Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com- Keputusan pembebasan Abu Bakar Baasyir tidak lepas dari saran pengacara resminya, Yusril Ihza Mahendra. Dia menyarankan untuk melepaskan Abu Bakar Baasyir dengan alasan kemanusiaan. 

Setidaknya itulah alasan yang disampaikan Yusril. Namun sebuah keputusan politik tidak boleh begitu saja dipercaya dengan sebuah pernyataan, namun dampak apa yang diharapkan dari sebuah keputusan politik itu.

Keputusan pembebasan Abu Bakar Baasyir diambil setelah debat capres-cawapres yang telah menurunkan elektabilitas capres nomor urut 1. Untuk menghilangkan label anti Islam yang terlanjur menempel pada Jokowi, sebuah keputusan pembebasan Abu Bakar Baasyir diambil untuk sebuah pencitraan bukan murni alasan kemanusiaan.

Akankah keputusan ini mampu mendongkrak perolehan suara pilpres 2019? Apakah Abu Bakar Baayir bersedia dijadikan alat untuk menaikkan elektabilitas capres no 1 dalam pilpres 2019, seperti yang dilakukan pada Amin Ma'ruf dan juga Agil Sirat?

Sudah diduga banyak kalangan bahwa keputusan pembebasan Abu Bakar Baasyir adalah pencitraan untuk meningkatkan elektabilitas Jokowi yang mulai turun. Dugaan itu semakin kuat setelah ada pernyataan wiranto yang akan meninjau keputusan itu.

Tak berselang setelah keputusan pembebasan, Wiranto memberikan syarat atas pembebasan itu. Namun sepertinya Abu Bakar Baasyir bukan ulama' yang mudah didekte dan dijadikan alat oleh pemerintah sehingga wacana pembebasan beliau bisa batal.

Sungguh, Jokowi ingin mempermainkan tokoh besar, Abu Bakar Baasyir. Tentunya, keputusan yang tidak konsisten akan lebih menurunkan eletabilitas jokowi dalam memperebutkan hati umat. Dan label Jokowi anti Islam akan semakin melekat kuat pada capres nomor utut 1 ini.

Keputusan pembebasan Abu Bakar Baasyir sungguh merupakan pencitraan yang ingin menaikkan elektabiitas Jokowi-Amin yang mulai menurun. Label anti Islam sungguh telah melekat pada pasangan ini, meskipun dia coba menggandeng wakilnya dari kalangan kyai.

Namun, pamor kyai pada diri Ma'ruf Amin benar-benar telah rusak. Ulama' yana ada dilingkaran kekuasaan regime hanya akan kehilangan daya tariknya karena umat sangat muak dengan ulama' penjilat penguasa yang anti Islam.

Abu Bakar Baasyir telah teruji keberanian dan ketulusannya dalam memperjuangkan keyakinannya sehingga dia tidak mudah disetir menuruti keinginan penguasa.[MO/ad]

Posting Komentar