Oleh: Risna Syahadatul Huda 
(Aktivis Dakwah Kampus)

Mediaoposisi.com- Dewan Pimpinan Ikatan DAI Aceh pada bulan Desember 2018 lalu mengundang dua kandidat calon presiden RI untuk uji coba baca Al-Qur’an. Salah satu alasannya karena dua capres sama-sama beragama Islam dan penting bagi umat Islam untuk tahu kualitas calon Presidennya.

 “Tes baca Al-Qur’an bagi seorang calon Pemimpin yang beragama Islam sangat wajar dan sangat demokratis, justru publik makin tahu kualitas calonnya” ujar Ridhwan Habib, Peneliti Radikalisme dan gerakan Islam di Jakarta. (m.trimbunnews.com)

Dalam konteks ini, agama dijadikan senjata politik dalam keadaan mendesak. Ketika kita melihat agama sering dilakukan dalam kampanye secara tidak langsung, misal kegiatan keagamaan menjelang pemilu, rutin mengunjungi rumah ibadah, dll. Ironisnya, ketika pemilu usai, semuanya sunyi dan senyap serta hilang begitu saja.

Terlebih saat ini muncul gagasan Tes baca al-Qur’an yang akan dilakukan oleh kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh Dewan Ikatan DAI Aceh.

Gagasan ini adalah bukti bahwa dalam sistem demokrasi, agama hanya digunakan untuk mencari dukungan suara pada kontestasi politik. Agama kerap sekali menjadi satu-satunya senjata dominan yang bisa memobilisasi pilihan politik masyarakat. Dan Al-Qur’an pun hanya sebagai bacaan yang dijadikan alat untuk mendapatkan simpati publik untuk meraih kekuasaan.

Padahal banyak para tokoh/partai politik yang sering berargumentasi dan mengatakan “Jangan sampai dicampuradukkan antara politik dan agama, agama itu suci sementara politik itu kotor”. Dipisah betul sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik.

Inilah politik pemahaman sekularisme, yaitu pengurusan urusan rakyat dengan hukum-hukum sekuler lepas dari hukum agama termasuk hukum Islam. Akan tetapi yang perlu kita ketahui bahwa definisi politik secara syar’i berarti pengurusan rakyat dengan aturan Islam. Ibnu Taimiyah mengatakan “jika kekuasaan terpisah dari agama atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak”.

Sebagai seorang muslim patut ditegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an adalah kalam atau firman Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malaikat Jibril mesti dijadikan sumber yang patut dipatuhi, diacu dan dilaksanakan perintah-perintahnya serta dihentikan larangan-larangannya.
Allah swt berfirman :

وَلَقَدْ جِئْنٰهُم بِكِتٰبٍ فَصَّلْنٰهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ 
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf : 52)

وَٱتَّبِعُوٓا۟ أَحْسَنَ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Artinya : “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya”. (QS. Az-Zumar : 55)

Sebagimana kita ketahui bahwa syariah Islam itu mencakup aspek yang sangat luas. Bukan hanya menyangkut hukum ibadah ritual saja, tetapi termasuk juga ekonomi, politik, pendidikan, sosial masyarakat bahkan hukum positif yang berlaku formal dalam sebuah negara.

Maka jelas bahwa sumber hukum Islam yang pertama yaitu Al-Qur’an, dan bukan hanya bacaan semata apalagi dijadikan kendaraan untuk meraih kekuasaan, tetapi manusia wajib untuk menerapkan semua hukum yang ada didalamnya.

Allah swt berfirman :
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya : “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS.Al-Maidah : 50)

Untuk itu setiap muslim wajib terikat dengan seluruh aturan Allah swt, dan seorang pemimpin harus berani menerapkan hukum-hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dalam bingkai masyarakat maupun negara, karena hal tersebut adalah bagian dari kewajiban seorang pemimpin untuk patuh dan taat pada hukum Allah swt.[MO/sr]




Posting Komentar