[Pakde Nyontek Lagi]

Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Pakde begitu memukau, didebat edisi perdana. Pakde, memukau pemirsa ketika menundukan muka, mencoba menguntit secuil atau seluruh isi teks yang ada dihadapannya. Teks, yang telah diramu dengan doa doa agar mampu menyihir pemilik suara.

Pakde, layaknya suster Maria. Menundukan muka, malu menunjukan tulisan yang ada dalam genggaman, yang matanya telaten mengeja, sambil sesekali menatap Kedepan, menunjukan aksen wibawa memandang semua pemirsa, seolah tak pernah mengutip huruf dari bait kalimat yang tersedia.

Ini adalah kesah pertama, kesan yang begitu menggoda. Kesan yang akan menyampaikan pesan pada benak pemilik suara, bahwa Pakde memang orang yang setia pada setiap bait tulisan. Untuk kali ini Pakde telaten membaca, tidak 'mengelak pernah membaca meskipun telah menandatangani'.

Kesan pertama ini, akan menghantarkan pemirsa pada kesimpulan : siapkan kertas dan pena, agar Pakde dapat mengeja kata, untuk mengunggah mimpi dan arah masa depan bangsa. Jadi, berdamailah dengan Pakde, ya memang begitulah dia.

Sebenarnya substansinya bukan pada soal membaca atau mampu mengurainya dengan tatapan tajam tanda paham akan apa yang diucapkan. Tetapi, soal bagaimana merangkai narasi bagi masa depan bangsa. Untuk mengunggah mimpi saja kesulitan, bagiamana mengukir kenyataan atas ironi hukum, HAM, korupsi dan terorisme ?

Hukum apa yang tebang pilih, yang mengejar ujaran kritis rakyat tapi abai memproses penista agama. Bagaimana memberantas korupsi, jika pedang hanya terhunus tajam kepada lawan politik. Isu hak asasi bukan untuk umat Islam, dimana ajaran dan simbol Islam saja dikriminalisasi.

Kebebasan berserikat dan berpendapat diberangus. Dan, membaca mantera berulang tentang terorisme tapi hanya digunakan untuk menampar wajah umat Islam.

OPM bukan teroris, hanya KKB atau KKSB. Pelaku bom alam sutera bukan teroris, karena pelaku beragama non Islam. Terorisme, hanya diarahkan untuk memburu dan mendeskreditkan umat Islam.

Sudahlah Pakde, meski memukau berpidato tanpa membaca teks bagi kami itu juga tidak berpengaruh, tidak mungkin mampu menipu kami, setelah dusta dan tipu daya diproduksi sejak 2014. Tanpa APBN saja, Anda berani berdusta menjanjikan gaji untuk aparat desa. Lantas, mau percaya di aspek yang mana ?

Kesan pertama ini cukup bagi kami, menjadi bekal untuk menjauhkan preferensi politik kepada Anda yang suka mengumbar dusta dan khianat. Kemeja putih tdk melambangkan kebersihan, manipulasi telah dirintis sejak pemilihan warna busana.

Anda selalu teriak kerja, kerja dan kerja. Tapi faktanya, Anda selalu ngutang, ngutang dan ngutang. Tentu, fakta ini sangat cukup menjadi alasan bagi kami unjuk tidak melabuhkan pilihan politik kepada Anda, rezim yang represif dan anti Islam. [MO/ge]

Posting Komentar