Oleh: Vinci Pamungkas
(Anggota Komunitas Rvowriter)

Mediaoposisi.com- Sejak tayangan Mata Najwa episode “PSSI Bisa Apa?” November lalu, Bola panas tentang pengaturan skor bergulir kencang. Dilanjutkan dengan episode “PSSI Bisa Apa Jilid 2”, satu persatu petinggi PSSI dijadikan tersangka. Sejauh ini polisi telah menetapkan empat orang sebagai tersangka,yaitu mantan Ketua Asprov PSSI DIY Dwi Irianto alias Mbah Putih, anggota Komite Eksekutif PSSI Johar Lin Eng, mantan anggota Komisi Wasit PSSI Priyanto dan anaknya, Anik Yuni Artika Sari yang merupakan wasit futsal. (merdeka.com) Mereka dianggap sebagai mafia bola yang menjadi dalang pengaturan skor  di liga Indonesia. Skandal pengaturan skor bukan barang baru di dunia sepak bola. Sejak tahun 1980an ribuan kasus pengaturan skor terjadi di berbagai kompetisi. Mulai dari liga-liga di Eropa, Brasil, Afrika, hingga piala dunia. 

Sepak bola adalah olahraga terpopuler sejagad raya. Dari mulai anak balita hingga orang tua, dari mulai orang yang tak punya hingga orang kaya raya, dari semua kalangan manusia menyukai olahraga ini. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menjadi fans fanatik. Mengikuti setiap pertandingan timnas negaranya atau klub favoritnya kapanpun dan dimanapun, mengoleksi jersey dan berbagai merchandise klub favorit, dll.

Sepak bola tak hanya sekedar hobi atau hiburan, tapi tambang emas bagi para kapitalis/pengusaha. Berawal dari sinilah muncul berbagai kepentingan demi meraup keuntungan. Seperti keinginan pemilik klub agar tim miliknya bisa terus berprestasi, hasrat para pelatih dan pemain agar mendapat gaji dalam jumlah masif, nafsu suporter untuk melihat kesebelasan mereka selalu menang, sampai birahi para bandar judi yang ingin meraup kemenangan.

Kepentingan-kepentingan inilah yang mendorong aksi pengaturan skor. Demi kemenangan tim tertentu, sang dalang siap menyuap wasit, pemain, pelatih atau ofisial pertandingan, bahkan petinggi asosiasi sepak bola. Kasus pengaturaan skor di Indonesia dijerat dengan undang-undang (UU) penyuapan dan penipuan. Polisi menyatakan belum ada indikasi hubungan pengaturan skor dengan praktik judi.

Padahal di luar negeri, para bandar judilah yang berjuang demi skor impian. Untuk mengeruk keuntungan besar dari taruhan para penggila judi. Indikasi kuat kasus ini terkait perjudian bisa dilihat dari menjamurnya judi khusus sepak bola di dunia maya. Pertandingan klub-klub Indonesia masuk didalamnya. Besar uang yang dimenangkan cukup membelalakan mata. Tak heran jika para dalang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menyuap banyak aktor pengatur skor.

Di alam kapitalis, peluang untuk melakukan kecurangan dan penipuan sangat terbuka lebar. Manusia-manusia yang sudah tercekoki ide kapitalisme akan melakukan berbagai cara agar mendapatkan keuntungan yang melimpah. Termasuk menghalalkan segala cara haram. Karena tak ada standar halal haram dalam kapitalisme. Aturan sang pencipta tak diakui keberadaannya. Padahal sejatinya penciptalah yang membuat aturan agar yang diciptakan bisa berjalan mengarungi kehidupan dunia ini dengan baik.

Islam adalah satu-satunya agama yang mengatur seluruh permasalahan kehidupan sesuai dengan kehendak pencipta. Maka jaminan keberlangsungan kehidupan yang sempurna sesuai dengan fitrah manusia hanya ada pada aturan islam. Harta menurut pandangan islam hanya bagian kecil dari kehidupan. Harta hanya sarana untuk menyempurnakan ketaatan kepada Allah, bukan menjadi tujuan kehidupan. [MO/sr]



Posting Komentar