Oleh: N. Vera Khairunnisa

Mediaoposisi.com-Kasus artis yang terlibat prostitusi online menjadi trending topik minggu ini.
Kerelaan salah satu artis dibayar seharga delapan puluh juta untuk menyerahkan kesuciannya, memancing beragam respon dari masyarakat.

Masyarakat yang merespon negatif, jelas karena memahami bahwa prostitusi atau zina merupakan perkara yang diharamkan oleh Allah.

Sebab konsekuensi melakukan keharaman adalah mendapat dosa dan ancaman siksa neraka. Sehingga apapaun alasannya, tetap saja tidak boleh dilakukan, apalagi hanya diiming-imingi dengan bayaran delapan puluh juta.

Namun sayang sekali, di tengah-tengah masyarakat yang merespon negatif, masih ada saja yang memberikan respon "positif". Menanggapi kasus prostitusi yang banyak menuai kritik dari masyarakat itu, seorang penulis yang tulisannya dulu sempat viral namun ternyata ketahuan plagiat, dia menuliskan beberapa poin.

Poin pertama yang paling memancing emosi dan memunculkan beragam kritik, khususnya para ibu atau istri, yakni dia penasaran bagaimana VA membangun value/nilai dirinya, sehingga orang-orang mau membayar tinggi di atas harga reguler.

Dia menulis bahwa para istri saja, hanya dibayar sepuluh juta, itu belum harus merangkap jadi koki, tukang bersih-bersih, baby sitter, dll. Lalu dia mengakhiri poin satu dengan kalimat, "Lalu yang sebenarnya murahan itu siapa?"

Menurut salah satu tokoh yakni Ustadz Felix Siauw, nakal itu ada dua, nakal kelakuan dan nakal pemikiran. Nakal kelakuan itu seperti anak kecil, sebabnya tak paham atau karena memang lalai. Biasanya nakal jenis ini spontanitas, dan polanya tak berulang.

Beda dengan nakal pemikiran, ini lebih berbahaya, sebab dia konseptual, bentuknya ide, seperti virus, menjangkiti dan menyebar, menyebabkan pola kemaksiatan, dan tidak hanya nakal sendiri, dia mencari pengikut untuk sama-sama nakal.

Hati-hati Kaum Feminis

Munculnya orang-orang yang memiliki pemikiran nakal seperti itu bukanlah hal yang aneh. Mereka adalah manusia yang lahir dan dibentuk secara sistemik untuk menjaga agar sistem kapitalis sekuler senantiasa eksis.

Orang yang memiliki cara pandang seperti itu senantiasa hadir untuk memberikan komentar terhadap berbagai kasus yang ada, dengan tujuan untuk menjauhkan masyarakat dari cara berpikir yang Islami.
Khususnya yang berkaitan dengan problem perempuan, maka yang muncul adalah kaum feminis.

Dulu, sewaktu ada pelecehan terhadap salah satu artis, masyarakat juga banyak yang menyalahkan artisnya.
Karena artis tersebut berpakaian tidak tertutup.
Menanggapi reaksi atau respon dari masyarakat ini, kaum feminis hadir.

Salah satu tokoh feminis menunjukkan kekecewaannya terhadap masyarakat dengan mengatakan bahwa, tidak selayaknya sesama perempuan itu saling menjatuhkan.

Justru seharusnya saling memberikan support. Sebab dalam kasus tersebut, banyak dari kalangan perempuan yang malah membully artis korban pelecehan.

Di akhir, dia menyampaikan terkait dengan pakaian bagi perempuan. Bahwa perempuan itu berhak dan bebas memakai pakaian apa saja yang dia suka.
Dan para lelaki tidak berhak untuk bernafsu melihat perempuan yang memakai pakaian terbuka.

Jangan sampai ada pandangan di masyarakat bahwa ketika perempuan berpakaian terbuka, maka wajar jika para lelaki bernafsu sehingga akhirnya terjadilah kasus pelecehan.

