Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com- Sejak awal BPJS adalah program gagal dari pemerintah yang ingin melepaskan diri dari tanggung jawab untuk menjamin kesehatan rakyatnya. Dengan menyerahkan pada perusahaan asuransi, pemerintah ingin lepas tangan untuk mengurusi rakyat. Asuransi membebani rakyat karena harus mengeluarkan dana tambahan untuk membayar biaya asuransi setiap bulan. Belum lagi jika mereka telat dalam membayar, ada denda yang harus dibayar padahal rakyat hidup susah.

Kami tidak ingin ikut asuransi, karena itu akan lebih menyengsarakan hidup kami. Disaat kami sakit banyak rumah sakit yang melakukan penolakan. Kitapun tidak dapat pelayanan prima. Mengantri dan menunggu untuk dapat giliran pelayanan itu pasti. Padahal kami sudah bayar setiap bulan. Jadi pelayanan ini tidak gratis seperti yang mereka pikirkan.

Pelayanan kelas 3 terpaksa harus kami terima. Dokter kelas tiga, obat kelas tiga dan juga perawat kelas tiga sangat tidak memuaskan. Sakit biasa jadi tambah parah disana. Kenapa harus dibeda-bedakan. Kami butuh pelayanan cepat dan prima saat sakit itu menimpa anak kita. Kita tidak ingin kehilangan mereka karena keterlambatan dan kurang akurat dalam penanganan

Terkadang mereka kurang bersahabat karena dipikir kami tidak membayar. Kami tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Sementara ada obat yang bagus, BPJS tidak menanggungnya. Siapa bilang kami tidak keluar uang untuk biaya rumah sakit. Sementara saat sakit kamipun tidak bisa bekerja. Terpaksa kami harus berhutang ke tetangga. Sungguh hidup semakin susah karena negara lepas tangan atas biaya kesehatan yang harusnya menjadi tanggung jawabnya.

Kami tidak mau lagi ikut BPJS. Tapi katanya akan diwajibkan. Ancaman tidak akan dapat pelayanan publik di masyarakat akan diterapkan. Kami tidak mau ikut BPJS agar kami lebih hati-hati menjaga kesehatan. Biarlah biaya premi asuransi kami gunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga agar kami tidak gampang sakit.

Sekarang semakin terbukti bahwa BPJS bukanlah solusi yang kami butuhkan. Sudah 18 rumah sakit yang memutuskan hubungan kerjasama dengan BPJS. Bisa jadi jumlah itu bertambah dan semakin sulit rakyat yang ikut BPJS mendapatkan pelayanan kesehatan.

Jangan paksa kami ikut BPJS karena dia bukan solusi tepat. Jika negara tidak mau menjamin biaya kesehatan kami, biarlah kuserahkan semua pada Allah karena dia Maha kaya dan hanya padaNya kuserahkan segala urusan termasuk juga urusan kesehatan. [MO/sr]


Posting Komentar