Oleh: Rivanti Muslimawaty

Mediaoposisi.com- Saat ini muslimah maupun kaum perempuan terjebak dalam sistem Kapitalis yang merendahkan dan melemahkan fungsi muslimah. Fakta-fakta yang ada menunjukan betapa muslimah saat ini disibukan dengan berbagai aktivitas keduniaan, dari mulai bekerja tak kenal lelah; mencari kedudukan dan jabatan, bahkan nama baik. Muslimah seakan telah kehilangan jati dirinya karena libasan sistem ini.

Kapitalisme telah mengeksploitasi para muslimah dengan menjadikan muslimah sebagai obyek yang mendatangkan keuntungan material, karena makna berdaya diterjemahkan sebagai menghasilkan materi, artinya mendatangkan keuntungan secara ekonomi. Kapitalisme juga menjauhkan muslimah dari fitrahnya sebagai ibu pendidik generasi, yang harusnya mengoptimalkan seluruh kemampuan diri demi mewujudkan generasi yang cemerlang.

Para ibu malah disibukan dengan aktivitas mencari ekonomi demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, padahal kualitas generasi mendatang banyak ditentukan oleh kualitas para ibu muslimah saat ini. Badan Pusat Statistik mencatat dari 50, 89 % perempuan  bekerja pada Agustus 2017 menjadi 51, 88 % pada Agustus 2018 (viva.co.id, 5/11/18).

Akibatnya muslimah menjadi salah satu pihak yang paling merasakan diskriminasi dalam berbagai aspek, baik sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya, baik di tempat kerja, di rumah maupun lingkungan.

Selain itu muslimah juga mengalami penderitaan karena ditimpa kemiskinan, kekerasan dan hal buruk lainnya. Sejumlah organisasi yang tergabung dalam Parade Juang Perempuan mengeluhkan masih adanya diskriminasi terhadap perempuan Indonesia. Di samping itu, PRT belum meiliki perlindungan hukum untuk mengatasi kerentanannya dari tindakan kekerasan, eksploitasi kerja hingga perbudakan modern. Tak hanya itu, perempuan buruh mayoritas bekerja dengan upah standar minimum provinsi maupun kota (RMOL.co, 8/3/18).

Islam memandang seorang muslimah adalah manusia yang memiliki akal, kebutuhan hidup (hajat ‘udlawiyah) seperti makan atau minum serta naluri (gharizah) yaitu gharizah tadayun (naluri beragama), gharizah na’u (naluri mempertahankan keturunan) dan gharizah baqo (naluri mempertahankan diri). Muslimah juga memiliki kedudukan yang sejajar dengan lelaki, tidak dipandang lebih rendah. Di samping itu muslimah memiliki peran sebagai hamba Allah, anggota keluarga dan anggota masyarakat.

Muslimah yang berdaya dalam kaca mata Islam adalah yang menjalani peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa roobatul bayt), madrasatul ula (pendidik generasi), penyebar risalah (hamlud da’wah) dan pemberi manfaat yang besar bagi masyarakat.

Bila kita berkaca pada para shahabiyah, maka akan kita temukan sosok-sosok muslimah ideal dan berdaya bagi umat, seperti Fathimah az-Zahra (ummu abiiha), Asma binti Abu Bakar (dzaatun nithooqoyn), Sumayyah binti Khayyath (syahidah pertama), Asy-Syifa’ binti ‘Abdullah (guru wanita pertama), Ummu Kultsum binti ‘Ali bin Abu Thalib (bidan muslimah) dan Nasibah binti Ka’ab (bay’at ‘Aqabah ke-2). Mereka adalah muslimah yang cemerlang, yang lahir dari didikan Islam yang paripurna dalam wadah yang bernama Dawlah Islam.

Muslimah merupakan komponen dalam keluarga dan masyarakat yang berperan penting dalam membentuk generasi dan peradaban. Jika muslimah memiliki ilmu dan wawasan yang luas, mereka akan mampu memberikan pengajaran, pendidikan dan pembinaaan yang terbaik bagi anak-anaknya kelak.

Hal ini karena setiap muslimah ibarat madrasah atau tempat belajar yang pertama bagi setiap generasi. Mari kita semua berupaya menjadikan diri kita menjadi muslimah yang dibanggakan karena memiliki kemampuan untuk mempersembahkan yang terbaik bagi umat Islam.[MO/sr]


Posting Komentar