Oleh: Aryani Nurjanah 
(Member Akademi Menulis kreatif)

Mediaoposisi.com- Tahun berganti menjadi 2019 kado tahun ini pun sangat mengejutkan dengan diawalinya berita prostitusi yang bertarif tinggi.

Menurut Seorang gadis belia bernama Afi Nihaya dikutip dari status akun media sosialnya menyatakan bahwa seorang  pelacur/psk seolah lebih tinggi derajatnya di banding seorang istri yang melayani suami demi meraih ridho illahi. Bahkan dia penasaran dengan  pelacur/psk yang memasang tarif 80 juta, dan merendahkan seorang istri yang diberi nafkah 10juta perbulannya karena tugasnya menjadi seorang ibu rumah tangga.

Sungguh miris generasi yang telah bergeser kebahagaiannya hanya demi meraih materi sebanyak banyaknya, yang semakin hari kian jauh dari akhlaq rabani.

Jati diri muslim  hilang oleh orang-orang yang rela menukar agama mereka dengan uang. Membuat jauh dari jati diri sesungguhnya yang diberi gelar oleh Sang Penciptanya yaitu umat terbaik yang tertuang dalam firmannya Allah SWT.
Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ  بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ  

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 110).

Di ayat ini sudah sangat jelas bahwa umat islam adalah umat terbaik, namun saat ini sistem  kapitalis buah dari sekulerme  nyata  telah menghilangkan gelar terbaik bagi umat islam, menjadi hina dan kuno.

Dan sistem  ini membuat manusia bertingkah laku seperi binatang bahkan lebih rendah dari binatang, dimana kemaksitan seperti pelacuran/perzinahan dan homosexsual  difasilitasi dan dibiarkan dengan dalil hak asasi.

Berbeda dengan islam yang melindungi harta dan kehormatan kaum muslimin serta seluruh umat manusia.

Adapun  sanksi dalam phukum islam mempunyai tujuan yaitu:
1. Untuk menghukum pihak yang melakukan tindak kriminalitas, atau dengan kata lain bertindak sebagai *kaffarat(tebusan)* dan upaya perbaikan terhadap pelaku kriminal.
2. Berfungsi sebagai sarana untuk mencegah masyarakat dari melakukan tindak kriminal.
3. Berfungsi sebagai sarana ganti rugi bagi pihak-pihak yang menjadi korban tindakan kriminalitas.

Seperti hukuman bagi pelaku zina adalah dicambuk sebanyak 100 kali(bagi pezina laki-laki maupun perempuan yang belum pernah menikah). Sedangkan bagi pezina laki-laki dan perempuan yang sudah menikah dikenai sanksi hukuman rajam atau dilempari batu hingga tewas.( sumber: Buku Mengenal Sistem Islam dari A sampai Z karya Jalal Al-Ansari, halaman 289-295).

Semua hukum ini hanya bisa dilaksanakan oleh negara yang menerapkan syariat islam secara menyeluruh.

Dengan diterapkannya islam dalam seluruh aspek kehidupan, dalam naungan Daulah Khilafah  yang mengikuti manhaj kenabian, yang akan menurunkan berkah dari langit dan bumi.[MO/sr]


Posting Komentar