Oleh: Nurina Purnama Sari, S.ST 

Mediaoposisi.com- Tidaklah salah jika negeri ini dikatakan darurat LGBT. Karena eksistensi mereka sudah terang-benderang di depan mata.  Fenomena ini rupanya bukan hanya terjadi di kota-kota besar saja, melainkan sudah merambah ke kota kecil seperti Pati.

Kemarin, warga Pati digegerkan dengan terciduknya pasangan gay di dalam mobil  dalam keadaan tak berbusana. Dari mobilnya tercium  bau menyengat. Setelah diperiksa di dalamnya sudah penuh dengan kotoran manusia.  Diduga pasangan ini pun sedang di bawah kendali narkoba. 

Bisa Anda bayangkan, perilaku abnormal menyimpang bertemu dengan dengan bayang-bayang narkoba. Hasilnya adalah kerusakan mental sejadi-jadinya. Itulah yang kita dapati dari viralnya berita dua pasangan gay di Pati kemarin. Di mana khalayak disajikan perilaku yang menyerupai binatang, bahkan lebih rendah daripada itu.

Tentu masalah LGBT ini sebenarnya cukup meresahkan. Jika kita perhatikan, penyebaran kaum LGBT secara sporadis jumlahnya makin meningkat dari tahun ke tahun  tak lain karena adanya pemakluman dari sejumlah kalangan akan perilaku kaum LGBT. Peningkatan itu juga  terjadi karena mereka lebih membuka diri atau _coming out_ (mengaku). Mereka merasa berani mengaku karena gaya hidup mereka menjadi pilihan dan tidak mengganggu orang lain. Bahkan, mereka keluar secara berkelompok dan menunjukan status mereka ke publik.

Menurut  data Kemenkes tahun 2012, untuk prediksi data di permukaan saja, jumlah gay itu ada 3 persen penduduk Indonesia. Itu baru prediksi ya, belum lagi yang tidak ketahuan. Menurut proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia tahun 2018 adalah sebanyak 265 juta jiwa lebih. Itu artinya, hampir 8 juta penduduk Indonesia adalah gay. Itu baru kaum homeseksualnya saja. Belum ditambah jumlah lesbian dan transgender. Luar biasa.

Di negara-negara yang melegalkan LGBT mulai merasakan dampak negatif yang ditimbulkan. Tak heran, meningkatnya jumlah LGBT  seiring dengan peningkatan jumlah penderita HIV-AIDS di komunitas tersebut. Kelompok gay-MSM (male sex male) 60 kali lipat lebih mudah tertular HIV-AIDS karena penularan yang paling mudah melalui dubur.

Selain HIV-AIDS, ada penyakit lain akibat LGBT yang tak kalah berbahayanya seperti, sarkoma kaposi, sebuah penyakit baru yang belum ada penawarnya. Sarkoma kaposi adalah kanker yang menyebabkan sebagian kecil jaringan abnormal tumbuh di bawah kulit, di sepanjang mulut, hidung  dan tenggorokan atau di dalam organ tubuh lainnya. Itu dampak yang ditimbulkan dari segi kesehatan. Belum lagi dampak secara psikologis dan sosial kemasyarakatan yang uraiannya akan jauh lebih panjang.

Diakui atau tidak, kaum LGBT itu punya kecenderungan fetish  yang aneh. Mereka bisa nekat melakukan apa saja demi memenuhi hasrat dan nafsu seksualnya. Mereka menjadikan HAM (hak asasi manusia) sebagai tameng untuk membenarkan segala tindak tanduk mereka, dengan anggapan bahwa pemenuhan seksual apapun orientasinya adalah hak asasi manusia bagi mereka dan perlu untuk dilindungi.

Ketika kita berbicara tentang HAM, sejatinya tidak lepas dari hukum dan falsafah suatu negara. Di Indonesia , sangat jelas pertentanganya dengan Pancasila pada sila ke-1 yang menyatakan tentang “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Tidak ada satu pun agama di NKRI ini yang memperbolehkan hal itu. Dengan demikian, sangat tidak layak perilaku kaum LGBT untuk dibenarkan, terutama di negeri yang azas dasarnya berketuhanan yang Maha Esa.

Belum lagi ketika berbicara tentang Indonesia sebagai negara yang mayoritas umat Islam. Al-Qur’an sudah jauh-jauh hari melaknat perilaku LGBT ini bahkan sejak masa Nabi Luth as. Islam sebagai solusi berperikehidupan bagi umat manusia, dari awal sudah memberikan solusinya lewat 3 pilar.

Pertama, membentuk ketaqwaan individu melalui pembinaan-pembinaan yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunah.

Kedua, masyarakat  proaktif dalam perkara  amar ma'ruf nahi mungkar. Artinya ketika melihat maksiat atau penyimpangan yang tidak dibenarkan oleh syariah, maka masyarakat sebagai lingkungan terdekatlah yang turut andil dalam mengamankan wilayahnya.

Sayangnya,  pilar pertama dan kedua itu hanya akan menjadi perkara yang sia-sia belaka jika tidak disempurnakan dengan pilar yang ketiga yakni negara. Peran terbesar dalam memerangi LGBT  ini ada pada pundak negara dan penguasa.

Jika negara yang mayoritas  non Muslim seperti Rusia melalui presidennya Vladimir Putin saja berani dengan tegas mengeluarkan aturan yang melarang total LGBT yakni dengan mengeluarkan UU Anti Gay di Rusia , mengapa Indoensia sebagai negara berketuhanan yang Maha Esa dan didominasi umat Islam, masih saja membiarkan LGBT dan belum mengeluarkan regulasi yang melarang LGBT dengan tegas? Terlebih lagi risikonya mengancam ketahanan  keluarga dan generasi negeri ini.


Siapapun yang kini  duduk di kursi penguasa negeri ini dan  memiliki otoritas untuk  membuat regulasi dan  melindungi ketahanan negara dan generasi, ingatlah kelak Anda  akan  mempertanggungjawabkannya lebih besar di hadapan Allah.

Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya(kepada Allah), maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)[]

Posting Komentar