Oleh: Andi Muthmainnah, Guru

Mediaoposisi.com- Uighur adalah  etnis minoritas di Cina yang mendapatkan otonomi khusus di Xinjiang, namun otonomi daerah ini tidak menjadikan Xinjiang benar-benar bebas dari cengkeraman Partai Komunis Cina.

Beberapa aturan yang sifatnya diskriminatif dan represif diterapkan untuk etnis Uighur di antaranya pelarangan melakukan aktivitas ibadah atau pakaian keagamaan di tempat umum, tidak mengizinkan anak-anak mendapatkan pendidikan di sekolah milik pemerintah, petugas di ruang publik diminta untuk melaporkan warga yang menggunakan pakaian tertutup dan jilbab.(BBC.com)

Muslim Cina tidak didominasi oleh etnis Uighur, ada etnis Hui namun kondisinya berbeda dengan etnis Uighur. Etnis Hui lebih bebas menjalankan aktivitas keberagamaannya jika dibandingkan dengan Uighur. Adanya perbedaan perlakuan terhadap kedua komunitas Muslim terbesar di Cina ini tidak lepas dari sejarah bergabungnya ke dalam otoritas Cina.

Pada awal abad ke-20 Uighur mendeklarasikan kemerdekaan mereka dengan nama Turkestan Timur namun pada 1949 Mao Zedong berhasil menyeret Xinjiang ke dalam kekuasaan penuh Beijing. Sejak itu hubungan Cina dan etnis Uighur diwarnai kecurigaan terhadap gerakan separatis dan terorisme.

Atas nama mencegah gerakan separatis dan terorisme, pemerintah Cina membentuk kamp penahanan yang diisi dengan pembatasan praktik ibadah dan indokrinasi politik.

Kondisi Terkini Uighur
Komite HAM PBB mendapatkan laporan adanya penahanan 1 juta orang Uighur di pusat kontra ekstrimisme. Sampai detik ini pemerintah Cina tidak mengakui keberadaan kamp tersebut sebagai tempat yang mempelakukan tindakan yang tidak manusiawi dengan menunjukkan kondisi kamp yang mereka sebut “kamp Pendidikan kembali”. Namun hal tersebut terbantahkan dengan adanya kesaksian “alumnus” kamp yang menyatakan adanya perlakuan tidak manusiawi selama masa penahanan. 

Pelaporan oleh Uighur Service RFA dan organisasi media lainnya, telah menunjukkan bahwa mereka yang berada di kamp ditahan di luar kemauan mereka dan mengalami indoktrinasi politik, secara rutin mendapatkan perlakuan kasar di tangan para pengawas mereka dan menjalani diet yang buruk serta kondisi yang tidak higienis di wilayah tersebut.  Fasilitas yang sering penuh sesak. Hampir 3000 anak ditahan di sekolah malaikat kecil, sekolah itu dikelilingi tembok dan kawat yang dijaga ketat oleh petugas. (rfa.org).

Pemerintah Cina melakukan upaya pencucian otak terhadap etnis Uighur  dengan dalih melawan gerakan separatis dan teroris.

Sejarah Uighur
Bangsa Uighur telah tinggal di Uighuristan lebih dari 2000 tahun, tapi Cina mengklaim daerah itu sebagai warisan sejarahnya. Xinjiang merupakan provinsi terbesar di Cina, Wilayahnya sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Kazakstan, Mongolia, Kyrgistan, Afghanistan dan Rusia. Tahun 1949 terdata 96%  penduduk Xinjiang adalah etnis Uighur namun kini tersisa setengah dari penduduk Xinjiang.

Bangsa Uighur telah banyak memberikan sumbangan dalam peradaban dunia. Di awal abad ke-20 melalui ekspedisi keilmuwan dan arkheologis di wilayah Jalur Sutera ditemukan peniggalan kuno berupa candi dan reruntuhan biara, lukisan, buku dan dokumen.

Bangsa Uighur telah mengenal aksara pada abad ke-6 dan ke-7 mereka menggunakan tulisan orkhun yang diadopsi menjadi tulisan Uighur. Tulisan ini digunakan hampir 800 tahun, tidak hanya oleh bangsa Uighur tapi juga oleh suku-suku klan Turki lainnya. Setelah masuknya Islam pada abad ke-10 bangsa Uighur menyerap alpabet Arab.

Sejak dulu banyak orang Uighur menjadi pengajar di Kekaisaran Cina, menjadi duta besar di Roma, Istambul Dan Bagdad. Karya sastra bangsa Uighur juga berkembang pesat terutama setelah masuknya Islam. Beberapa karya sastra yang terkenal misalnya Kutatku Bilik karya Yusuf Has Najib (1069-1070), Divani Lugarit Turk oleh Mahmud Kashari dan Atabetul Hakayik oleh Ahmet Yukneki.

Bangsa Uighur juga dikenal ahli pengobatan. Zaman Dinasti Sung (906-960) seorang ahli pengobatan Uighur bernama Nanto mengembara ke Cina, ia membawa berbagai jenis obat yang saat itu belum dikenal di Cina. Bangsa ini telah mengenal 103 tumbuhan obat dicatat dalam buku obat-obatan Cina oleh Shi Zhen Li (1518-1593). Bahkan sebagian ahli Barat percaya akupunktur bukan asli Cina tapi awalnya berkembang di Uighur.

