengelak ketika Allah sudah menurunkan semua itu. Meski kita sembunyi di tempat teraman sekalipun. Yang bisa manusia lakukan adalah menerima setiap ujian yang datang dengan ikhlas dan sabar. Mengharap pertolongan dariNya selalu.

Dan yakin bahwa Allah tak akan memberi ujian melebihi kadar kemampuan hambaNya. Allah Maha Tahu apa yang tak diketahui makhlukNya. Dia tahu yang terbaik bagi hambaNya. Jika ujian menghampiri maka inilah yang terbaik baginya. Tetap yakin kepada segala pemberianNya, meski mungkin saat ini nampak buruk. Pasti ada kebaikan di setiap ujian yang menghampiri. Tawakal dan terus mendekatkan diri kepadaNya. Berdoa senantiasa supaya diberi kekuatan dan kemudahan dalam melewati setiap ujian. Berharap ujian ini bisa mengurangi dosa-dosa. Berharap agar setelah ujian terlampaui bisa menjadi manusia yang lebih baik.

Berprasangka baik kepada Allah akan membuat beratnya ujian hidup menjadi lebih ringan dan membantu mengembalikan semangat untuk menjadi lebih baik. Karena sesungguhnya mukmin sejati itu sangat menakjubkan, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW berikut,

Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Setiap manusia pasti akan mengalami ujian, kecil maupun besar. Musibah atau bencana alam adalah ujian yang yang bisa diambil hikmahnya. Ada pelajaran yang bisa dipetik darinya. Juga merupakan bentuk ujian keimanan. Untuk melihat seberapa besar keimanan kepada Allah. Untuk menguji keistiqomahan diri kepada jalanNya.

Manusia hendaknya menjadikan setiap ujian tersebut sebagai momen untuk merenung, introspeksi diri atas segala yang telah dilakukan. Mengkoreksi segala kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Apakah segala aktivitas yang dilakukan sudah sesuai dengan aturan Allah, atau malah justru jauh melenceng.

Bisa jadi karena terlampau banyak kemaksiatan yang terjadi di negeri ini. Banyaknya manusia yang melanggar aturanNya. Pemimpin yang tidak amanah, yang tidak mau menerapkan aturan Sang Pencipta. Banyaknya kesyirikan yang berlangsung bahkan dilestarikan di tengah masyarakat. Manusia-manusia sombong yang berani menolak dan menantang syariatNya.

Para ulama su’ yang menyesatkan umat dengan mencari-cari dalil untuk membenarkan kesalahan penguasa zalim. Semua itu patut dijadikan penyebab kerusakan yang terjadi di negeri ini. Sehingga Allah turunkan bencana, sebagai peringatan bagi manusia. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Ar Rum ayat 41:

" Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali [ke jalan yang benar] "

Dengan ujian ini Allah mengingatkan setiap manusia untuk kembali ke jalanNya. Sekaligus juga memberi kesempatan manusia untuk bertaubat sepenuhnya. Kembali untuk menjalankan apa yang menjadi perintahNya. Meninggalkan segala laranganNya. Menerapkan aturanNya secara menyeluruh dalam kehidupan.

Membersihkan aqidah dari segala yang mengotori. Menghilangkan segala pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Hanya menyembah kepadaNya. Bukan menghamba kepada materi atau makhlukNya. Karena hanya Allah yang berhak disembah dan sebaik-baik tempat bergantung.

Manusia sesungguhnya sangatlah lemah, kecil dan terbatas. Tak punya kekuatan apa-apa di hadapan Allah. Tak pantas bagi manusia untuk bersombong diri. Berjalan dengan angkuh di muka bumi seakan-akan sebagai pemilik segala kekuasaan dan kekayaan. Sejatinya apa yang dimiliki manusia, semuanya berasal dari satu zat Yang Maha Agung, Allah SWT.

Mudah bagi Allah mengambilnya kembali dari siapapun yang dikehendakiNya. Harta, tahta, keluarga, kehormatan dan kebanggaan adalah pemberian dari Allah. Manusia hanya dititipi sementara sampai tiba saat Allah mengambilnya kembali. Dengan cara apapun menurut kehendakNya. Bisa saja dengan cara yang nampak sederhana dan remeh, namun bisa juga dengan cara yang luar biasa jauh dari jangkauan manusia. Melalui bencana alam yang tak sanggup manusia untuk menghindarinya. Lalu, apa yang mau disombongkan? Kita, manusia sejatinya tak punya apa-apa. Tak juga berkuasa atas apa pun. Tak mampu menandingi kekuatanNya.

Karena itulah manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah makhluk Allah yang lemah. Sebagai makhluk maka harus tunduk pada segala aturanNya. Mengikuti segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Tidak pilih-pilih aturan yang mudah atau yang mendatangkan materi dan keuntungan bagi diri saja yang dijalankan. Tidak demikian. Namun semuanya yang sudah menjadi aturanNya, apa yang menjadi syariatNya, apa yang menjadi ketetapanNya, harus diterima dan dilaksanakan.
Taati syariat tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa pilih-pilih.

Karena dalam setiap aturanNya, hanya ada kebaikan bagi manusia dan seluruh alam semesta. Aturan yang menghindarkan manusia dari segala kerusakan dunia dan akhirat. Musibah yang terjadi sudah ketetapan Allah, tak bisa dielak atau dihindari. Jadikan ini sebagai titik balik untuk muhasabah diri pribadi maupun secara nasional untuk mulai berbenah ke arah yang benar sesuai syariatNya.

Terlebih bagi para penguasa yang menerapkan aturan dan mengatur urusan masyarakat. Hendaknya meninggalkan sistem kufur yang tidak sesuai dengan syariatNya. Tinggalkan semua aturan rusak buatan manusia.

Karena sudah terbukti gagal dan tidak membawa kebaikan. Malahan aturan manusia itu hanya membuat kekacauan dan kerusakan di muka bumi. Saatnyalah sekarang untuk berbenah menuju perubahan yang hakiki sesuai aturanNya. Beralih kepada sistem sejati yang bersumber dari Sang Maha Benar, syariat Islam yang mulia. Terapkan syariatNya secara kaffah tanpa ada embel-embel apapun.[MO/sr]



Posting Komentar