Oleh: Chusnatul Jannah  
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com- Menjelang habisnya masa jabatan, rezim Jokowi masih menyisakan persoalan pelik yang belum terurai. Bahkan rezim ini menambah masalah dengan tumpukan utang dan berbagai persoalan yang terjadi sepanjang 4 tahun kepemimpinannya.

Mulai dari kasus korupsi, kriminalisasi, persekusi, impor tinggi hingga lontaran tak mumpuni dari para menteri makin menunjukkan bahwa rezim ini telah gagal sebagai pelayan dan pengurus rakyat. Diantara permasalahan yang menjadi rapor merah Jokowi adalah:

Pertama, impor pangan. Kebijakan ini sangat menyita perhatian publik. Sebab, antara kementerian terkait tak memiliki data akurat tentang stok pangan nasional. Justru mereka saling silang pendapat. Di kala petani sedang bergembira memetik hasil panen, pemerintah justru menyiram luka dengan jor-joran impor pangan sejak awal memimpin. Tercatat, impor pangan dari komoditi beras, kedelai, cabai, gula, garam, gandum, singkok, dan terakhir jagung semuanya terjadi di era Jokowi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor beras Bulog hingga Juni 2018 telah mencapai 865.519 ton dengan nilai impor sebesar US$ 404,92 juta. Impor pangan justru menghancurkan para petani yang tengah memanen. Akibatnya, petani mengalami kerugian. Sebab, harga impor pangan lebih murah dibandingkan produksi panen petani lokal. Inikah yang dikatakan memihak kepentingan rakyat?

Kedua, proyek infrastruktur. Pembangunan berbagai proyek stretegis semacam tol, bandara, pelabuhan, dan lainnya dianggap sebagai indikator keberhasilan rezim Jokowi dalam pembangunan. Terdapat 34 proyek strategis yang telah dirampungkan  Jokowi. Tahun 2016 meliputi 7 bandara, 1 jalan tol, 6 bendungan, 1 pelabuhan, 4 PLBN, dan 1 proyek pipa gas. Tahun 2017 meliputi 1 bandara, 2 jalan tol, 1 bendungan, 3 jalan akses, 1 blok migas, 3 PLBN, dan 1 proyek irigasi. Tahun 2018 meliputi 1 proyek kereta api, 1 bendungan raknamo, dan terakhir tersambungnya tol Trans Jawa.
Nilai investasi dari proyek – proyek tersebut mencapai Rp 4.150 triliun. Dana itu diperoleh  dari Rp 428 triliun dari APBN, Rp 1.273 triliun BUMN/D, dan Rp 2.449 triliun dari swasta. Swasta yang dimaksud tak lain adalah utang luar negeri.

Jepang dan Cina menjadi penyumbang terbesar utang Indonesia. Beginikah yang disebut pembangunan infrastruktur mendorong perekonomian rakyat? Rakyat yang mana? Yang ada justru mendorong utang beserta bunganya yang melambung tinggi. Rakyat tetap gigit jari. Ditambah dengan tarif tol yang mahal. Untuk ruas tol Jakarta – Surabaya saja harus merogoh kocek seharga Rp 660.500.

Ketiga, Janji membuka lapangan kerja. Janji 10 juta lapangan kerja seperti pepesan kosong. Faktanya, PHK masih kerap terjadi. Sepanjang 2017, ada sebanyak 9.822 pegawai terkena PHK. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut total karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam kurun 2015-2018 mencapai hampir 1 juta orang .

Tak hanya menggenjot infrastruktur, pemerintah pun menetapkan tarif pajak pada industri jual-beli online. Tujuannya, menambal defisit anggaran negara. Sebegitu minimkah pendapatan negara? Hingga rakyat dikejar-kejar dengan pajak? Slogan kerja, kerja, kerja tapi bukan untuk rakyat apa gunanya. Malah lebih memihak para konglomerat asing dan aseng.

Menjadi pemimpin itu bisa berbuah berkah dan bencana. Berkah melingkupinya jika ia mampu melaksanakan amanah. Dari Abu Sa’id ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya  di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan  paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi)

Sebaliknya, menjadi bencana bila ia ingkar terhadap janji-janji yang pernah diucapkannya. Sebagaimana sabda Nabi saw, “Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka dari dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah): orang tua yang berzina, Penguasa yang suka berdusta, dan fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim)[MO/sr]


Posting Komentar