Erin az-Zahroh

Mediaoposisi.com-Setiap tahunnya hampir semua orang di dunia merayakan tahun baru. Menurut yang pernah dilansir oleh English Pravda pada tanggal 29 Desember 2011 lalu, tahun baru adalah suatu "ritual dan simbol" tak tertulis yang disepakati oleh orang seluruh dunia.

Aktivitas seperti menyalakan kembang api, meniup terompet, berkumpul dengan kerabat atau teman selalu mewarnai setiap momen tutup tahun.

Jacqueline Meireles, seorang psikolog menjelaskan, "perayaan tahun baru tersebut menurut beberapa orang sangat penting. Karena di hari itu, orang akan mengakhiri semua hal yang terjadi di tahun sebelumnya dan menyusun sesuatu hal baru di tahun berikutnya."

Meireles juga menambahkan, bahwa permasalahan dan segala hal yang berputar sepanjang tahun sebelumnya harus mendapatkan "update" di tahun berikutnya.

"Oleh karenanya, mereka menandai akhir tahun dengan suatu perayaan meriah dengan tujuan sebagai simbol harapan dan segala hal baru yang akan mereka lakukan," lanjutnya. (merdeka.com)

Bertolak dengan konsep yang disampaikan Meireles, ternyata kini pandangan sikap banyak petinggi daerah cukup mengejutkan.

Mereka menghimbau hingga melarang pelaksanaan perayaan tahun baru. Gubernur Sulawesi Selatan, Gubernur Kalimantan Utara, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Gubernur Gorontalo, Gubernur Maluku Utara, Walikota Palu, Walikota Sungai Penuh, Walikota Surabaya, Bupati Lebak, Bupati Kolaka, Bupati Banggai, Bupati Mesuji, Bupati Pasaman Barat, dan lainnya.

Faktanya memang perayaan tahun menjadi momen terkumpulnya kriminalitas. Pembunuhan, perzinahan, perampokan, dan dan beragam keburukan lain.

Sabtu sore (29/12/2018) lalu saja Polrestabes memamerkan 1.500 botol minuman keras (miras) berbagai merek. Miras ini adalah hasil sitaan selama Operasi Lilin Semeru 2018. Didapatkan dari berbagai penjual di wilayah Surabaya baik itu penjual warung, toko maupun rumahan. Dengan sitaan terbanyak adalah 168 cukrik atau arak.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan mengatakan, penertiban ini sesuai dengan intruksi Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan untuk memerangi miras jelang malam tahun baru. Pihaknya tidak mau tahun baru dijadikan ajang untuk mabuk-mabukkan di Surabaya. Hasilnya ribuan botol miras oplosan, palsu dan tanpa izin edar diamankan polisi. (surabaya.jawapos.com)

Tiap tahun beragam kasus pembunuhan dan pesta narkoba-miras tak pernah absen menghiasi kolom kabar berita tahun baru. Demikian pula dengan tindakan asusila. Seolah telah menjadi ritual wajib, bahwa setelah tahun baru, di lokasi-lokasi wisata pasti berserakan kondom dan celana dalam.

Kenyataan ini menunjukkan, bahwa tahun baru seolah waktunya kebebasan tanpa batas. Namanya juga berpesta, maka layak berhura-hura. Dan norma tidak patut mengikat. Kan hanya semalam saja.

Sehingga pantas bila dikatakan bahwa momen tersebut hanya dijadikan pembenaran saja. Pembenaran bagi masyarakat terhadap perbuatan maksiat.

Selain itu, tentu kurang sesuai bila awal tahun dipandang sebagai lembaran baru dalam kehidupan. Karena roda kehidupan senantiasa berputar. Sementara perputarannya tidak berawal maupun berakhir seiring dengan pergantian tahun.

Maka mengapa harus menunggu akhir tahun untuk mereflesikan apa saja yang telah dicapai? Mengapa pula harus menunggu pergantian tahun baru untuk mengerjakan apa yang butuh diperbaiki?

Pantas untuk dipertanyakan, mengapa setiap tahun masih banyak yang semangat merayakan tahun baru. Padahal tak sedikit individu maupun kelompok yang menggencarkan kampanye menolak. Pun tak sepi pula beranda media memberitakan menjamurnya kriminalitas dan tindak asusila di malam tahun baru.

Posisi sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar juga tak membuat masyarakat menghindar dari kebiasaan ini. Secara nyata, islam memang tak lagi mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Allah seolah hanya pantas mengatur urusan ibadah ritual saja. Sementara untuk aktivitas keseharian, Dia tak perlu ada. Tatanan masyarakat begitu jumawa  dengan cara hidup buatan sendiri.

Jauhnya agama dari kehidupan, membuat banyak kalangan merasa tak ada yang mengawasi saat bermaksiat. Dihiasi pula dengan kealpaan, bahwa usia dapat berakhir setiap saat. Maka tak heran bila keburukan merajalela. Apalagi masih banyak lapisan penguasa yang menfasilitasi rakyat untuk berhura-hura di malam tahun baru.

Bila rutinitas berita buruk tak lagi mampu menjadi pelajaran, maka beragam bencana yang mendera beberapa waktu terakhir ini mestinya lebih dari cukup. Cukup untuk memperkuat tanda, bahwa kemaksiatan di negeri ini sudah terlalu bertumpuk. Sudah saatnya rakyat mencampakkan gaya hidup berdasarkan nafsunya sendiri. Kemudian segera kembali menerapkan petunjuk dari Sang Pencipta di seluruh lini kehidupan.

Jadi, kaum muslimin kini akan lebih baik bila meninggalkan kebiasaan merayakan tahun baru. Selain tidak berfaedah, nyatanya ini juga merupakan ritual agama lain.

Sejatinya tahun baru masehi adalah tanggal keramat bagi kaum pagan. Tanggal 1 Januari menjadi momen mensucikan Dewa Janus mereka. Bila tujuannya ingin bertoleransi, cukuplah membiarkan kaum pagan merayakan ritual tahun baru yang keramat baginya. Tak perlu ikut larut bereuforia.

Terlebih bagi kaum muslimin, sungguh kurang pantas bila masih merasa bahwa Allah tidak mengawasi. Apalagi ikut menghabiskan jatah usia untuk hal yang sia-sia.

Karena sungguh esok di akhirat, tak akan beranjak anak Adam sebelum menjawab pertanyaan. Untuk apa usianya dihabiskan?[MO/ge]

Posting Komentar