Oleh : Novia Listiani
(Aktivis Muslimah Peduli Umat)

Mediaoposisi.com-  Diawal tahun 2019 media dihebohkan dengan mencuatnya pemberitaan kasus prostitusi online yang melibatkan para artis. Ini bukan kali pertama terjadi, sebelumnya terkuak beberapa fakta prostitusi online yang menawarkan layanan seksual melalui sarana media sosial.

Kemajuan teknologi memang dianggap sebagai pedang bermata dua. Disatu sisi, kemajuan teknologi
mempermudah dalam berinteraksi tanpa terhalang jarak dan waktu. Disisi lain, kemajuan teknologi juga bisa berdampak negatif.

Apalagi jika penggunanya tidak bijak. Media sosial menjadi ajang berekspresi dengan sebebas-bebasnya bahkan dimanfaatkan sebagai ajang kemaksiatan. Salah satunya bisnis prostitusi online yang semakin menjamur.

Dari tahun ke tahun kasus prostitusi semakin marak. Namun, tidak ada upaya yang pasti untuk
memberangusnya. Mulai dari lokalisasi hingga memanfaatkan media sosial, yang semakin memudahkan jaringan penyedia layanan prostitusi. Media sosial telah memfasilitasi manusia yang tidak bermoral untuk bebas melakukan kemaksiatan.

Bagi mucikari mereka hanya bermodalkan gadget yang menyediakan jasa layanan prostitusi, mempromosikan artis dan selebgram melalui akun Instagramnya. Bagi PSK, hanya bermodalkan kecantikan dan rela menjajakan dirinya demi mendapatkan uang dengan mudah.

Sangat miris jika menyaksikan fakta yang terjadi di tengah-tengah kehidupan ini. Memang tidak heran kerusakan moral dan perilaku menjijikkan semacam ini marak terjadi dalam sistem demokrasi. Prostitusi merupakan bentuk degradasinya moral manusia, yang hanya memperturutkan hawa nafsu kepada siapapun layaknya hewan.

Dalam sistem liberal inilah semua orang bisa berperilaku suka-suka tanpa aturan. Gaya hidup liberal yang lepas dari tuntunan agama semakin mewarnai kehidupan masyarakat. Rendahnya ketakwaan dan tuntutan gaya hidup konsumtif dan hedonis menjadi pendorong maraknya prostitusi online.

Meskipun faktor kemiskinan juga kerap menjadi alasan. Materi menjadi sumber kebahagiaan, sehingga segala cara pun dihalalkan agar dapat memperoleh materi sebanyak-banyaknya dengan jalan pintas.

Prostitusi merupakan perilaku terlarang menurut pandangan agama dan norma manapun. Dan setiap
yang bertentangan dengan agama hanya akan menimbulkan bahaya dan kerusakan. Prostitusi atau
pelacuran adalah aib sosial. Pelakunya sangat terhina. Dalam pandangan agama manapun, pelacuran
adalah perbuatan yang hina. Ini merupakan penyakit.

Islam menyebut pelacuran atau seks bebas dengan istilah zina. Zina termasuk dosa besar, setelah musyrik dan membunuh tanpa alasan yang haq. Maka dari itu Islam dengan tegas melarang zina. Karena perbuatan tersebut kotor dan keji. Sebagaimana dalam Firman Allah, "Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (TQS. Al-Isra : 32).

Maka jelas, akibat dari perbuatan zina termasuk didalamnya prostitusi adalah dosa besar yang nantinya akan mendapatkan siksa yang pedih, zina juga merusak kesucian dan kehormatan, mematikan rasa malu, hingga menyeret pelakunya kepada segala jenis keburukan. Selain itu, mengakibatkan tersebarnya penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS.

Sungguh mengerikan jika melihat akibat dari perilaku yang keji ini. Apalagi saat ini, semakin menyebar luas seperti virus yang menular. Ini adalah masalah sosial yang serius dan butuh solusi yang pasti untuk mengatasi maraknya prostitusi. Dalam Islam setidaknya ada lima cara yang harus ditempuh.

Pertama, dari segi hukum. Haruslah ada hukum atau sanksi yang tegas kepada semua pelaku prostitusi. Tidak hanya mucikari atau germonya. Akan tetapi PSK atau pemakai jasanya yang merupakan subyek dalam lingkaran prostitusi harus dikenai sanksi tegas juga. Hukuman di dunia bagi pelaku zina adalah dirajam (dilempari batu) jika ia pernah menikah.

Atau dicambuk seratus kali jika ia belum pernah menikah lalu diasingkan selama satu tahun. Jika di dunia tidak sempat dihukum, maka di akhirat akan disiksa di neraka. Bagi wanita pezina, di neraka ia disiksa dalam keadaan tergantung pada payudaranya.

Kedua, dari segi ekonomi. Yaitu dengan menyediakan lapangan pekerjaan. Faktor kemiskinan yang
seringkali menjadi alasan PSK terjun ke lembah prostitusi tidak akan terjadi jika negara menjamin
kebutuhan hidup setiap rakyatnya, termasuk menyediakan lapangan pekerjaan, terutama bagi kaum
laki-laki. Perempuan seharusnya tidak menjadi tulang punggung bagi keluarganya.

Ketiga, dari segi pendidikan atau edukasi. Pendidikan bermutu dan bebas biaya harus memberikan bekal ketakwaan dan landasan akidah yang kuat. Jika setiap orang paham akan hakikat keimanannya kepada Allah, maka perbuatannya senantiasa lurus diatas perintah Allah.

Selain itu penting pendidikan yang dibekali dengan kepandaian dan keahlian, agar setiap orang mampu bekerja dan berkarya dengan cara yang baik dan halal.Pendidikan juga menanamkan nilai dasar tentang benar dan salah serta standar-standar hidup yang boleh diambil atau tidak.

Keempat, dari segi sosial. Perlu adanya pembinaan untuk membentuk keluarga yang harmonis
merupakan penyelesaian dari segi sosial yang juga harus menjadi perhatian penguasa. Selain itu
pembentukan lingkungan sosial agar masyarakat mau peduli terhadap kemaksiatan, sehingga pelaku
prostitusi akan mendapatkan sanksi dan kontrol sosial dari lingkungan sekitar.

Kelima, dari segi politik. Penyelesaian prostitusi ini perlu diterapkannya kebijakan yang didasari syariat Islam. Harus dibuat undang-undang yang tegas mengatur keharaman bisnis apapun yang terkait dengan pelacuran. Tidak boleh dibiarkan bisnis berjalan berdasar hukum permintaan dan penawaran belaka tanpa tahu standar benar dan salah sesuai syariat.

Negara tidak hanya harus menutup semua lokalisasi, menghapus situs prostitusi online tapi juga melarang semua produksi yang memicu seks bebas seperti pornografi lewat berbagai media.

Saat ini negara-negara di dunia khususnya Indonesia darurat gaya hidup liberal yang lahir akibat
diadopsinya sistem demokrasi yang menuhankan kebebasan perilaku. Darurat prostitusi dengan
beragam modelnya adalah buah busuk sistem ini.

Karenanya segala bentuk kemaksiatan dan seluruh problematika kehidupan yang terjadi adalah akibat
dari tidak diterapkannya Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Agama hanya jadi ibadah ritual. Yang
mengebiri aturan-aturan Islam lainnya.

Maka masalah prostitusi yang marak inipun seharusnya dikembalikan dengan hukum Islam. Tidak lain dengan adanya negara yang mampu menerapkan syariat Islam secara sempurna dalam bentuk Khilafah Islamiyah. [MO/ra]

Posting Komentar