Mediaoposisi.com- Disaat kondisi penuh akan desas-desus di era Pilpres saat ini. Sudah pasti hal yang tidak disangka-sangka akan muncul. Mungkinkah hal ini berjalan secara natural atau ada konspirasi dibalik Rezim saat ini, yang menaikkan elektabilitasnya !!!..., Mungkinkah hanya karena pertimbangan kemanusiaan membuat Kyai Abu Bakar Ba'syir bisa bebas begitu saja. Dengan alasan pertimbangan yang panjang dan kondisi kesehatahn yang tidak memungkinkan.

"Ya yang pertama memang alasan kemanusiaan. Sepertinya beliau, kan, sudah sepuh, ya pertimbangannya kemanusiaan," kata Jokowi usai meninjau Rusun Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah di Desa Nglampangsari, Garut, seperti dikutip Antara.

Berbagai bualan dan alasan kian muncul, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan berdasarkan pertimbangan keamanan dan kemanusiaan, Ba'asyir sudah semestinya dibebaskan. Alasan yang diungkapnkan oleh Mu'ti kian muncul karena sudah tua, sering menderita sakit, dan Kyai Abu Bakar Ba'syir tidak lagi menjadi sentral gerakan sentral dan terorisme di Indonesia.

Itulah berbagai bualan yang digunakan untuk membebaskan Kyai Abu Bakar Ba'syir, Ingn tahu seperti apa. Baca tulisan ini sampai selesai ya !!!...

Megawati Diperintah Bush Untuk Tangkap Abu Bakar Ba'asyir
Saat Amerika di pimpin oleh Bush, Kiyai Abu Bakar Ba'asyir selaku Amir Majelis Mujahidin Indonesia membuat Bush ketakutan hingga akhirnya membuat rencana rahasia untuk menangkapnya melalui Presiden Megawati saat itu.

"Hal itu disampaikan utusan khusus Presiden Bush dalam pertemuan rahasia di rumah Megawati," ujar Fred Burks, mantan penerjemah Presiden George Walker Bush yang dihubungi Tempo melalui telepon genggamnya, Rabu (29/12). Menurut dia, pertemuan rahasia tersebut berlangsung pada Senin, 16 September 2002.(Tempo.co)

"Megawati sama sekali tidak tahu kalau utusan khusus itu seorang agen CIA," kata Burks. Pasalnya, kata dia, Boyce hanya memperkenalkan wanita tersebut sebagai utusan khusus Bush. Pertemuan itu sendiri berlangsung singkat, hanya sekitar 20 menit. Dia menambahkan, Boyce dan Brooks tidak banyak berbicara.


Menurut dia, percakapan yang berlangsung di dominasi antara Megawati dengan utusan khusus tersebut.Utusan khusus itu, lanjut dia, menyampaikan pesan khusus Bush yang meminta Megawati untuk menangkap Ba'asyir.

Tenggat waktu yang diberikan Presiden Bush, kata dia, sebelum berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Los Cabos, Meksiko, Oktober 2002. "Tidak mungkin, orang ini terlalu terkenal di Indonesia. Nanti kalau dia hilang akan menyulitkan saya

kata Burks mengutip pernyataan Megawati saat itu. Lebih lanjut dia mengungkapkan, utusan khusus tersebut menerima penolakan Megawati itu. Dalam pertemuan tersebut, lanjut dia, Megawati mengatakan, Ba'asyir dapat ditangkap bila persepsi masyarakat tentang Ba'asyir berubah, dari mendukung menjadi membenci.

Saat era Megawati nampak dengan jelas apabila Beliau Kyai Abu Bakar Ba'asyir mendukung sepak terjang megawati bisa jadi bebas namun jika saat membenci sudah pasti dimasukkan ke dalam penjara. Penangkapan tersebut bisa terjadi karena adanya motif ketakutan Amerika dengan adanya islam yang menjunjung tinggi haramnya ide Demokrasi sistem pemerintahan buatan amerika.

Namun Demokrasi saat ini bisa membuat Ulama hanya untuk elektabilitas menjadi penguasa.

