Oleh: Rheiva Putri R Sanusi
(Alumni SMAN 1 Rancaekek)

Mediaoposisi.com- Setelah pergantian tahun dari 2018 ke 2019, suasana perpolitikan di indonesia semakin memanas apalagi semakin dekatnya pilpres 2019. Segala bidang dijadikan ajang kompetisi untuk menaikkan popularitas agar mendapat suara rakyat, termasuk isu keagamaan.

Kali ini para pasangan Capres dan Cawapres ditantang untuk masing-masing membaca Al-Quran, yang gagasan ini dikeluarkan oleh Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishak, di Banda Aceh.

Sebagai seorang muslim tentu saja membaca Al-Quran menjadi kewajiban dan senantiasa menjadi aktivitas rutin agar kita dekat dengan Allah SWT. Membaca Al-Quran pun memiliki banyak keutamaan yaitu salah satunya memberi syafaat di hari kiamat kelak, sebagaimana sabda Nabi Saw.:
Bacalah Al-Quran karena sungguh pada hari kiaman ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya (HR Muslim)

Namun syafaat itu akan kita dapat ketika kita berniat membaca Al-Quran karena Allah semata bukan untuk popularitas ataupun simpati dari siapapun.

Namun saat ini membaca Al-Quran dijadikan ajang kompetisi untuk pemilihan pemimpin padahal Al-Quran bukan hanya sekedar bacaan saja, Al-Quran adalah pedoman hidup bagi seorang muslim, dimana isinya adalah hukum yang berasal dari firman Allah sebagai pencipta untuk kita jalankan sebagai hambanya.

Maka setiap muslim tidak hanya wajib membaca Al-Quran saja tapi juga wajib untuk menerapkannya secara menyeluruh. Begitu pun dalam memilih pemimpin tidak hanya sekedar yang bisa membaca Al-Quran, tapi juga yang mau dan mampu menerapkan Al-Quran dalam kepemimpinannya.

Namun untuk saat ini hal itu sangat sulit atau bahkan mustahil dimiliki oleh pemimpin saat ini. Karena pemimpin saat ini sudah terpengaruh oleh sekulerisme, dimana menganggap agama tidak untuk diikut sertakan dalam perpolitikan apalagi untuk diterapkan. Belum lagi sistem saat ini yang benar-benar tidak mendukung adanya pemimpin yang mampu dan mau menerapkan segala isi Al-Quran.

Kita hanya dapat menemukan pemimpin seperti itu ketika keKhilafahan tegak. Sebab hanya Khilafahlah satu-satunya sistem yang mampu mendukung  terbentuknya pemimpin seperti itu.[MO/sr]

Posting Komentar