Oleh: Irsa Salsabillah
(Komunitas Mahasiswi Mengaji Jatinangor)

Mediaoposisi.com- Awal tahun ini Indonesia diramaikan dengan berita turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kebijakan ini ternyata mendapat reaksi pro dan kontra dari masyarakat. Adapun rekasi kontra  ini kemungkinan karena beberapa kejanggalannya.

Pertama, Pertamina tidak menurunkan biaya BBM ketika perusahaan BBM swasta menurunkan hargan pada Bulan November 2018 kemarin ketika harga minyak dunia turun.

Direktur Minyak dan Gas Bumi Kementrian ESDM, Djoko Siswanto memang menyatakan bahwa penurunan harga BBM non subsidi paling lambat pada Januari 2019. Namun hal ini hanya untuk Pertamina, sedangkan perusahaan swasta sudah menurunkan harga sejak Bulan November tahun kemarin. Alasan Pertamina yaitu sebab mereka harus menghabiskan stok yang dibeli sebelum harga turun.

Kedua, penurunan harga BBM nonsubsidi awal tahun ini terjadi di tengah harga minyak dunia yang sedang merangkak naik.

Pada Bulan Januari 2019 ini harga minyak mentah Brent LCOc1 mengalami kenaikan sebesar USD 1,11 atau 1,98 persen menjadi USD 57,06 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik sebesar 87 sen (1,85%) menjadi USD 47,96 per barel.

Ketiga, apabila penurunan harga BBM ini mengikuti penurunan harga minyak dunia pada Bulan November 2018 kemarin seharusnya BBM turun sebesar 30%, bukan hanya 1,9%.
Sejak November sampai Desember 2018, harga minyak mentah sudah turun kurang lebih 30% dari sekitar USD 80 menjadi 55 per barel. Namun, harga Pertamax per 5 Januari 2018 hanya diturunkan sebesar Rp 200 per liter (1,9%). Begitu juga dengan BBM nonsubsidi lain yang turunnya tidak sampai 2%.

Begitulah fakta BBM hari ini.Harus diakui bahwa kita cukup bergantung terhadap produksi minyak dunia. Sehingga besar kecil harga BBM dalam negeri tergantung terhadap besar kecil harga BBM dari minyak dunia.  Sebagai seorang muslim kita harus melihat segala sesuatu dari kaca mata Islam dan sudut pandang syariat Islam. Lantas, bagaimana Islam mengatur dalam perihal BBM? Dan bagaimana Islam memberikan solusi perihal BBM ini?

Al-Hafidzh Ibnu Hajar al- Asqalani di dalam kitab Bulughul Maram menyebutkan bahwa:

عَنْ رَجُلٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ قَالَ: غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: «النَّاسُ شُرَكَاءُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: فِي اْلكَلَإِ وَاْلمَاءِ وَالنَّارِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ.

Dari salah seorang Sahabat radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata: Saya berperang bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, lalu aku mendengar beliau bersabda: {{Manusia adalah serikat dalam tiga hal: dalam padang rumput, air, dan api}} ( HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Hadist di atas menjelaskan bahwa barang-barang tambang seperti minyak bumi beserta turunannya seperti gas, bensin, listrik, hutan, air, api, padang rumput, jalan umum, sungai dan laut adalah milik umum. Tugas negara adalah mengelola nya dan mengembalikan hasil pengelolaan itu dengan mendistribusikan terhadap rakyat. Ketika membayar pun, hanya diperuntukkan menutupi biaya produksi. Bukan tujuan keuntungan atau bisnis. Karena hakikatnya semua itu milik umat dan negara hanya bertugas mengelolanya.

Sementara hari ini, konsumsi BBM negeri kita bergantung pada perkembangan minyak dunia, walaupun kita memiliki banyak titik-titik tambang perminyakan, namun tidak bisa menikmati nya secara langsung, karena masih dalam keadaan minyak mentah. Sementara pengelolaan minyak mentah dilakukan di luar negeri. Sehingga ketika harus membeli kembali dengan harga lebih mahal.
Kalau kita memiliki politik will (kemamuan politik) yang kuat, tentu negeri kita bisa mengelolanya secara Independen.

Namun, semua itu hanya akan dapat terwujud tidak sekedar diniatkan oleh pemimpin yang baik, namun harus juga dengan sistem yang baik, dengan cara penerapan Islam secara kaffah, dan Islam akan dapat diterapkan secara kaffah ketika umat Islam pun sadar akan pentingnya Islam, dan dengan cara apalagi kesadaran akan terbentuk jika bukan karena dakwah.[MO/sr]



Posting Komentar