Yen De Wang, seorang duta besar Cina (981-984) untuk kerajaan Karakhoja-Uighur menulis dalam biografinya “Saya sangat terkesan dengan tingginya peradaban di Kerajaan Uighur. Keindahan candi-candinya, biara, lukisan, patung, menara, kebun, rumah dan istana di negeri ini tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Bangsa Uighur sangat ahli dalam kerajinan emas dan perak dan tembikar. Orang berkata Tuhan telah mewariskan keahlian-Nya hanya pada bangsa ini”.

Sebelum masuknya Islam bangsa Uighur menganut Shamanian, Budha dan Manicheism. Orang Uighur memeluk Islam sejak tahun 934 saat pemerintahan Satuk Bughra Khan. Saat itu 300 masjid megah dibangun di Kota Kasghar. Sejak saat itu Islam menjadi satu-satunya agama yang dianut oleh orang Uighur. Masjid-masjid yang megah karya bangsa Uighur contohnya Azna (dibangun abad ke-12), Idghah (abad ke-15), Appak Khoja (abad ke-18).

Pada masa itu di Kasghar saja telah ada 18 madrasah besar dengan lebih 2000 siswa baru masuk pertahunnya. Selain belajar agama, dimadrasah inilah anak Uighur belajar membaca, menulis, logika, aritmetika, geometric, etik, astronomy, pengobatan, pertanian.  Pada abad ke-15 di kota ini telah ada perpustakaan dengan koleksi 200 ribu buku.

Orang Uighur juga telah mengenal pertanian semiintensif sejak 200SM. Mereka juga telah mengembangkan sistem irigasi untuk mengalirkan air dari sumber yang jauh dari lahan pertanian. Satu irigasi ini masih bisa dilihat di Kota Turfan. Boleh dikatakan kebudayaan Uighur mendominasi Asia Tengah sepanjang 1000 tahun sebelum bangsa ini ditaklukkan peguasa Manchu yang memerintah di Cina.


Analisis
Tindakan represif pemerintah Cina terhadap Muslim Xinjiang tidak lepas dari “kerakusan” pemerintah Cina yang ingin menguasai secara utuh wilayah Xinjiang yang strategis sebagai daerah perbatasan dengan potensi sumber daya alam melimpah. Xinjiang merupakan pintu ekspor/impor Cina-Eropa-Afrika, kaya gas alam dan obyek wisata. Jika Xinjiang dibiarkan tidak menutup kemungkinan lepasnya dari Cina sebagai negara merdeka karena didukung oleh Sumber daya alam dan kualitas Sumber Daya Manusianya yang mampu membangun Xinjiang sebagai provinsi terbesar dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Salah satu strategi penguasaan Xinjiang adalah dengan transfer etnis Han dan “Genosida” etnis Uighur. Hasilnya, dari  96% pada masa awal bergabung dengan Cina (1949) tersisa 49% penduduk asli. (mungkinkah Indonesia akan di “Cina” kan dengan masuknya jutaan pekerja illegal dan ber KTP WNI ke beberapa daerah di Indonesia?).

Sekalipun motif penguasaan Cina terhadap Uighur adalah ekonomi akan tetapi pihak yang diserang adalah Muslim sehingga tanggung jawab untuk menjaga kehormatan sesama Muslim tidak bisa dilepaskan. Terlebih lagi bahwa Cina merupakan salah satu negara komunis besar saat ini secara ideologi akan manjadikan Islam yang dianut oleh bangsa Uighur sebagai ancaman eksistensi bagi ideologi komunis.

Jika bangsa Uighur mampu membangkitkan kembali semangat tentang kejayaan Uighur di bawah bendera Islam, maka hal tersebut akan menjadi ancaman yang besar bagi komunis Cina karena sentimen keagamaan akan sangat mudah digerakkan jika telah mengausai pemikiran. Muslim Cina selain Uighur akan ikut tergerak. Untuk mencegah hal tersebut diadakanlah kamp “Pendidikan kembali” untuk mencegah berkembangnya pemikiran Islam ideologi.

Penutup
Uighur merupakan bagian dari kaum Muslimin yang wajib mendapatkan pertolongan sebagaimana firman Allah SWT, “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib memberikan pertolongan: (QS. Al-Anfal: 72).

Sangat disayangkan saat ini tidak ada seorang pemimpin Muslim yang mau mengirimkan pasukannya. Mereka cenderung diam, fakta Uighur terungkap justru oleh Barat, mereka sesungguhnya punya kepentingan untuk menekan Cina dimata internasional karena Cina telah hadir sebagai negara adidaya baru. Maka isu pelanggaran hak asasi manusia ditampilkan untuk menekan pemerintah Cina. Pemimpin kaum Muslimin (Indonesia misalnya) justru memberikan pembenaran dengan menyatakan bahwa kasus Uighur sama dengan separatis GAM di Indonesia.

Realitas tersebut hendaknya menyadarkan kita pentingnya kehadiran seorang khalifah sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya imam (khalifah) itu laksana perisai. Kaum muslimin akan berperang dan berlindung di belakang dia.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Kekuatan khalifah sebagai pemimpin 1,5 miliar kaum Muslimin dengan kesatuan wilayah yang besar akan mampu menggentarkan musuh-musuh kaum Muslimin. Dengan Khilafah Islamlah akan mengakhiri penderitaan Muslim Uighur.[MO/sr]


 

Posting Komentar