Oleh: Amma Muiza

Mediaoposisi.com-  Bisnis prostitusi online yang melibatkan sejumlah selebriti kembali mencuat. Lebih dari 45 artis dan 100 model wanita terlibat dalam jaringan besar bisnis prostitusi online.(detik.com, 8/1/19)

Penemuan tersebut juga menguak keterlibatan dua orang muncikari. Dalam keterangannya, Polda Jatim menyatakan dua muncikari tersebut hanyalah anggota dari suatu jaringan besar prostitusi online di Indonesia (Republika, 7/1/19)

Dua puluh lima juta hingga tiga ratus juta rupiah menjadi tarif para artis untuk sekali pakai. Dengan
hitungan sederhana saja dapat diperkirakan hasil yang menggiurkan di bidang ini. Tak pelak, bisnis
prostitusi jadi pilihan utama pemuja syahwat. Terlebih dengan perkembangan internet, bisnis prostitusi kini beralih online.

Kondisi ini tidak hanya di Indonesia. Bahkan di berbagai belahan dunia, bisnis prostitusi online memiliki situs legal untuk pemesanan jasa zina ini. Sebuah studi menyebut, internet mempermudah penjaja seks melakukan promosi, berbagi kisaran harga, strategi bahkan hingga peringatan terhadap konsumen yang buruk.

Sebaliknya, konsumen juga bisa dengan mudah memilih wanita panggilan, biaya, dan tempat
bertemu hanya lewat internet atau sosial media (detikfinance.com, 7/1/19)

Dengan meluasnya bisnis ini, perputaran uang di dunia hitam prostitusi mencapai ratusan miliar dolar. Sebuah laporan dari Havocscope mencatat, total perputaran uang dari bisnis prostitusi mencapai US$ 186 miliar atau bila dihitung dengan kurs saat ini mencapai Rp 2.697 triliun (kurs: Rp 14.500/dolar AS).

Sedang Indonesia berada di antara 24 negara yang ada di daftar Havocscope (detikfinance, 7/1/19)

Bisnis yang seolah tidak pernah tidur ini berkembang sangat pesat dalam peradaban kapitalistik. Menurut Sosiolog Imam Prasodjo, bisnis prostitusi - termasuk yang dilakoni artis - merupakan dampak era kapitalisme global. (BBC News Indonesia, 6/1/19)

Dalam kapitalisme segala sesuatu dapat diperjual-belikan. Wanita dan imaji jadi komoditas. Barang
dagangan yang dihargai dengan kepingan mata uang. Kapitalisme mengeksploitasi tubuh wanita untuk memancing dorongan seksual. Berujung pada hasrat peningkatan daya jual beli sebesar-besarnya.

Dalam kapitalisme, kebutuhan dan keinginan tidak berbatas tegas. Segala keinginan, hasrat ingin memiliki, dianggap seolah kebutuhan individu. Barang mewah dan gaya hidup konsumtif dianggap
kebutuhan. Ingin eksis dan bergaya trendi hanyalah salah satu contoh keinginan yang dianggap kebutuhan. Yang harus dipenuhi dengan berbagai cara. Termasuk menjerumuskan diri dalam kelam
dunia prostitusi.

 Padahal sejatinya hal-hal tersebut bukan kebutuhan dasar individu. Selain itu, kebahagiaan dalam peradaban Kapitalistik diukur dengan materi. Maka tak heran, banyak orang bekerja keras demi materi. Tanpa peduli kerusakan yang jadi akibatnya. Dalam bisnis prostitusi, penjaja seks bekerja keras meningkatkan nilai jual tubuhnya. Sedang konsumennya berhasrat memuaskan syahwat hinanya.

 Semua ini dianggap sebagai upaya meraih kebahagiaan. Kerusakan dan krisis moral tidak lagi jadi filter. Nasihat agama serupa debu yang tidak bernilai. Inilah bukti, peradaban Kapitalistik meniscayakan suburnya bisnis prostitusi. Selama kapitalisme melindungi, maka bisnis ini semakin menjadi. Inilah peradaban rusak dan merusakkan yang sudah seharusnya dicampakkan ramai-ramai.

Saatnya kembali kepada dekapan rahmah. Penerapan syariat Allah swt yang kaffah. Pelaksanaan ajaran Islam yang sesuai fitrah insaniah. Terbingkai dalam naungan Khilafah. Dengan hal tersebut, maka redupnya bisnis prostitusi adalah niscaya. Wallahu a'lam bi showab. (MO/ra)

Posting Komentar