Oleh: Meilani Afifah
(Member Forum Muslimah Peduli Umat)

Mediaoposisi.com- Berita  heboh di awal tahun 2019 datang dari terungkapnya kasus prostitusi yang dilakoni oleh artis berinisial VA. Dengan menjual syahwat yang dibandrol 80 juta rupiah, dan berkedok menjemput rezeki si artis yang terbongkar identitasnya mengakhiri lakonnya dengan meminta maaf dengan secarik kertas. Lantas kemudian pulang, dengan melenggang bebas. Kemudian berita inipun menjadi viral dan wara-wiri di semua laman media massa.

Bahkan bukan hanya VA, dilansir dari tribun-timur.com(selasa/8/1/2019) Kapolda Jawa Timur, Irjen Luki Hermawan mengatakan  tersangka mucikari yang ditangkap mengaku ada 45 nama artis lainnya yang terlibat dalam prostitusi tersebut.

Sungguh miris, bukan kali ini saja berita prostitusi di kalangan artis terungkap. Deretan artis lainnya  juga terlibat prostitusi online pada tahun 2016 lalu, sekaligus dengan daftar tarif yang bikin melongo.

Sebagian artis dengan peran gandanya sebagai penghibur di televisi  sekaligus penghibur syahwat lelaki hidung belang seakan sudah menjadi rahasia umum. tuntutan gaya hidup mereka yang terpengaruh oleh barat yakni hedonis dan pergaulan bebas lantas wajar membuat mereka menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsu syahwat duniawi.

Allah SWT menciptakan pada diri manusia yaitu naluri seksual, bagaimana dia memenuhi naluri seksualnya tergantung pola pemikirannya terhadap kehidupan. Jika saat ini manusia lebih cenderung memuaskan nalurinya dengan melakukan seks bebas maka hal ini wajar.

Mengingat sistem yang digunakan saat ini ialah sistem demokrasi–kapitalisme. Sehingga manusia hari ini menuhankan nafsu syahwatnya, pemuasan naluri dan jasmani sebagai sumber  kebahagiaan. Maka tidaklah heran jika manusia hari ini lebih sesat dan hina daripada seekor binatang ternak.

Demokrasi melahirkan 4 kebebasan, salah satunya adalah kebebasa berperilaku. Dalam hal ini Negara hanya sebagai regulator yang menjamin terpenuhinya kebebasan tersebut. Maka tak heran jika artis si penjual syahwat tersebut tidak bisa dikenai sanksi pidana apapun bahkan hanya di labeli sebagai korban. Tak hanya itu, si pemesan lelaki hidung belangpun juga tidak bisa terjerat hukum karena undang – undang yang ada hanya menjatuhi hukum kepada para penyedia jasa atau mucikari.

Maka jelaslah akar masalah semakin maraknya prostitusi dan perzinahan baik dari kalangan artis maupun masyarakat umum adalah karena diterapkannya sistem demokrasi kapitalisme. Dimana, sistem ini menjadikan akal manusia sebagai satu-satunya sumber berpikir dan membuat hukum. Maka solusi satu–satunya adalah kembali kepada sistem Islam yang menjadikan Alqur’an dan hadist sebagai sumber aturan hukum, sedangkan akal sebagai manath berpikir.

Padahal berbagai bencana yang terjadi di Indonesia di tahun lalu harusnya menjadi muhasabah dan introspeksi untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik dengan kembali kepada hukum Allah SWT. Dalam hadist dikatakan :

Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri” (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Allah SWT menciptakan naluri seksual pada manusia tidak lain hanya untuk satu tujuan yaitu untuk melestarikan keturunan manusia. Dan Islam sebagai agama dan sistem kehidupan yang lengkap tidak menyerahkan begitu saja kepada manusia untuk mengatur sendiri pemuasan naluri tersebut. Seperangkat aturan lengkap sudah dipersiapkan oleh Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan Sang Pengatur kehidupan agar diterapkan oleh manusia.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S an-Nisa: 1)[MO/sr]


Posting Komentar