Oleh: Bela Andriani, S.Pd
(Member Komunitas Remaja Islam Peduli Negeri)

Mediaoposisi.com- Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi namun ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri (Buya Hamka). Kalimat tersebut agaknya tepat menginterpretasikan penguasa hari ini. Mereka menjadikan alquran sebagai ajang perlombaan untuk menaikkan elektabilitas bahkan menjatuhkan lawan politiknya semata.

Baru-baru ini polemik capres dan cawapres semakin memanas. Ditambah dengan lontaran gagasan Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishak, di Banda Aceh. "kami mengusulkan tes baca al-quran kepada kedua paslon". Hal ini langsung disambut oleh politisi PDIP Maruar Sirait, ungkapnya " Bila test tersebut jadi digelar maka paslon nomor urut 01 Jokowi-Ma'aruf siap untuk melaksanakannya, karena Pak Jokowi seorang yang agamis sekaligus nasionalis". (Merdeka.com, 30/12/2018)

Berbeda tanggapan dengan kubu sebelah, Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiago Uno menilai tes baca alquran tak perlu dilakukan karna yang lebih penting pengamalan kitab suci dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Okezone, 30/12/2018)

Adapun tes baca alquran yang diajukan mereka tidak lain bertujuan untuk mengakhiri polemik keislaman paslon serta meminimalkan politik identitas yang terlanjur dilakukan oleh pendukung mereka.

Membaca alquran sejatinya diaunnahkan dalam islam dan menerapkannya adalah kewajiban tiap muslim. Terutama oleh penguasa yang memimpin di setiap negeri. Sebagaimana tertuang dalam surah Al-Maidah ayat (44) yang artinya "siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu Allah yang telah Allah turunkan, mereka itulah orang-orang kafir".

Bisa atau tidaknya membaca alquran bukanlah satu-satunya syarat untuk menjadi pemimpin. Melainkan paham dan mampu menerapkan alquran yang seharusnya dijadikan syarat kelayakan seorang Pemimpin. Karena kalau sekedar membaca alquran level anak usia dini pastinya juga bisa.

Alquran adalah kitab hukum buatan allah bukn fiksi apalagi khayalan yang didalamnya mengatur tentang ibadah, akhlak, ekonomi, pemerintahan, hingga militer. Dapat dikatakan aturannya dari bangun tidur sampai bangun negara dan dari masuk toilet sampak masuk surga. Intinya meliputi seluruh aspek kehidupan.

Karena itu Indonesia sebagai negeri mayoritas penduduk muslim, sudah seharusnya menjadikan ruh islam sebagai sepirit kehidupan dengan membumikan Alquran, bukan sekedar mengeksploitasi alquran untuk kepentingan politik semata.[MO/sr]

Posting Komentar