Oleh : Rizkya Amaroddini
(Mahasiswi STEI Hamfara)
   
Mediaoposisi.com- Konsep dasar nation-state didasarkan pada konsep nasionalisme. Dalam Nation-State (negara-bangsa), rayat mengidentifikasi diri mereka sebagai sebuah”Bangsa” yakni kumpulan manusia yang di satukan karena kesamaan etnis, budaya, sejarah, bahasa, atau berdirinya sebuah negara. Nation-state berawal di Eropa pasca Perjanjian Damai Westphalia (Peace of Westphalia) tahun 1648, sebagai perlawanan terhadap sistem feodal (monarki).

Setelah revolusi Prancis (1789), konsep nation-state berperan dalam penentu strukur geo-politik Eropa. Bersama munculnya ide-ide utama yang di hasilkan pada Abad Pencerahan (17 s/d 19), seperti demokrasi, liberalisme, dan sekulerisme. Konsep nation-state di ekspor dari tempat lahirnya di Eropa, terutama melalui jalur penjajahan.
   
Konsep nation-state telah menimbulkan disorientasi  jati diri, disintegrasi dan perpecahan kaum muslimin. Umat Islam mengalami disorientasi jati diri sehingga tersesat dalam mengidetifikasi dirinya. Seperti Turki dan Arab, yang awalnya mengidentifikasi bahwa mereka sebagai “Bangsa Turki” dan “Bangsa Arab”, inilah racun yang menjadi cikal bakal disintegrasi dan perpecahan umat Islam termasuk “Bangsa Indonesia” yang menyatakan diri sebagai negara yang tidak ikut andil dalam urusan kaum muslimin.

Adapun faktor eksternal berasal dari konspirasi kafir penjajah untuk memecah belah umat Islam melalui perjanjian Sykes-Picot pasca Perang Dunia I (1914-1918). Perpecahan yang di lakukan dengan menyekat-nyekat menjadi ‘Bangsa-bangsa’ dengan dasar ‘Nasionalisme’.

 Kelemahan Nation-state di berbagai segi kehidupan :
Nasionalisme sebagai dasar nation-state adalah ide yang paling lemah secara intelektual. Seperti ungkapan Adams dalam bukunya “Political Ideology Today” (1993). Yang berarti nasionalisme di dasarkan pada aspek emosi dan sentiment bukan berdasar dari aspek intelektual yang melahirka pemikiran jernih dan rasional.

Pengertian nation sebagai dasar nation-state tidak ada kejelasan. Konsep bangsa sebenarnya mengarah sebagai mitos/imajinasi bukan sebagai realitas factual.
Nasionalisme adalah ide kosong yang tidak terealisasikan dalam sebuah pengaturan di masyarakat. Artinya nasionalisme dapat di kawinkan dengan ide liberalism, konservatisme, sosialisme, bahkan Marxisme.

Penyebab nasionalisme bisa tercampur dengan berbagai ide karena substansi ide nasionalisme tidak bisa mengatur dalam kehidupan. Kata Ian Adams, “ Ide nasionalisme telah gagal mennjawab persoalan yang biasanya di harapkan dari sebuah ideology.” (Adams, 2004 : 146)
Hal ini telah menjawab mengapa Indonesia memiliki ikatan yang semu yakni nasionalisme dan patriotisme  sehingga mewujudkan masyarakat yang individualis dan apatis terhadap saudara semuslim di seluruh dunia.
     
Umat Islam yang tersebar di berbagai penjuru  dunia berkisar 50-an negara menerapkan nation-state mengakibatkan terkena racun yang dapat melumpuhkan dan memaikan. Dampak dari hal ini, hegemoni Barat di bawah pimpinan AS telah menggencarkan ikatan ini di seluruh dunia. Ironisnya umat Islam tak sadar dengan itu, sehingga tak ada perlawanan dalam mengentaskan masalah nation-state.

Islam memiliki kesempurnaan di seluruh aspek kehidupan. Islam menegaskan ketunggalan Umat, ketunggalan Daulah, ketunggalan Bendera. Artinya umat Islam yang tersebar di seluruh penjuru dunia, apa pun suku atau bangsanya, hanya ada 1 Negara yang menaungi mereka yaitu Daulah Khilafah. di bawah kepemimpinan satu orang khalifah. Keunggulan konsep khilafah dapat di rumuskan dengan kata “ al-quwwah wat tha’ah” (kekuatan dan ketaatan).

Umat Islam akan menjadi satu kesatuan yang bersatu. Persatuan ini dengan sendirinya akan menyatukan pula segala sumber daya yang di  miliki oleh umat Islam, SDM (Ahi, Tentara, Pekerja,dll) dan SDA (Emas, Minyak, Gas,dll). Persatuan ini akan menjadi kekuatan dahsyat yang memberikan maslahat bagi umat manusia. Persatuan ini yang dapat melawan hegemoni  Kapitalisme dan sosialisme  yang kejam dan rakus.[MO/sr]

Posting Komentar