Oleh:Ernadaa Rasyidah
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Jelang pilpres, di tengah suhu politik yang kian menghangat, berita-berita hoax menjadi semakin marak. Pola penyebarannya pun secepat kilat, membuat masyarakat sulit mendapatkan berita yang benar dan akurat. Salah satu contoh berita hoax baru-baru ini, tentang tujuh kountainer surat suara yang sudah tercoblos.

Hoax adalah berita palsu atau berita bohong, dimana informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.

Lebih khusus, Werme (2016), mendefinisikan fake news (Hoax) adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu.

Berbagai wacana pemberantasan hoax mengemuka, seperti yang dilakukan oleh ratusan alumni jurnalistik UIN Sunan Gunung Jati Bandung, pihaknya menyerukan berantas hoax atau kabar bohong melalui deklarasi anti-hoax di Kampus UIN, Jalan AH Nasution,Kota Bandung, Minggu (6/1/2019) SINDOnews.com

Sesuatu yang wajar, keberadaan berita hoax bagai bola liar yang sulit dikontrol. Berita hoax dapat menimbulkan keresahan, juga mengikis kepercayaan ditengah masyarakat.

Demokrasi Sumber Hoax
Dalam demokrasi, hoax sudah menjadi tradisi. Berperan sebagai senjata ampuh untuk menyerang lawan politik demi sebuah ambisi. Kebenaran menjadi barang langka, alih-alih memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat, rakyat justru menjadi korban kebohongan politik pencitraan.

Slogan Hak Asasi Manusia (HAM) yang diagungkan dalam sistem ini, nyatanya tidak bisa membatasi benar dan salah. HAM tidak lebih sebagai tameng untuk berlindung, melahirkan kebebasan yang kebablasan. Salah satu kebebasan yang di junjung tinggi adalah kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Slogan kebebasan itu pula, yang menjadi jalan tol bagi penguasa memoles kebohongan agar tampak sebagai kebenaran, kebebasan mengumbar janji-janji politik tanpa bukti, kebebasan menyebar hoax dan membungkam kebenaran.
Berita hoax dianggap wajar, karena sistem ini memfasilitasi berbagai bentuk kebohongan.

Islam Solusi
Islam mensyariatkan setiap perbuatan seorang muslim terikat dengan aturan Allah. Standar perbuatannya adalah halal dan haram, sehingga setiap kabar/berita yang disampaikan harus di kroscek dulu dan teruji kebenarannya sebelum di sajikan dihadapan publik, pertanggungjawaban seorang muslim bukan hanya kepada manusia, lebih dari itu kepada Allah sang pencipta.
Allah SWT berfirman, yang artinya:

"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong."
(QS. An-Nahl:105)

Negara memiliki peran yang sangat penting, memberikan perlinduangan dari segala bentuk berita bohong. Melakukan kontrol penuh terhadap media massa untuk memastikan kebenaran berita yang disampaikan, sebaliknya memberikan sanksi tegas bagi pembuat dan penyebar berita bohong (hoax) baik skala individu, kelompok maupun negara.

Semua itu bisa terwujud dengan penerapan sistem Islam secara kaffah. Kembali menerapkan aturan ilahi, yang bersumber pada Al Qur'an dan As Sunnah. Niscaya hoax dapat diberantas hingga tuntas. In syaa Allah.[MO/sr]



Posting Komentar