Oleh: Nur Jaya 
(Mahasiswi Sastra Bahasa Inggris)


Mediaoposisi.com- Detik-detik jelang hari natal 2018 dan tahun baru 2019, nampak para aparat pemerintah sibuk melakukan operasi perburuan teroris. Pemerintah mengerahkan 940 polisi disiagakan cegah aksi terorisme jelang Natal dan tahun baru 2019. Detasemen khusus 88 /antiteror polri menangkap sebanyak 21 orang terduga teroris di hari Raya dan tahun baru ini. Bulan november 2018, tim densus 88 anti teror mengungkapkan ada 3 orang terduga teroris  didaerah Riau yang telah ditangkap.

Sekilas terlihat bijak dan peduli sikap pemerintah tersebut. Masuk akal. Karena memang hari raya harus berjalan dengan aman dan lancar. Namun isu terorisme jelang Natal dan tahun Baru jika  dilihat secara jeli ini justru upaya memojokkan islam dan umat islam sebagai sumber dan pelaku teror.

Sebab mengucapkan dan merayakan hari natal dalam islam itu tidak boleh. Namun sangat berbeda, opini yang terbangun di kalangan masyarakat, mereka yang tidak mengucapkan dan merayakan hari raya non-muslim disebut sebagai intoleran. Bagi mereka tersgimatisasi intoleran pun dilabeling terorisme. Jelas, karena umat islam sendiri jika tidak taat pada aturan sistem saat ini akan selalu dicurigai sebagai teroris

Intoleran dan terorisme
Kata toleransi naik daun dikala jelang hari raya non-muslim. Toleransi sendiri berasal dari barat. Secara bahasa, toleransi berasal dari kata tolerance, artinya “ to endure without protest( menahan perasaan tanpa protes )”. Jika benar konsep toleransi seperti ittu tentu nampak bahwa kaum liberal  tidak konsisten  dengan konsep yang mereka bangun. Bagaimana tidak, mereka tidak pernah protes terhadap pendapatnya yang berbeda dengan konsep mereka sendiri. Namun kaum muslim dituntut untuk mengikuti ide ini.

Kaum muslim hanya dikatakan toleransi jika mengucapkan hari raya non-muslim dan menrayaakan hari raya selain dari islam. Lalu jika sebaliknya sikap kaum muslim, sebutan intoleran pun dilontarkan padanya. Misalnya perayaan hari Natal, kaum muslim yanng menjaga keutuhan akidah dari paku yang mampu melubangi imannya, mengucapkan dan menrayakan hari raya natal dicap sebagai orang tidak toleransi.

Padahal jelas, hal ini tidak ada dalam syariat islam dan tidak boleh diaplikasikan hanya atas dasar narasi toleransi. Why? Because turut mengucapkan dan menrayakan peringatan natalan bagi kaum muslim adalah perbuatan menyerupai kaum kafir yang jelas dilarang dalam islam. Rasulullah saw bersabda dalam hadits Abu Dawud “ Man tasyabbha bi qawmin fahuwa minhum”artinya siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk ke dalam golongan mereka. Jadi sikap toleransi kaum muslim bukan mengikuti tapi membiarkan peringatan natalan.

Hari raya nyepi di bali, kaum muslim harus mematikan lampu dan tak boleh melakukan  aktivitasnya dengan bebas pada hari itu. Raja di bali meminta kaum muslim tidak menyembelih sapi karena sapi dianggap sebagai dewa. Sungguh, ini sangat bertentangan dengan islam jika hanya alasan toleransi dituntut mengikutinya perayaan ini. Bahkan, ini  wajib diprotes terhadap sikap mereka yang menuntut kaum muslim untuk mengikutinya. Sayang, kaum liberal diam membisu.

Selain itu, sekarang atas nama toleransi, umat islam dituntut untuk membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran. Dipaksa untuk menerima penguasa zholim, kekriminalisasi, penyebaran agama sesat, dan memaklumi berbagai tindakan jauh dari islam. Dituntut untuk mendukung sistem yang selain dari islam.

