Oleh: Tety Kurniawati 
(Komunitas Penulis Bela Islam) 

Mediaoposisi.com-  Ikatan Dai Aceh mengundang dua kandidat calon Presiden RI untuk uji baca Al Quran. Salah satu alasannya karena dua Capres sama sama beragama Islam dan penting bagi umat Islam untuk tahu kualitas calon presidennya. ( Tribunnews.com 30/12/18)

Menanggapi hal tersebut, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai tes baca tulis Alquran tak perlu dilakukan oleh kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Menurut BPN, yang lebih penting ialah pengamalan nilai kitab suci dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. ( okezone.com 30/12/18)

Sementara Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Hajriyanto Thohari angkat bicara soal usulan tes mengaji dan tulis Alquran bagi calon presiden dan wakil presiden. Menurutnya syarat dari Komisi Pemilihan Umum sudah cukup, tak perlu ditambah lagi. ( merdeka.com 30/12/18)

Ide tes baca Al Quran untuk capres-cawapres dan respon terhadapnya merupakan salah satu bukti bahwa dalam demokrasi, Al Quran hanyalah alat permainan politik semata. Digunakan untuk memenangi persaingan. Untuk kemudian diabaikan kala dirasa tak sejalan dengan kepentingan.

Sekulerisme-kapitalisme yang menjadi ruh demokrasi. Melahirkan penguasa yang haus akan tahta dan kuasa. Segala cara ditempuhnya. Temasuk memanfaatkan isu agama sebagai pendorong migrasi suara. Alhasil Al Quran hanya jadi jalan menarik simpati mendulang suara. Enggan memahami esensi, apalagi tergerak untuk mengaplikasikannya. Adanya hanya sebagai pemanis politik identitas semata.

Hal tersebut,  sangat bertentangan dengan apa yang Islam tuntunkan dalam memposisikan Al Quran. Ia adalah wahyu Allah sekaligus petunjuk hidup. Wajib bagi penguasa kaum muslimin untuk menerapkannya secara totalitas dalam kehidupan. Sebagai bukti keimanan sekaligus wujud ketaatan.
Sejarah telah mencatat. Bagaimana periode keemasan Islam masa lalu diraih dengan ketundukan manusia terhadap perintah sang penguasa jagat raya. Memposisikan Al Quran sebagai landasan berpikir sekaligus pemecah segala problematika kehidupan manusia.

Maka lahirlah peradaban Abbasiyah yang eksis berabad-abad lamanya. Peradaban Islam Andalusia yang mampu menjadi penebar cahaya keilmuan ke negeri-negeri Eropa yang pada saat itu tengah terkekang kebebasan berpikirnya oleh pengaruh gereja. Disusul kemudian dengan peradaban Ottoman yang kaya akan ilmu pengetahuan hingga mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam. Meliputi Asia, Eropa dan Afrika.

Sudah saatnya bangsa yang terlahir berkat rahmat Allah yang maha esa ini. Memiliki penguasa yang tidak hanya sekedar mampu membaca Al Quran. Tapi juga bersedia menerapkannya  dalam setiap aspek kehidupan bernegara. Meninggalkan aturan kufur yang telah cacat sejak kelahirannya. Karena berasal dari buah pemikiran manusia yang terbatas adanya. Saat itulah, rahmatan lil alamin tak akan menjadi slogan semata. Namun mewujud nyata ditengah-tengah manusia. Wallahu a'lam bish showab [MO/sr]

Posting Komentar