Putri Eka Savitry
(Mahasiswa Universitas Padjadjaran)

Mediaoposisi.com-  Dunia politik ala demokrasi di Indonesia sedang memanas menjelang pemilihan
presiden 2019. Hingga muncul sebuah “tantangan” yang datang dari kaum muslim dalam negeri ini sendiri, dimana Ikatan Dai Aceh mengundang dua kandidat calon Presiden RI untuk uji baca Al-Quran.

Alasan mendasar yaitu kedua Capres beragama Islam dan penting bagi umat Islam untuk mengetahui kualitas calon presidennya (Tribunnews.com). Respon yang timbul pun beragam, mengemas berbagai kata dan bahasa, padahal hanya 1 inti saja, pro atau kontra.

Menjual Nama Agama Demi Perhatian Sudah menjadi tradisi bagi Indonesia menjelang pilpres dengan berusaha menampakan sisi alim para calon, tapi lupa menerapkan syariat dalam kehidupan bernegara ketika memimpin.

Kedok mereka memiliki ilmu agama yang mumpuni, padahal tidak lebih hanya untuk menarik perhatian rakyat. Ketika sudah menjadi pemimpin, ia bahkan lupa dengan janjinya yang sudah dirangkum oleh berbagai media dan mungkin tidak cukup bila dituangkan dalam selembar kertas.

Nyata dan jelas bahwa politik yang diusung oleh demokrasi hanya menjadikan agama sebagai alat untuk meninggikan derajat di mata manusia, bukan di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka selalu menggaungkan untuk tidak membawa agama dalam berpolitik, padahal mereka menjual nama agama demi politik yang mereka sebut sebagai solusi dari setiap masalah di negara.

Padahal, sistem demokrasi merupakan sistem yang jauh dari nilai Islam, tapi demokrasi membuat umat Islam lupa bahwa segara aturan datangnya hanya dari Sang Pencipta yang tidak memiliki keperluan atas apapun, bukan dari manusia dengan segala hawa nafsunya seperti yang ada dalam demokrasi.

Penerapan Syariat Islam oleh Pemimpin Dalam sistem Islam, bukan masalah apabila seorang pemimpin tidak memiliki ilmu agama yang mumpuni sekelas ulama, tetapi mereka diwajibkan untuk menjadi kendali dalam penerapan syariat Islam secara sempurna. Tentu penerapan ini membutuhkan ilmu, oleh sebab itu diwajibkan pula atasnya untuk selalu meminta nasihat, salah satunya dari para
ulama yang paham secara keseluruhan isi Al-Quran dan Sunnah.

Kitab suci Al-Quran diturunkan untuk diterapkan, bukan hanya dibaca. Disebarkan oleh Rasulullah untuk dipelajari isinya sehingga paham secara seutuhnya, bukan sebagian saja. Sekulerisasi dalam
bernegara adalah buah dari penerapan demokrasi yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Hukum Allah dipermainkan dan dipilih sesuka hati saja, melupakan bahwa yang seharusnya diadili dengan Al-Quran adalah zaman, bukan zaman yang mengadili Al-Quran. Padahal, Allah telah memperingatkan manusia untuk tidak berbuat demikian agar Ia tak mendatangkan azab-Nya. Sungguh manusia telah lalai dari ketaatan pada Allah Yang Maha Pemberi. [MO/ra]

Posting Komentar