Oleh: Dini trinarni 

Mediaoposisi.com- Memasuki tahun 2019,kontestasi politik dinegeri ini makin memanas. Dan memanasnya suhu politik saat ini turut dipicu adanya berita palsu alias hoax yang beredar luas. Belakangan ini kita sering mendengar berita yang menggegerkan dunia politik,namun ujung-ujungnya dinyatakan sebagai berita hoax.

Hoax politik tersebut berimbas kepada dua kubu yang sedang bersaing meraih hati dan simpati rakyat. Akibatnya, ada pihak yang merasa dijadikan korban hoax,dan yang tertuduh sebagai penyebar hoax. Intinya, berita hoaxpun bisa dijadikan alat untuk saling menyerang kubu lawan.

Muncul isu surat suara yang sudah dicoblos sebanyak 7 kontainer,yang dikabarkan berasal dari China pada Rabu (2/1/2019) siang.Kabar tersebut beredar luas di media sosial seperti YouTube, Twitter, Facebook, Instagram, hingga WhatsApp.Di media sosial, tersebar rekaman seorang laki-laki yang berbunyi demikian;

"Ini sekarang ada 7 kontainer di Tanjung Priok sekarang lagi geger, mari sudah turun. Di buka satu. Isinya kartu suara yang dicoblos nomor 1, dicoblos Jokowi. Itu kemungkinan dari cina itu. Total katanya kalau 1 kontainer 10 juta, kalau ada 7 kontainer 70 juta suara dan dicoblos nomor 1. Tolong sampaikan ke akses, ke pak Darma kek atau ke pusat ini tak kirimkan nomor telepon orangku yang di sana untuk membimbing ke kontainer itu. Ya. Atau syukur ada akses ke Pak Djoko Santoso. Pasti marah kalau beliau ya langsung cek ke sana ya."

Kemudian,disusul cuitan dari Wasekjen Partai Demokrat Andi arif,yang merespon beredarnya isu tersebut,dia mengatakan lewat akun twitter nya,@AndiArief_, Andi menuliskan, "Mohon dicek kabarnya ada 7 kontainer surat suara yg sudah dicoblos di Tanjung Priok.

Supaya tidak fitnah harap dicek kebenarannya karena ini kabar sudah beredar" Cuitan ini dimaksudkan untuk menghimbau pada pihak yang berwenang,untuk menyelidiki apakah isu yang sudah terlanjur tersebar ini benar,atau tidak? Namun,malah dirinya dilaporkan oleh TKN Jokowi-Ma'ruf,karena dituduh sebagai penyebar hoax.

KPU bersama Bawaslu sudah mendatangi kantor bea cukai,Tanjung Priok Jakarta utara(2/1/2019),dan memastikan bahwa isu tersebut tidak benar."Hari ini kami memastikan, berdasarkan keterangan yang didapat oleh pihak bea cukai, tidak ada kebenaran tentang berita 7 kontainer tersebut, itu tidak benar," kata Arief budiman,ketua Bawaslu di kantor Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (2/1/2019). (Bangkapos.com4/1/2019)

Reaksi keras bermunculan,khususnya dari kubu Jokowi -Ma'ruf sebagai pihak yang merasa sebagai korban hoax ini . Tak hanya Andi arif yang dilaporkan oleh TKN Jokowi-Ma'ruf,tapi juga Ustadz Teungku Zulkarnaen yang dianggap turut menyebarkan berita palsu lewat cuitannya di twitter,walaupun postingan telah dihapus,beliau dilaporkan oleh sejumlah orang yang mengaku dari relawan jokowi mania. Laporan itupun segera di proses oleh kepolisian.

Berita palsu,bukan hal yang baru lagi ditengah perpolitikan ataupun kehidupan bermasyarakat. Jangankan presiden atau tokoh politik, istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yakni,ibunda Aisyah juga pernah terkena berita hoax,beliau dituduh telah berselingkuh. Berita yang menggemparkan kota Madinah kala itu,dan membuat Rasulullah dan kaum muslimin resah. Sehingga turunlah wahyu dari Allah Subhanahu wataala,untuk menenangkan hati beliau. Allah Subhanahu wataala berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar” (QS.Surah An-Nur ayat 11).

Namun dikancah perpolitikan hari ini , hoax bisa disikapi berbeda oleh pihak yang berkuasa. Karenanya ada hoax pilihan,dan ada hoax yang diabaikan. Hoax yang dipilih,adalah hoax yang bisa dibesarkan oleh media,menjadi isu sosial yang viral dan bisa menjadi alat pukul bagi mereka yang selama ini suka bicara keras dan lantang mengkritik kinerja pemerintah. Entah siapa yang menjadi aktor sesungguhnya dibalik hoax suara yang sudah tercoblos ini.

Yang pasti sudah berhasil memancing reaksi dari publik,dan siapa yang mengambil umpannya,mempercayai dan menyebarkan bisa saja terkena delik aduan. Dan yang diharapkan sesungguhnya,adalah opini masyarakat dalam menilai mana pihak yang menjadi korban hoax,dan siapa yang menyebarkan hoax. Bisa jadi aktor pembuat hoax sesungguhnya justru tidak diketemukan.

Berbeda jika hoax itu berasal dari sisi penguasa,yaitu para pendukung dan simpatisan garis keras dari petahana. Mereka seolah diberi akses bebas,dan leluasa untuk berbicara apa saja walaupun,ucapan dan postingan mereka jelas perkara dusta. Mereka sering menyerang individu tokoh,Ulama,kelompok,bahkan menyangkut simbol agama yang membuat marah umat Islam.

Contohnya,ketika Deny siregar diduga mengedit suara di video pengeroyokan supporter bola beberapa waktu lalu,seolah-olah yang mengeroyok sambil melantunkan kalimat tauhid disertai kalimat provokatif lalu disebarkan. Begitu pula Abu janda,yang juga sering mengeluarkan statement dan postingan hoax,salah satunya mengunggah foto bendera tauhid yang dibakar oleh demonstran di luar negri,padahal gambar sebenarnya adalah bendera Amerika. Walaupun keduanya sudah  dilaporkan ke polisi namun tidak ada tindak lanjut dalam penanganan kasusnya.

Kita semua pasti membenci berita hoax,apapun motif dan tujuannya. Namun hendaknya pemerintah berlaku adil dan tidak pilih-pilih dalam menanganinya.

Bersungguh-sungguhlah dengan ajakan perang melawan hoax! Karena hoax juga termasuk dosa besar,dan hal yang sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wataala. Dari Mughirah bin syu'bah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, " Sesungguhnya Allah membenci tiga hal pada kalian : Menyebarkan kabar burung,pemborosan harta dan banyak bertanya." ( HR. Bukhari).

Jadi,kitapun harus berhati-hati dalam menerima dan menyikapi sebuah berita,agar tidak terpancing dan terjebak berita palsu atau hoax.[MO/sr]

Posting Komentar