Dalam kasus prostitusi artis kali ini,  penulis plagiat hadir sebagai salah satu corong feminis, sebab pola pemikirannya sama.

Bisa dilihat dari tulisan di poin ke empat, dia menulis, "Dalam masyarakat kita, memang apa-apa salah perempuan. Pemerkosaan salah perempuan. KDRT salah perempuan. Poligami salah perempuan.

Suami selingkuh salah perempuan. Hamil di luar nikah salah perempuan. Prostitusi salah perempuan. Mengapa? Sederhana, karena masyarakat kita masih jahat terhadap perempuan.

Tidak ada kesetaraan gender, literasi sangat rendah, kaum terdidik masih sedikit. Ya begitulah karakteristik negara berkembang yang sakit kronis, penuh pejabat korup, banyak masalah SARA/HAM, kesejahteraan kurang."

Kaum feminis senantiasa berupaya untuk menanamkan pemikiran kapitalis.  Pemikiran yang memiliki pandangan bahwa standar kebahagian adalah ketika terpenuhi segala kepuasan naluri dan kebutuhan jasmani.
Atau ketika bisa meraih kepuasan materi setinggi-tingginya, tidak memedulikan halal haram. Yang penting senang.

Dalam kasus VA, konsumen berani mengelurkan puluhan juta demi bisa meraih kepuasan seksual. Dia tidak takut dosa. Tidak malu sudah merendahkan harkat wanita.

Sedangkan VA, dia mengorbankan kesucian dan harga dirinya, demi mendapatkan uang yang nilainya tidak seberapa jika dibanding dengan konsekuensi yang ia terima.

Di dunia, dia mendapatkan hinaan dan hujatan. Di akhirnat, dia mendapat dosa dan siksa. Inilah akibat jika kapitalisme sudah bersarang di benak manusia.

Perempuan Mulia Dalam Islam

Di dalam Islam, yang menjadi standar kebahagiaan adalah tercapainya keridhaan Allah swt.
Maka, mereka yang memiliki pemikiran Islam, akan selalu berusaha untuk berada dalam ketaatan pada Allah, dalam kondisi sesulit apapun.

Misalnya saja, di negara lain ada banyak kasus perempuan yang berupaya mati-matian agar auratnya tetap tertutup, di tengah-tengah ancaman dan teror manusia yang benci terhadap aturan Islam.
Mereka istiqamah dalam ketaatan, karena itulah yang menjadi standar kebahagiaan.

Di Indonesia, ada begitu banyak perempuan yang berkorban dan berkontribusi besar dalam melahirkan generasi. Mereka rela menjalani tugas sebagai istri dan ibu, semata-mata hanya karena ingin mendapat balasan pahala dan surga.

Oleh karena itu, dalam menyikapi kasus VA ini, sudah seharusnya para perempuan untuk saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain.

Bahwa sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, seindah-indahnya perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah. Wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya, itulah wanita yang mahal dan tak ternilai harganya.

Di rumah, dia selalu menyenangkan suami dan mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak  yang shalih dengan kesabaran dan kasih sayang. Di luar rumah, dia menjadi pengemban dakwah, yang senantiasa berupaya menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar.

Terakhir dan yang paling penting adalah bahwa, selama sistem yang diterapkan adalah kapitalis sekuler dan bukan Islam, akan selalu lahir dan hadir para perempuan yang rela menjual kehormatannya demi pundi-pundi rupiah.

Akan selalu hadir juga kaum feminis yang dengan bangga memiliki pandangan seolah memperjuangkan nasib perempuan, padahal kenyataannya malah menjatuhkan perempuan.

Maka solusinya adalah dengan menjadikan Islam sebagai aturan dalam kehidupan. Sebuah aturan yang akan melindungi dan menjaga kehormatan perempuan.[MO/AD]

Posting Komentar