Oleh: Winda Yusmiati, S.Pd
(Member Revowriter Purwakarta)

Mediaoposisi.com- Akhir-akhir ini isu terorisme kembali mencuat. Menjelang pergantian tahun, polisi mulai mengawasi ‘sel tidur’ jaringan terorisme yang dianggap menimbulkan serangan jelang penutupan tahun 2018. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menjelaskan Polri akan mengerahkan kemampuan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dan kepolisian daerah untuk mengawasi hal ini  (cnnindonesia.com/19/12/2018).

Juga dilansir dari cnnindonesia.com (19/12/2018) Tim Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri telah menangkap sebanyak 21 orang terduga teroris jelang hari raya Natal 2018 dan Tahun Baru 2019. Penangkapan ini dilakukan di sejumlah wilayah Indonesia dalam sebulan terakhir, sejak November hingga Desember 2018.

" Satu bulan ini, bahkan 21 orang sudah kami tangkap dan proses hukum ," kata Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian di Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2018).

Melihat fakta-fakta di atas, kita dapat menyimpulkan betapa ketatnya pemerintah menjaga perayaan tersebut. Begitu mudahnya pemerintah terus menerus menyudutkan isu terorisme di tengah-tengah masyarakat. Hal tersebut secara tidak langsung pemerintah sudah menyudutkan Islam dan kaum muslim yang selama ini dianggap sebagai pelaku teror.

Indonesia adalah negara yang sangat aktif menjalankan berbagai perogram perang melawan terorisme (war on terorrisem). Pada tahun 2010, Pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 46 tahun 2010 tentang pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Namun, sangat disayangkan dan tentunya menyakiti hati umat Islam jika kasus terorisme  selalu dikaitkan dengan Islam. Islam selalu dijadikan kambing hitam atas berbagai tindakan teror yang terjadi di negeri ini.
Terlebih lagi tatkala Al Qur’an dijadikan sebagai barang bukti seseorang dikatakan teroris.

 Kriminalisasi Ajaran Islam
Perang melawan terorisme bukan hanya ditujukan kepada perorangan atau kelompok tertentu saja.Perang ini juga dilakukan terhadap sejumlah ajaran Islam. Taktik yang dilakukan adalah menciptakan kriminalisasi dan monsterisasi terhadap syariah Islam, jihad dan khilafah. Sudah sejak lama barat mendiskreditkan jihad sebagai pemicu aksi terorisme.

Apalagi kemudian media barat mem- blow up aksi pengeboman yang terjadi sebagai aksi jihad kelompok ekstrem. Aparat dan media masa juga kerap menyebut pelaku aksi pengeboman itu sebagai kaum jihadis.Selain itu juga, Islam dituduh sebagai agama yang intoleran dan berbagai tuduhan lainnya. Seakan-akan Islam adalah agama yang sesat dan suka menteror agama lain.

Padahal, Islam adalah agama yang Rahmatan Lil Alamin dan pastinya menolak berbagai tindakan teror dalam bentuk apapun.Perang melawan terorisme adalah proyek barat untuk menjauhkan umat dari Islam dan menghadang kebangkitan Islam.

Membangun Kesadaran Umat
Umat tidak boleh terprovokasi oleh propaganda soal terorisme berlatar Islam. Untuk itu, melihat terorisme hari ini tidak bisa semata merujuk pada apa yang disampaikan media, terutama media Barat.Kita dituntut untuk lebih cermat, cerdas dan komprehensif dalam melihat kasus-kasus yang memang secara nalar umum bisa diduga sebagai peristiwa yang direkayasa.

Sebab, setelah terjadi apa yang disebut aksi terorisme, tidak lama kemudian Islam sebagai agama beserta umatnya pasti menjadi kambing hitam yang akan dipimpong kesana-kemari.Maka, umat perlu disadarkan agar tidak termakan propaganda sesat yang akan semakin menjauhkan umat dari memahami Islam secara utuh.  Islam dengan aqidah dan syari’ahnya merupakan agama yang menjunjung tinggi perdamaian, keadilan, toleransi dan menebar kebaikan kepada seluruh alam.

Syari’ah Islam mewajibkan kepada umat Islam untuk menghormati rumah ibadah. Dalam syariat terkait jihadpun Islam melarang menghancurkan rumah ibadah, pepohonan, membunuh anak-anak, wanita dan orang yang lemah.

Dari Ibnu Abbas ia berkata:
Dahulu Rasulullah apabila mengirim pasukannya beliau bersabda, ‘Keluarlah kalian dengan nama Allah, kalian berperang di jalan Allah melawan siapa saja yang berlaku kafir terhadap Allah, (maka) janganlah kalian berkhianat, jangan pula mencuri harta rampasan, jangan pula melakukan mutilasi, janganlah kalian membunuh anak-anak dan jangan pula membunuh orang-orang yang berada di gereja-gereja atau tempat-tempat ibadah,” [HR Ahmad].[MO/sr]

Posting Komentar