Oleh : Novida Balqis Fitria Alfiani

Mediaoposisi.com-Entah sampai kapan negeri ini akan seperti ini. Banyak dari kalangan bawah negeri ini dilanda kelaparan. Banyak diantara mereka yang terpaksa melakukan pencurian kecil atau tindak kriminal karena faktor ekonomi.

Jangankan untuk kebutuhan membayar sekolah dan listrik, untuk makan saja mereka kekurangan dan tidak ada yang dimakan. Seperti salah satu pelaku pencuruan yang terpaksa mencuri hanya karena lapar.

Dilansir dari cnnindonesia.com (3/1/2019), seorang mahasiswi yang sedang shalat dipukul oleh pelaku saat korban sedang melaksanakan shalat di masjid di Samarinda, Kalimantan Timur. Pelaku melakukan hal tersebut karena lapar. Polisi menangkap pelaku pemukulan pada Rabu (2/1).

“Saya lapar pak, saya ingin mengambil tasnya karena belum makan. Kalau ada uangnya, saya hanya ingin mengambil Rp15 ribu atau Rp20 ribu untuk makan saja,” kata Juhairi (pelaku) di Kantor Polresta Samarinda. (cnnindonesia.com, 3/1/2019).

Baik korban maupun pelaku sama-sama dalam kondisi yang menyedihkan. Bagaimana tidak, akibat kekurangan ekonomi, pelaku sampai tega memukul korban saat beribadah hanya demi bertahan hidup.

Akibat faktor ekonomi saja dapat menimbulkan korban. Banyak hal buruk saat kondisi ekonomi terpuruk ditengah-tengah masyarakat.

Timbulnya kejahatan, kriminal, lepasnya tanggungjawab orang tua dirumah, semua disebabkan oleh faktor ekonomi.

Dari masalah kecil tersebut, merambah ke masalah-masalah lainnya yang lebih kompleks. Ditambah kurangnya pemahaman agama di kebanyakan masyarakat menambah kompleksnya masalah di negeri ini.

Bila ditelisik lebih dalam, terpuruknya faktor ekonomi disebabkan oleh berbagai hal. Diantaranya karena pemerintah yang hanya sebagai regulator, pemerintah yang menjual aset negara pada asing, pemerintah yang memberikan sumber daya alam pada asing, utang luar negeri yang dilakukan terus menerus, dana/uang rakyat yang dikorupsi pejabat pemerintah, dan lain sebagainya.

Yang berdampak pada terbatasnya lowongan pekerjaan, harga kebutuhan pokok semakin mahal, pendidikan mahal, kesehatan (biaya rumah sakit dan obat) mahal, orang tua yang terpaksa bekerja (sehingga anaknya kurang dididik orang tua), pencurian, kriminal, begal, dan lain sebagainya menjadi dampak buruk dari terpuruknya faktor ekonomi.

Sehingga tidak heran, jika terpuruknya bidang ekonomi akan berdampak terpuruknya seluruh bidang lainnya.

Merambah pada terpuruknya politik, hukum, sosial, kesehatan, pendidikan, juga teknologi. Bidang politik dan hukum menjadi lemah, karena hukum bisa disuap oleh pelaku yang punya modal.

Selain itu, kebijakan pemerintah dapat dipengaruhi oleh para pemilik modal dan asing, karena utang pemerintah pada mereka. Sehingga timbul kebiijakan yang menyengsarakan rakyat negeri ini.

Bidang sosial menjadi terpuruk, karena terjadi kesenjangan antara masyarakat kalangan atas dan bawah.

Kalangan atas selalu menjauhi kalangan bawah karena faktor ekonomi dan sering melakukan kriminal pada kalangan atas. Bidang kesehatan juga terpuruk, karena biaya rumah sakit yang mahal, dan obat yang mahal. Tidak semua kalangan dapat memperoleh jaminan kesehatan karena faktor ekonomi.

Bidang pendidikan pun juga begitu. Biaya sekolah dan universitas sangatlah mahal, banyak kalangan bawah yang putus sekolah karena biaya yang mahal. Begitupun bidang teknologi. Banyak pemuda dan intelektual di Indonesia pandai dalam hal teknologi, menciptakan alat yang berguna bagi masyarakat.

Akan tetapi, tidak ada penghargaan ataupun produksi alat dari ciptaan para intelektual tadi. Tentu karena pemerintah tidak mempunyai dana untuk produksi dan penghargaan pada alat ciptaan intelektual tadi. Sungguh menyedihkan!

Belum lagi kemaksiatan merajalela, pacaran, seks bebas, narkoba, miras, dan lain-lain akibat dari orang tua yang kurang mendidik anaknya dan kebijakan pemerintah, serta hukum yang lemah.

Seperti itulah fakta-fakta yang terdapat di masyarakat saat ini. Kita butuh solusi yang tuntas, solutif, dan tidak menimbulkan masalah yang baru.

Dilihat dari sistem demokrasi yang berjalan saat ini, selama diterapkannya sistem ini tidak ada kesejahteraan yang diperoleh rakyat. Berganti-ganti pemimpin tetap saja belum ada kesejahteraan dan keadilan yang hakiki.

Dari berbagai kalangan seperti dari kalangan anak presiden, militer, intelektual, juga kalangan orang sederhana sudah pernah menjadi pemimpin negeri ini. Namun belum ada yang membawa perubahan dan kebangkitan dari negeri ini.

Lalu, apa penyebab terpuruknya negeri ini? Mengapa tidak ada perubahan di negeri ini meskipun telah berganti-ganti pemimpin? Jawabannya adalah karena sistem yang salah.

Jika sistemnya sudah rusak, maka siapapun pemimpinnya juga tidak akan membawa perubahan yang baik. Justru akan terus terpuruk dan bertambah keterpurukannya, siapapun yang memimpin

Maka tidak cukup hanya ganti presiden. Kita butuh solusi yang benar-benar tepat. Satu-satunya solusi adalah ganti sistem. Kita butuh sistem yang tepat, yaitu sistem Islam. Kita butuh sistem Islam.

Karena sistem Islam adalah sistem yang langsung berasal dari Allah SWT dan Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Maka tidak perlu ragu lagi, segera terapkan sistem Islam dan campakkan sistem demokrasi.

Segera berjuang menerapkan sistem Islam. Insya Allah, Allah SWT akan menurunkan berkah dan kesejahteraan bagi negeri ini.

Posting Komentar