Oleh : Agus susanti
(Aktivis dakwah, Anggota AMK3)

Mediaoposisi.com-Mengobral janji adalah mudah, menepati janji adalah amanah, janganlah mudah berjanji, dan ingatlah, ingkar janji adalah ciri orang munafik. Demikian ungkapan yang di sampaikan oleh ustadz sekaligus penulis buku, Abdullah Gymnastiar. Sudah lazim setiap kampanye para calon pemimpin mengungkapkan visi misi dan sejumlah janji, dan kemudian mengingkari semua ucapannya ketika sudah duduk di kursi jabatan.

 Sesungguhnya hal ini adalah ciri orang yang munafik dan sudah lazim dalam sistem demokrasi. Wajar dalam sistem neolib kapitalis yang hanya menjadikan kursi pemimpin sebagai alat untuk di perebutkan dan mencari keuntungan materi. Alhasil rakyatlah yang menjadi korban dari janji manis kampanya dan hanya bisa gigit jari.

Tirto.id - Kementerian Perdagangan memastikan Indonesia akan kedatangan 60 ribu ton jagung impor hingga Maret 2019. Jumlah ini diperoleh setelah pemerintah memutuskan menambah impor jagung untuk kebutuhan pakan ternak sebanyak 30 ribu ton, Februari mendatang

Ekonom dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manan membenarkan bila orang-orang kaya di Indonesia merupakan kelompok utama yang menikmati pertumbuhan ekonomi di tanah air. Hal ini diketahui dari distribusi kekayaan dan pengeluaran.
Berdasarkan lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, kata Manan, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 46 persen kekayaan di tingkat nasional. Menurut dia, hal ini menjadi pertanda adanya ketimpangan distribusi kekayaan.

Ini menunjukkan bahwa yang menikmati pertumbuhan ekonomi adalah mereka yang memiliki faktor produksi terutama modal dan akses sumber daya alam,” kata Manan kepada reporter Tirto, Kamis (13/12/2018), Tirto.id

Masih teringat di benak kita bagaimana kala itu rezim berjanji untuk mensejahterakan rakyat dan membuat kebijakan yang akan mendukung kemajuan rakyatnya. Realita yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Alih-alih mensejahterakan rakyat, pemerintah justru membuat kebijakan yang malah membuat rakyat semakin menderita.

Salah satu janji pemerintah yang diingkari adalah kebijakan impor bahan makanan dari luar negeri dan memajukan pertanian dari dalam negeri. Bukannya mengurangi impor justru pemerintah menambah jumlah impor seperti gula, jagung, beras dan cabai. Hal ini membuat harga pasar di dalam negeri anjlok dan petani rugi.


Selian itu pemerintah kian berusaha untuk memajukan insfrastruktur Indonesia untuk kemajuan negeri dan membuka lapangan kerja untuk ekonomi rakyat. Hal ini justru bertolak belakang,  pembangunan insfratruktur seperti jalan tol dan bandara hanya di nikmati oleh segelintir orang. Hanya para kapitalis yang menguasai faktor produksi dan modal yang bisa merasakan sejumlah keuntungan di bidang ekonomi. Sementara rakyat kecil sangat sedikit mendapatkan hasil, bahkan tak sedikit yang mengeluh karena omset dagangan yang menurun setelah adanya pembangunan jalan tol di banyak wilayah.

Masih banyak lagi janji yang di ingkari oleh pemerintah dalam sistem saat ini. Mengapa demikian,  sebab asas dari sistem yang di terapkan membuat mereka harus mau tunduk pada sang kapitas/ pemilik modal. Pemerintah seharusnya menjadi pemimpin bagi rakyatnya, dan menjadikan kepentingan rakyat sebagai prioritas. Tapi justru saat ini pemerintah cenderung tutup mata dan telinga terhadap jeritan rakyat.

Demi untuk menjaga kelangsungan kepemimpinannya pemerintah terus berupaya untuk mencari muka di hadapan sang kapital. Ingin dianggap sukses memimpin negeri dengan kemajuan insfratruktur. Padahal di belakang masih banyak carut marut yang tak kunjung bisa di selesaikan pemerintah. Diantanranya kemiskinan yang terus meningkat bagi masyarakat kalangan bawah.

Pemerintah hanya fokus untuk memenuhi keinginan Negara penjajah yang telah menanamkan modalnya di Indonesia. Rakyat tidak di urus sementara  sang kapital di elus-elus dengan menggolkan berbagai proyek di Indonesia. Inilah wajah asli yang lahir dari sistem demokrasi sehingga melahirkan pemimpin neolib yang selalu ingkar janji. Dalam sistem demokrasi Janji hanyalah sebuah ucapan yang tidak ada pertanggung jawaban di kemudian hari.

Berbeda bila sistem islam yang di terapkan, karena dalam islam kepemimpinan  bukanlah sebuah ajang perlombaan untuk memperebutkan kekuasaan. Adapun calon pemimpin dalam islam harus memenuhi beberapa syarat yang tidak bertentangan dengan perintah Allah. Pemimpin dalam sistem islam adalah sebuah pelayan yang wajib memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya baik sandang, pangan, serta papan.

Bangku kekuasaan bukan alat yang untuk meraup keuntungan materi atau kepopularitasan. Tugas pemimpin dalam sistem islam adalah untuk menjalankan syariat islam secara kaffah. Pemimpinnya di sebut khalifah, ia yang akan memastikan bahwa setiap rakyat yang hidup dalam naungannya tidak kekurangan satu apapun. Khalifah juga bertanggung jawab untuk meriayah umatnya agar tunduk terhadap perintah Allah, dan menjalani kehidupan sesuai yang di inginkan sang kholiq.

Inilah sebuah sistem yang terbaik untuk seluruh umat, baik islam maupun non muslim. Dan  hanya dengan penerapan sistem islam pemimpin yang amanah dan tidak ingkar janji dapat terwujud. Hal ini karena landasan kepemimpinan dan asas Negara di bangun berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist, bukan hawa nafsu dan materi seperti sistem demokrasi kapitalis yang di terapkan di Indonesia saat ini.

Maka dari itu jika kita ingin hidup sejahtera dan memiliki pemimpin yang tidak ingkar janji, serta perduli terhadap kesejahteraan rakyatnya tanpa mengharapkan pujian atau imbalan jawabannya adalah dengan mengganti sistem demokrasi yang rusak ini dengan sistem islam yang terbukti mampu mensejahterakan rakyatnya selama hampir 14 Hijriah.[MO/sr]




Posting Komentar