Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Bukan tanpa tantangan, bahkan banyak juga yang berdarah-darah emoh kepada vigour tokoh yang dianggap membuat junjungannya masuk penjara. Tapi akhirnya, Kiyai itu pun menjadi wakil mendampingi Jokowi.

Mimpi yang diunggah, adalah adanya gerakan 'bedol deso' umat Islam untuk ikut nimbrung milih Jokowi atas pertimbangan kehadiran Mbah Yai yang menjaga wakilnya. Faktanya ? Apes. Umat Islam tetap teguh untuk terus melawan kezaliman rezim represif dan anti Islam.

Sosok mbah Yai, dianggap hanya menyumbang 2% saja elektabilitas dan keterpilihan. Itupun, diakhir akhir justru dianggap menjadi beban politik, sampai tidak dapat kursi untuk rapat, dengan berbagai argumentasi. Ternyata, mimpi indah berujung kecelakaan politik yang fatal.

Belum lagi, tokoh Madura yang tadinya digadang menjadi wakil secara eksplisit memang tidak melawan, tetapi secara implisit telah mengumumkan 'carok' untuk membela harga diri, kehormatan, dan Nasab Bani Madura. Disusul lagi blunder Ora Nyala malah Mati, bukannya menyerap suara Jatim khususnya Madura, kesombongan ungkapan 'potong leher' La Nyala justru memantik perlawanan umat, khususnya Bani Madura.

Saat ini, Jokowi Amsyong lagi, apes. Niatnya juga sama, membebaskan Ust ABB agar umat merunduk dan ikut empati kepada Jokowi atas pertimbangan kebaikan Jokowi kepada Ust ABB. Faktanya ? Tidak juga. Bahkan, banyak suara yang mengkritik pembebasan Ust ABB, kritik terhadap banyaknya penumpang ngalap yang berkah elektabilitas dibalik rencana pembebasan beliau.

Nalar politik Jokowi masih LINEAR, masih belum bisa keluar dari kotak kisi-kisi yang dipersiapkan konsultan politiknya. Konsultan politik dan TKN Jokowi, juga masih berhalusinasi ini Pilpres 2014, dimana rakyat masih mudah terbawa suasana dan gegap gempita.

Sadar tak mampu lagi menjual kesederhanaan Jokowi, wajah ndeso Jokowi, TKN berfikir keras untuk memanfaatkan aura elektabilitas dan energi positif dari tokoh umat Islam untuk menangguk benefit politik di musim kampanye Pilpres ini. Sayangnya, umat sudah cerdas. Umat, sudah tahu banyak hal dan lebih tahu segalanya ketimbang presidennya.

Umat telah mampu membedakan wajah asli Jokowi selama lebih dari 4 tahun memimpin dengan wajah bersolek salon politik sepanjang musim kampanye ini. Musim duren pasti berlalu, musim rambutan pasti berlalu, dan musim kampanye juga pasti berlalu. Dan begitu musim kampanye berakhir, Jokowi akan kembali kepada tabiat dan wajah aslinya.

Karena itu wahai umat, tetaplah siaga di perbatasan, terus tunjukkan dan tingkatkan serangan politik kepada rezim, dan pilihlah tempat terbaik di parit-parit perjuangan ketimbang memilih berhimpun atau berkompromi dengan rezim zalim. Waktu kalian tidak banyak, maksimalkan serangan politik kepada rezim represif dan anti Islam, dan selamatkan Umat dari tipuan Firaun - Firaun era now.

Saya bersumpah, akan tetap berdiri tegap bersama umat, membela umat dan melawan setiap inchi kezaliman rezim. Tindakan represif atau tawaran kemaslahatan dunia, tidak boleh membuat kalian mengendur apalagi mundur.

Percayalah, suatu saat Nasrudin Joha akan mengumandangkan sajak-sajak kemenangan Islam. Membacakan syair-syair berdarah sebagai sesembahan terakhir untuk mengubur rezim represif dan anti Islam. Dan, mengunggah puisi penuh cinta untuk menyongsong elegi masa depan umat dan Islam, menuju pintu gerbang kemuliaan dan kemenangan. Allahu Akbar ! [MO/ge]

Posting Komentar