Oleh: Nuraisah Hasibuan S.S. 
(Pemerhati anak)

Mediaoposisi.com-Saat ini, hampir semua orang terhubung dengan sosial media. Tak ayal, segala yang diberitakan menyebar dengan sangat cepat. Bukan hanya berita, info-info ringan yang agak lain dari biasanya mudah sekali menjadi viral. Misalnya saja berbagai tantangan (challenge) yang seolah menjadi standar "kekinian" para pengguna sosial media.

Tahun lalu pernah viral Kiki Challenge. Challenge ini dilakukan dengan cara keluar dari mobil yang sedang melaju pelan. Lalu orang yang keluar tadi menari mengikuti iringan musik dari dalam mobil. Tantangannya adalah orang tersebut harus bisa konsentrasi pada tarian dan pada langkahnya, mengingat ia berjalan di sisi mobil yang sedang melaju di jalan raya.

Sebenarnya, vidio Kiki Challenge yang berhasil diunggah tidak melulu keseruan. Ada beberapa vidio yang menunjukkan bahaya challenge ini. Entah itu karena pelaku tersandung dan cedera, menabrak tiang marka jalan, atau tertabrak kendaraan yang melaju kencang dari arah belakang . Namun ternyata itu tidak menyurutkan para penantang untuk melakukannya demi predikat kekinian tadi.

Kemudian ada Challenge Falling Stars. Di challenge ini, orang harus berpose seperti baru terjatuh dari mobil dengan cara yang elegan. Kalau bisa satu kaki masih tersangkut di pintu mobil. Kemudian barang-barangnya terlihat berserakan di sekitarnya. Biasanya tas, dompet dan sepatu bermerek yang diserakkan, perhiasan dan kosmetik mahal juga tak ketinggalan. Mengingat challenge ini memang berawal dari para konglomerat Rusia (crazy rich Russian), maka tak heran jika cenderung terkesan pamer. Semakin banyak benda-benda mahal yang berserakan, maka semakin mantap.

Ada juga "Seberapa Greget Challenge". Banyak ibu-ibu yang ikut challenge ini karena memang hanya bermodal cerita saja. Caranya dengan memposting cerita yang bikin greget. Misalnya, "Kemaren saya beli gorengan seharga 5000 pakai uang seratus ribu. Kembaliannya saya kasih semua sama tukang gorengan." Dianggap semakin greget jika pelaku terkesan sangat merugi dalam ceritanya.

Challenge ini tak ubahnya seperti Stand-Up Comedy, yang memaparkan cerita-cetita fiktif hanya agar penonton tertawa. Padahal Rasulullah pernah mengingatkan, bahwa sangat celakalah orang-orang yang berbohong dalam bercanda hanya agar pendengarnya tertawa.

Challenge berikutnya adalah "Tengkurap Challenge". Dari namanya saja ketahuan bahwa pelakunya harus melakukan pose tengkurap di keramaian. Memang ada sekelompok orang yang sengaja menyetting tempat agar seperti keramaian dan salah satu dari mereka akan berpose tengkurap, lalu disetting juga pose orang-orang yang tampak berbisik-bisik membicarakannya atau tersenyum geli. Namun tidak sedikit yang rela memasang muka tebal untuk sebuah pose tengkurap di keramaian yang sesungguhnya.

Sejujurnya ia jadi tampak seperti orang yang kehilangan akal yang sering terlihat di jalanan. Bertingkah semaunya tanpa khawatir malu adalah wajar karena akalnya tidak sehat. Namun bagi yang Allah karuniai akal yang waras, challenge itu membuat mereka seperti menghinakan dirinya sendiri saja.

Dan jangan lupa pada "Skip Challenge" yang sempat menuai banyak kecaman.Begitu fatalnya tantangan ini, karena kesuksesannya justru ketika pelakunya kejang-kejang atau pingsan. Game ini dimainkan dua orang. Salah satu harus menahan nafas kemudian dadanya ditekan oleh orang yang satunya lagi hingga ia kejang-kejang atau pingsan karena kekurangan oksigen.

Challenge ini beredar luas sampai-sampai ada anak-anak usia SD juga menonton dan mempraktekkannya pada temannya. Anak2 yang seharusnya fokus pada pembentukan akal dan akhlak malah terikut-ikut kegiatan yang mengikis rasa empati dan bahkan bisa saja menghilangkan nyawa sesamanya.

Yang tidak kalah konyolnya adalah "Eraser Challenge". Tantangan ini dimainkan dua orang yang saling mencoret tangan temannya lalu kemudian menghapusnya dengan karet penghapus (eraser). Kulit yang dihapus lama-kelamaan tentu akan terkelupas. Di situlah tantangannya, dimana pelaku menahan sakit akibat luka kulit yang terkelupas itu. Di akhir challenge, yang paling besar lukanya adalah pemenang.

Tidakkah challenge ini membuat miris? Bukan tidak mungkin ketika tantangan rasa sakit Karena karet penghapus ini terlampaui, maka mereka akan mencoba menahan sakit yang lebih besar, karena sayatan misalnya. Naudzubillahi min dzalik!

Dan yang terbaru, yang mungkin masih ramai hingga kini adalah "Ten Years Challenge". Di sini orang harus menyandingkan foto dirinya sepuluh tahun yang lalu dengan fotonya sekarang. Meski sekilas seperti challenge yang paling minim resiko, namun kalau dicermati justru mengajak pada dharar. Banyak muslimah yang sudah hijrah, tanpa sadar mengunggah foto ketika belum berhijab.  Maksud hati ingin menunjukkan perubahan setelah hijrah, namun malah mempertontonkan aurat yang sudah tertutup. Aib yang sudah Allah tutupi mereka singkap sendiri.

Lalu, tidak bolehkah ikut challenge supaya jadi kekinian? Boleh saja jika challenge yang diikuti memang berfaedah. Ikuti saja jika ada Challenge Sedekah Gila-Gilaan, Challenge Menyantuni seorang Anak Yatim, Challenge Mengelolah Sampah RW selama sepekan, dan semisalnya.

Masalahnya hampir semua challenge yang pernah viral berasal dari budaya kapitalis sekuler. Yang miskin nilai-nilai dan hanya mengedepankan kesenangan. Maka sebelum latah ikut-ikutan challenge yang sedang viral, pahami dulu asal usulnya dan dampaknya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.[MO/sr]

Posting Komentar