Sistem kapitalis dan demokrasi maupun komunis yang sudah pasti sistem rusak dan kufur. Dan tak layak jadi pedoman manusia. sehingga layak dikatakan toleransi yang sekarang diluncurkan dikalangan masyarakat bukan bersumber dari islam melainkan dari barat. Yang tujuannya tak lain, menjauhkan umat islam dari syariat islam dan juga membuat ragu kaum muslim membedakan kebatilan dan kebeneran.

Padahal kebenaran dan kebatilan perbedaannya sperti langit dan bumi, sangat jelas perbedaannya. Toleransi yang datang dari barat berlandaskan ide sekulerisme, relativisme, dan pluralisme-demokrasi. Ketiga ide ini tidak lahir dari rahim syariat islam dan bertentangan dengan islam.

Sebaliknya  umat islam yang mengatakan bahwa hanya islam benar dan yang lain tidak benar. Mereka disebut intoleran. Umat islam yang menginginkan syariat islam diterapkan secara kaffah dibawah naungan negara islam. Mereka dicap intoleran dan terorisme.

Kaum muslim yang mengkufur sistem demokrasi, kapitalis, dan komunis maupun kaum muslim yang teguh menjalankan syariat islam, semua  dilabeling sebagai intoleran. Parahnya lagi, kaum muslim yang mengeraskan suara azan dengan pengeras suara disebut juga tidak toleransi. Sungguh , toleransi saat ini aneh bin ajaib dan terbolak-balik. Yang jelas perbuatan nya tidak toleransi disebut toleran. Namun perbuatan sebenarnya toleran hanya karena tidak sesuai keinginan mereka disebut intoleran.

Bagi mereka yang dicap intoleran pun dibentuk semakin negatif, sebagai terorisme inilah lanjutan citraan buruk dilekatkan pada mereka yang dilabelin intoleran. Sehingga atas dasar terorisme, para penguasa mudah menjerat kaum muslim yang dituduh sebagai intoleran. Atas dasar terorisme, kaum barat akan terus mencitrakan islam sebagai monsterisasi dan membangun phobiaislam yang kokoh dikalangan masyarakat maupun kaum muslim.

Dengan demikian, perang melawan terorisme yang dilakukan pemerintah saat ini dan barat adalah bukan kebaikan untuk kebaikan umat melainkan untuk menjauhkan umat islam dari islam dan menghalangi kebangkitan islam. Sebab itu, tak boleh kaum muslim terprovokasi oleh propaganda soal terorisme berlatar islam

Toleransi dalam islam
Tentu pandangan toleransi saat ini jauh berbeda dengan pandangan islam. Sungguh pandanngan islam mengenai toleransi sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan hati.

Bahkan islam adalah agama yang paling toleran. Toleransi dalam islam berdiri atas beberapa prinsip-prinsip :

Pertama, islam dengan tegas memberikan kebebasan kepada siapa saja dalam memilih agama. Islam sendiri tak memaksa orang untuk masuk  kedalam islam sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-baraqah ayat 256.

Kedua, islam mewajibkan umatnya untuk meyakini hanya islam saja yang benar, selain dari islam adalah salah. Islam menolak paham pluralisme agama .

Ketiga, toleransi tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar. Karena dalam soal ibadah itu untuk mu agama mu dan untukku agamaku
Itulah prinsip dasar toleransi dalam islam yang jelas mana yang hak dan yang batil, tidak mencampuradukan kebatilan dan kebenaran dan tidak memaksa untuk memeluknya.

Oleh karna itu umat mesti menyadari, toleransi sekarang bukan dari islam melainkan toleransi ala barat yang merupakan tipuan belaka dan akan menjerumuskan umat dalam musibah. Sehingga layak dicampakkan segala yang berasal dari barat termasuk toleransi ala barat. Dan kembali pada syariat islam dan memperjuangkan untuk bisa diterapkan secara kaffah.[MO/sr]






Posting Komentar