Oleh : Nevi tri Wahyuni
(Mahasiswi aktivis Islam) 

Mediaoposisi.com- Perayaan tahun baru adalah moment  bak yg sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia pada umumnya.
Kehidupan yg sekuleristik sepaket dgn gaya hiduup hedonis yg membaur dengan sisi kehidupan masyarakat, menjadikan perayaan tahun baru menjadi syarat sakral yg bersifat wajib adanya .

Demikianlah yg berlaku pada masyarakat Indonesia yg memposisikan diri Sbg mayoritas penduduk muslim, tapi nilai-nilai kehidupan masih jauh dari kendali aturan Islam.

Moment perayaan tahun baru tidak bisa dianggap sepele, tidak bisa hanya  dipandang sebatas  dengan huru hara kembang api,suara petasan dan membunyikan terompet, tetapi lebih dari pada itu, pesta perayaan tahun baru ini ternyata selalu tidak luput dari perayaan pesta seks.

Salah satu mini market di hotel bintang empat kawasan Gatot Subroto , Jakarta, contoh nya, minimarket ini selalu menambah stok penjualan  kondom dengan berbagai merek di saat perayaan malam tahun baru. Tak hanya kondom, jelly juga disiapkan. Kondom dan jelly ini ditempatkan di depan kasir sehingga menarik perhatian pembeli.

Dari kesaksian para penjaga kasir, pembeli nya terdiri dari berbagai kalangan, ada yg dari kalangan anak remaja,juga orang dewasa.

Selain pesta seks, perbuatan menyimpang lain yg menjadi rutinitas di malam pergantian tahun baru adalah pesta miras dan narkotika.

Dikutip dari TEMPO.CO, Bogor - Sekitar 22.890 botol miras berbagai jenis dan ratusan ribu petasan dimusnahkan jajaran aparat kepolisian Polres Bogor.

Selain alkohol, Kepala Polres Bogor, Ajun Komisaris Besar Andy M Dicky juga  mengatakan, angka penyalahgunaan narkotika di Kabupaten Bogor pun tak luput   dari angka meningkat meningkat. Berdasarkan hasil pengungkapan kasus hingga bulan Desember 2018, pihaknya berhasil mengungkap 226 kasus dengan total tersangka 362 orang.

Bahkan bisa dipastikan Data ini akan terus meningkat mengingat semakin marak nya tindak kriminal dan angka pergaulan bebas yg belum juga menunjukkan angka penurunan secara signifikan.

Itu kenapa Islam sangat memperhatikan batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan dengan batas seminimal mungkin dalam ranah tanpa udzur syar'i.

Meski dari sebagian kalangan terutama para pengusung ide feminisme dan pemuja hedonisme, batasan dalam Islam dianggap sebagai diktatorisasi atas hak dan kebebasan,faktanya kebebasan dalam kacamata mereka tak mampu memberi jaminan kebaikan dalam kehidupan.

Ini juga salah satu bagian dari propaganda barat ,selain menanamkan nilai2 dan pemikiran barat, yg mana dalam hal ini, generasi muslim yg menjadi target atau sasaran utama nya, juga bagian dari aksi untuk melancarkan serangan pemikiran yang selama ini terus berlangsung bahkan menjadi semakin masif , yg tentu nya akan berimbas pada rusak nya nilai moral dan akidah generasi muslim agar semakin jauh nilai-nilai Islam.[MO/sr]

Posting Komentar