Jokowi Bebaskan Kyai Abu Bakar Ba'asyir Hanya Untuk Naikkan Elektabilitas !!!
Pembebasan Kyai Abu Bakar Ba'asyir tidak lain tidak bukan memang ada keterkaitannya dengan Pilpres 2019

"Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, semua kebijakan pasti bermuatan politik. Presiden sudah menggunakan haknya. Tidak ada yang salah baik secara hukum, politik dan keamanan," kata Jokowi

Bambang Soesatyo selaku DPR RI menyatakan hal yang sama seperti yang diungkapkan oleh Jokowi. Bahwa keputusan tersebut tidak ada kaitannya denga Pilpres 2019.

"Saya tidak melihat upaya pembebasan hukuman Ustaz Ba'asyir oleh Presiden Jokowi sebagai strategi politik menjelang Pilpres 2019 karena keputusan tersebut sangat manusiawi," kata Bambang dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta.

Bebagai opsi sudah dilakukan Jokowi untuk negosiasi dengan Bambang Soestyo supaya Kyai Abu Bakar Ba'asyir bisa bebas. kata Bambang.Presiden Jokowi bisa membebaskan Ba'asyir melalui pemberian grasi sesuai Pasal 14 UUD 1945 yang merupakan hak konstitusional yang diberikan kepada presiden untuk memberikan pengampunan kepada narapidana dengan melalui sejumlah pertimbangan.

Presiden memang memiliki hak memberikan grasi, amnesti dan abolisi sesuai konstitusi di negara ini. Aturan itu tercantum dalam Pasal 14 UUD 1945.

Sedangkan Grasi diatur secara tersendiri dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi sebagaimana telah diubah oleh Undang–Undang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi.

Rencana Ba'asyir dibebaskan tidak lain tidak bukan karena Yusril Ihza Mahendra selaku Penasihat Hukum Jokowi-Ma'ruf Amin ida menyatakan, di Lapas Gunung Sindur tempat Ba'asyir ditahan, hari ini. Yusril melakukan kunjungan sekaligus menjadi khatib dan imam salat jumat di lapas itu.


Hari ini saya ingin menyampaikan maksud dari Presiden Jokowi yang ingin membebaskan Abu Bakar Baasyir,” kata Yusril saat tiba di Lapas Gunung Sindur, Jumat 18 Januari 2019.

Sudah pasti dibalik kejadian ini ada yang mengatur karena Rezim saat ini punya Kartu Troops untuk dimainkan dari berbagai lini.

Dahnil Simanjuntak selaku Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menyatakan, publik memahami kaitan politik dalam pembebasan Abu Bakar Ba'asyir."Publik bisa menilai pasti ada kaitannya dengan politik pembebasan Ba'asyir itu. Publik paham dan kami tidak perlu menjelaskan"

Inilah tindakan Jokowi saat ini yang nampak jelas membutuhkan suara umat Islam yang begitu kuat, beda dengan tindakan Megawati Saat itu yang sangat ingin sekali memasukkan penjara Kiyai Abu Bakar Ba'asyir hanya karena membenci tatanan kebijakan yang telah dibuat oleh Megawati.

Di sisi lain, saat pernyataan Megawati Soekarno Putri berpidato di HUT ke-44 PDI Perjuangan menyatakan dengan jelas, “PDIP tidak butuh suara Umat Islam”. Partai ini memang terbukti jelas Anti terhadap Islam.

Sebetulnya pembebasan Kyai Abu Bakar Ba'asyir ini dipolitisasi oleh kalangan pendukung jokowi itu sedniri untuk menaikkan elektabilitasnya.

Terbukti saat ini sudah berapa ustad yang didekati hanya untuk dijadikan elektabilitas seperti: Kiyai Ma'ruf Amin di saat jadi MUI dan punya banyak massa, Arifin ilham disaat aksi dulu ditembak Gas Air Mata, di saat sakit tiba-tiba dijenguk, Dan yang terakhir Kyai Abu bakar Ba'asyir yang tiba-tiba dibebaskan dengan dalih pertimbangan kemanusiaan.

Itu semua dilakukan Jokowi karena publik sudah faham bahwa jokowi saat ini mengalami Elektabilitas yang kian anjlok. Maka dari itu momen pembebasan Kyai Abu bakar Ba'asyir ini dijadikan untuk menaikkan Elektabilitas yang berujung hanya pada pencitraan.[MO/sr]

Posting Komentar