Oleh: Mira Susanti 
(Aliansi Penulis Perempuan Untuk Generasi)

Mediaoposisi.com- Musibah datang silih berganti tanpa henti menyapa negeri ini, Tanah longsor,gempa bumi ,Banjir dan tsunami menerjang tanpa permisi. Tangis pilu serta duka yang mendalam menjadi akhir dari semua itu . Apakah gerangan yang terjadi pada bumi ini? ,masihkah kita berpikir bahwa ini hanya sekedar fenomena alam semata atau adakah hubungannya dengan prilaku hamba yang semakin jauh dari peringatanNya?.

Allah Swt berfirman: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."(QS. Ar-Rum 30: Ayat 41).

Setiap perkara yang terjadi tentu berkaitan erat dengan hubungan sebab dan akibat. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api,begitu juga sebaliknya tidak mungkin ada azab kalau tidak ada maksiat dalam diri. Baik maksiat yang dilakukan oleh diri sendiri maupun oleh penguasa saat ini.

Secara terang-terangan mencampakkan aturan syariat Allah (Alqur'an dan Assunah) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ayat ini seolah menampar kita sebagai hambaNya yang telah banyak berbuat dosa dan abai terhadap perintah serta laranganNya  diatas bumi ini.

Hamba yang Lemah
Bagi seorang yang meyakini bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Allah SWT,sudah semestinya ia menyadari bahwa tidak ada satupun yang luput dari pengaturanNya. Kapan dan dimana musibah itu akan terjadi merupakan hak pencipta alam semesta ini. Sementara tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui.

Meskipun ketinggian ilmu pengetahuan serta kecanggihan alat teknologi berbagai rupa  untuk mendeteksi dini tanda-tanda terjadinya bencana tidak akan mampu melampaui kehendak yang Maha Kuasa. Layaknya peristiwa kematian yang menimpa manusia yang tak bisa diprediksi oleh akal manusia,meskipun ia telah berupaya kuat menjaga kesehatan dirinya. Namun ajal tidak melihat sehat,kuat,lemah,kaya atau miskinnya seseorang tapi ajal perkara yang pasti terjadi.

Allah SWT berfirman:

"Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, Ini dari sisi Allah, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan, Ini dari engkau (Muhammad). Katakanlah, Semuanya (datang) dari sisi Allah. Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?" (QS. An-Nisa' 4: Ayat 78).

Oleh sebab itu setiap peristiwa bencana atau musibah yang menimpa negeri ini merupakan teguran keras bagi jiwa-jiwa yang berpaling dari peringatanNya. Sejauh mana keyakinan dan kecintaan kita kepada Allah dapat dilihat bagaimana sikap kita dalam menghadap musibah itu sendiri.Musibah bagian dari ujian keimanan apabila seorang mukmin ridha atas kehendakNya dan mampu bersabar maka baginya ada pahala yang besar. Menjadi wasilah (sarana) penghapus dosa-dosanya.

Mendekat untuk Taat
Tak ada pilihan lain bagi negeri ini untuk bersegera bertobat kepada Allah dengan sebenar-benar tobat. Menundukkan segala kelemahan diri sebagai hamba di hadapan pencipta  yang maha kuat. Menyadari tidak ada aturan yang maha hebat selain syariatNya . Menjadikan kewajiban untuk menerapkan syariat Islam  dalam seluruh aspek kehidupan  secara Kaffah. Sementara mengabaikannya merupakan dosa besar yang dapat mengundang kedhasyatan kemurkaanNya.

Sungguh Allah telah menjanjikan keberkahan yang melimpah baik dari bumi dan langit tanpa terkira.
Firman Allah SWT:"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."(QS. Al-A'raf 7: Ayat 96).

Sungguh beruntunglah negeri ini mendapatkan berkah yang tak terhingga dari Allah SWT. Asalkan  mampu memenuhi seruanNya untuk bersegera mendekat erat untuk taat pada syariat. Jangan sampai teguran yang Allah sampaikan pada Alam ini menjadikan kita lengah dan semakin jauh dari Nya. Jikalau kita sebagai hambaNya sungguh-sungguh mencintai Allah dan RasulNya maka buktikanlah dengan sami'na wa 'atha'na pada alqur'an dan sunnah Rasulullah.[MO/sr]




Posting Komentar