Oleh: Ani Herlina

Mediaoposisi.com- menuju pilpres 2019 semakin memanas. Setiap calon berlomba menampilkan bahwa dirinya layak menjadi pemimpin negri ini. Aksi blusukan dengan beragam pencitraan untuk meraih simpati rakyatpun dilakukan. Belantara media sosial lebih memanas akibat para pendukung fanatik setiap capres dan cawapres. Merekalah sesungguhnya yang bikin negri ini semakin gaduh. Saling serang dengan hinaan,bullyan, cacian adalah hal yang sudah biasa dipertontonkan di media sosial. Hoaxpun membanjiri belantara medsos, sungguh ini merupakan kontes demokrasi yang sangat jauh dari kata sehat.

Publikpun dibuat gaduh dengan usulan Dewan Ikatan Dai Aceh untuk tes baca Al-qur’an bagi capres dan cawapres. Dan yang paling baik bacaan Al-Qur’annya mungkin yang layak memimpin negri ini. Hal ini mendapatkan banyak komentar dari berbagai tokoh, utamanya mereka yang terlibat langsung dalam eskalasi politik electoral. Seperti yang dikatakan oleh Amien Rais ,menurutnya tes baca Al-Qur’an ,tes yang tidak relevan jika digunakan dalam konteks pemilihan presiden dan wakil presiden.

Saat ini dua kubu sama-sama mengkalim bahwa kubunyalah yang paling Islami. yang satu dipilih ulama dan satunya lagi dukung ulama. Apakah dengan test baca Al-Qur’an ini, ada jaminan yang paling baik bacaannya, lalu terpilih jadi pemimpin di lima tahun mendatang akan mampu mengurus bangsa ini dengan baik? Sementara yang hafal Al-Qur’an saja,banyak perilakunya yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Bahkan mereka bekerjasama dengan kaum fasik dan kafir untuk menghantam Islam.

Dan sungguh tantangan mencari pemimpin islami dan paling islami ini sangat ironis dengan Negara yang menganut system demokrasi yang mengagungkan one man one vote. Karena suara setiap orang sama tanpa membeda-bedakan pintar atau bodoh,kaya atau miskin. Jadi kalau ada usulan mencari calon pemimpin islami dan tidak islami bukan dalam Negara demokrasi.

Selama ini bukankah publik tahu apa yang digaungkan para elit politik, bahwa jangan membawa-bawa agama kedalam politik. Tapi pada kenyataannya agama adalah dagangan yang sangat laku keras menjelang perhelatan kontestasi politik. Dengan paslon pilpres berusaha menampilkan gaya islami dan berusaha mendekati pesantren-pesantren untuk mencari suara yang memiliki dukungan lumayan banyak. Dimana ada pesantren, disana ada ulama yang menjadi panutan masyrakat dan juga ada santri yang siap sami’na wa’athona kepada gurunya.

Sayangnya publik saat ini sudah sangat pintar dalam mencari pemimpin pilihannya. Mereka tak perlu lagi diberi penjelasan panjang lebar tentang siapa yang paling islami atau tidaknya. Jejak yang ditinggalkan sudah bisa memberitahu, berhasil atau tidaknya sebuah kepemimpinan. Begitupun bagi yang terpilih nanti belum tentu bisa memberikan perubahan kearah yang lebih baik. Hutang budi pada penguasa yang sudah menggelontorkan milyaran untuk membiayai pesta demokrasi ini adalah harga yang harus dibayar oleh siapapunpemimpin yang terpilih nantinya.

Jika memilih pemimpin diukur dari kelancarannya membaca Al-Qur’an, anak SD saja sudah mampu diberikan amanah untuk memimpin. Namun persoalannya,tidak hanya sebatas itu. Tugas pemimpin adalah meri’ayah umat. Maju mundurnya umat ini semua ada ditangan pemimpin. Visi-misi membangun bangsa, jika hanya dilakukan sebatas wacana tanpa realisasi yang nyata sangat percuma. Negri ini sangat butuh sosok pemimpin yang negarawan, bertanggung jawab dan jujur merealisasikan semua amanah yang dibebankan rakyat pada pemimpin.

Sudahkah negri ini menemukan calon pemimpin ideal yang akan kepemimpinan dilima tahun mendatang? Jawabanya masih jauh dari harapan. Kapalitas pemimpin hari ini lebih fokus pada kemajuan partainya, belum ada kesungguhan yang kuat untuk membangun bangsa. Jika pola pikirnya hanya partai maka sangat sulit mewujudkan perubahan. Maka kasus—demi kasus sangat sulit untuk dituntaskan. Berbagai macam problematika yang menghadang negri ini, buntu tidak menemukan penyelesaiannya Jika Negara ini ingin menerapkan peraturan islampun,memilih pemimpin yang baik bukan dengan tes baca Al-Qur’an atau jelas visi-misinya. Namun ada beberapa prosedur yang harus diterapkan sebagai uji kelayakan seseorang bisa memimpin Negara.

Syarat-syarat kriteria pemimpin menurut Al-Qur’an yang nantinya akan dipilih masyrakat, yaitu pemimpin harus ada kepercayaan dari masyrakat untuk pemimpinnya, memiliki kejujuran sehingga akan terhindar dari kasus korupsi. Pemimpin juga wajib memiliki ilmu yang luas sehingga mampu memberi solusi dengan cepat disaat ada masalah yang menimpa masyrakatnya. Dan pemimpin harus memiliki integritas,sehingga rakyat akan taat kepadanya,selama pemimpin tersebut tidak bertentangan dengan norma agama.

Dan hari ini, Indonesia mengalami krisis kepemimpinan. Pemimpin yang memiliki figur teladan yang sangat dicintai oleh rakyatnya itu sangat langka. Sehingga rakyatnya sendiri yang mengkritisi pemimpinnya sangat jauh dari etika kesantunan. Dan itu bisa jadi karena kapabilitas pemimpin saat ini masih sangat jauh dari kriteria ideal yang sudah dicontohkan Rasulullah dan generasi sahabat.

Tuntutan masyrakat dalam memilih pemimpin saat ini harusnya mengajukan adakah pemimpin yang siap menerapkan hukum Al-Qur’an. Karena hukum Al-qur’an satu-satu hukum yang mampu membawa negri ini menuju negri yang ‘Baldhatun thoyyibatun wa robbun ghofur’ sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Al A’raaf ayat 96 tentang kunci kemakmuran suatu negri yaitu:

“Jika sekiranya penduduk negri-negri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,tetapi mereka mendustakan ( ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Umat ini sudah sangat lelah diatur oleh hukum buatan manusia. Makasudah saatnya menuntut untuk diterapakan hukum yang berasal dari sang Pencipta yaitu Allah SWT.[MO/dr]

Posting Komentar