Oleh : Nasrudin Joha
[Puisi Untuk Mantan Kiyai]

Mediaoposisi.com-Aku pikir kau 'menyesal' karena telah meninggalkan umat, Melabrak lereng bukit, menembus bumi, melupakan 'kulit' kacangmu, Melupakan 'dzat' yang menciptamu, Melupakan rahim, dimana engkau dahulu lahir dan dibesarkan.

Aku fikir 'kau' akan kembali ke bilik dzikirmu, Berkhalwat hangat, mengaduh pada Tuhanmu, Mengabarkan banyaknya noktah yang telah menganga menjadi belantara dosa, Banyaknya ucap yang 'menusuk' seisi alam semesta, Banyaknya tingkah laku 'yang mengguncang' jagat raya.

Aku fikir, kau telah kembali menjadi rahib suci sebagaimana dahulu pembawaanmu, Menjadi karib dan menampakan muka yang merekah menemui sanak saudaramu.

Aku fikir, kau menyesal,?Telah menjadi batu pijakan onggokan kezaliman, Telah menjadi 'bunker' tempat bernaung tirani dan represifme Menjadi pengedar 'fatwa halal' atas ujaran kedustaan.
Ternyata ....Kau menyesal untuk 'si Durjana' Kau menyesal untuk 'si mulut jamban', Ka.u merintih untuk 'suara-suara palsu' dan mengabaikan suara ketulusan yang selama ini berkhidmat kepadamu.

Ternyata, bergaul dengan penguasa telah mewariskan sifat durjana, Berpeluk dengan onggokan dunia membuat diri menjadi tak berharga Bergumul dengan kumpulan penista agama, telah menghilangkan aura kesalehan.

Ah sudahlah, Kita memiliki sumpah masing-masing, Aku dan Tuhanku telah membuat janji, Sebagaimana Tuhanku juga telah mengikat sumpah terhadapmu, terhadap alam semesta, terhadap kehidupan, terhadap manusia
Aku tiada berharap kebajikan, Selain apa yang telah ditetapkan Tuhanku dan Tuhanmu, Nuh tiada berdaya terhadap sang Putera, Luth tiada kuasa atas sang istri,
Bahkan, Rasulullah SAW pun, tiada kuasa atas apa yang terjadi pada paman tercinta.

Cukuplah nasehat bagi siapa saja yang berharap kembali ke kampung akherat, Bahwa menukar akherat dan surga, dengan seluruh isi dunia adalah 'bisnis yang merugikan'

Kau, Aku berdoa buat Kau, Agar ada umur panjang, agar ada sempat waktu untuk bertaubat, Sebelum saat rehat, rehat sementara dari dunia, menuju siksa yang Sesunggunya, datang sekonyong-konyong menjemputmu. [MO/ge]

Posting Komentar