Gambar: ilustrasi
Oleh.
Muhammad Reza Santirta

Mediaoposisi.com-Kita tentu merasa berbahagia karena ulama kita, Abu Bakar Ba’asyir, dibebaskan tanpa syarat. Pembebasan itu dilakukan atas usulan Presiden Joko Widodo melalui pengacara hokum Jokowi-Ma’ruf, Yusril Ihza Mahendra. Pertimbangan umur dan kondisi kesehatan juga menjadi hal yang utama mengingat usia beliau yang menginjak 81 tahun.

Namun, saat Ba’asyir diminta menandatangani pernyataan setia pada NKRI dan Pancasila, beliau tidak menandatangani.  Tak lama setelah pembebasan itu, Wiranto menyatakan pembatalan yang berarti Abu Bakar Ba’asyir kembali ditahan. Padahal, Jokowi sebelumnya membebaskan Ba’asyir tanpa sarat. Tentu yang salah pemerintah karena membiarkan pembatalan tersebut.

Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir ini merupakan pembohongan public yang paling nyata. Ibarat pribahasa, ‘Ada udang di balik batu’, tentu ada skenario besar dibalik pembatalan pembebasan tanpa syarat Abu Bakar Ba’asyir.

Maraknya Islamfobia terjadi pasca Serangan WTC (World Trade Center) pada tanggal 11 September 2001. Media berperan besar dalam menginformasikan pelaku serangan itu. Ciri-ciri dan identitas pelaku cenderung menyudutkan umat Islam. Akibatnya, timbul islamfobia atau kebencian masyarakat terhadap Islam.

Presiden Amerika Serikat saat itu, George W. Bush langsung turun tangan untuk mengambil keputusan. Padahal, kita tentu heran, bagaimana gedung sekuat itu bisa roboh dengan cepat. Tentu saja direncanakan. Bagaimana pemerintah Amerika, bisa secara cepat, langsung mengambil tindakan.

Pasca serangan itu, muncul seruan War on Terrorism terhadap negara-negara Timur Tengah. Sasaran utama adalah memburu gembong teroris, Osama bin Laden, yang akhirnya merembes menjadi serangan besar di Timur Tengah. Amerika juga ingin menumbang Saddam Hussein di Iraq untuk memuluskan kebijakan War on Terrorism di negeri tersebut.

Media beramai-ramai memberitakan perburuan pelaku teroris Serangan 11 September tersebut. Sampai-sampai, merilis ciri-ciri pelaku teroris yang selalu melakukan serangan di Timur Tengah. Ciri-ciri itu persis seperti pelaku serangan gedung kembar tersebut. Akibatnya, muncul stigma negative bahwa orang-orang yang berpenampilan Islami adalah teroris.

Setahun pasca serangan tersebut, muncul serangan besar yang terjadi di Indonesia. Bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 meletus. Akibat serangan itu, 200-an orang dinyatakan tewas akibat ledakan bom. Banyak bangunan yang habis tinggal kerangka, bahkan rata dengan tanah, akibat efek ledakan yang sangat besar. Media langsung beramai-ramai memberitakan bahwa yang menjadi pelaku tindak teroris adalah umat Islam. Penangkapan terhadap Amrozi cs, Imam Samudera, dan Ali Gufron menjadi bukti faktual menurut media. Akibatnya, timbul sentiment terhadap umat Islam. 

Abu Bakar Ba’asyir, saat itu, menyatakan bahwa serangan tersebut direncanakan oleh Amerika Serikat. Ba’asyir menyampaikan pernyataan itu saat Konfrensi Pers di Pondok Al-Islam, Solo. Menurutnya, serangan bom di Bali merupakan konspirasi Amerika Serikat untuk membuktikan tudingannya bahwa Indonesia adalah sarang terorisme.

Beberapa hari kemudian, Ba’asyir ditahan selama 2,6 tahun penjara setelah sebelumnya tidak
memenuhi panggilan. Ia ditahan pada 18 Oktober 2002. Masa penahanannya sempat dikurangi 4 bulan 15 hari sehingga beliau resmi dibebaskan pada 14 Juni 2006.

Namun tahun 2010, Ba’asyir kembali ditahan atas tuduhan membidani dan membiayai gerakan teroris di Aceh. Beliau akhirnya resmi ditahan lagi pada 16 Juni 2011 setelah dinyatakan terlibat dalam pendanaan latihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia. Tepat 6 tahun kemudian, ia dibebaskan oleh Jokowi melalui Yusril Ihza Mahendra pada 19 Januari 2019. Ba’asyir dibebaskan tanpa syarat.

Hal itu menunjukkan seharusnya Abu Bakar Ba’asyir bebas sepenuhnya dan lepas dari statusnya sebagai tersangka. Sebab, yang membebaskan adalah orang berkuasa nomor satu di negeri itu. Apabila presiden memutuskan orang itu bersalah, ia bisa dipenjara. Sebaliknya, apabila ia memutuskan setiap orang tidak bersalah maka orang itu bisa dibebaskan. Apalagi tanpa syarat. Namun anehnya, Ba’asyir malah ditahan lagi. Sungguh ini pembohongan publik.

Kalau berkaca pada politik internasional, Abu Bakar Ba’asyir masih menjadi momok bagi Amerika Serikat. Ba’asyir selalu menyampaikan kritik tegas terhadap kebijakan-kebijakan politik negara tersebut.  Sebab, negara itu selalu menyerang negeri-negeri Islam dengan dalih terdapat kelompok teroris. Namun, tujuan utama adalah motif ekonomi. Amerika ingin menguasai Sumber Daya Alam berupa minyak di negara Islam seperti Timur Tengah.

Bisa saja, penahanan Abu Bakar Ba’asyir adalah untuk melemahkan ghirah umat Islam agar Amerika bisa menguasai Sumber Daya Alam Indonesia. Politik pecah belah direncanakan sebagai pengalihan isu agar umat Islam terpecah belah. Sungguh hina jika kebijakan politik skala besar dilakukan hanya untuk memenuhi keinginan perut yang sesaat.

Merujuk pada pembatalan pembebasan Ba’asyir, ini sudah menjadi hoaks yang sangat parah. Ada konspirasi besar atas pembebasan dan penahanan Abu Bakar Ba’asyir yang menurut kita adalah permainan yang direncanakan.

Baru-baru ini, Jokowi melakukan pendekatan pada ulama hingga yang dianggap heroik adalah membebaskan Abu bakar Ba’asyir. Aksi itu sampai diberitakan di semua media, baik media mainstream maupun media internasional. Padahal secara hukum, seseorang yang dibebaskan tanpa syarat harusnya tidak dijebloskan lagi ke penjara. Nyatanya, tidak untuk Ba'asyir, ada apa ini?

Sebelumnya kita dihebohkan dengan pembebasan Ba'asyir. Namun benar, itu hanya pencitraan semata. Pencitraan yang berakhir pembohongan publik. Tentu saja, pembebasan Abu Bakar Ba’asyir adalah hoaks. Jadilah berita itu sebagai hoaks terbesar di masa rezim ini. 

Setiap kebohongan akan terbongkar suatu saat nanti. Ingat, Allah-lah sebaik-baik pemberi balasan. Biarkan Allah menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Jika pemimpin melakukan kesalahan kelak dibalas sesuai dengan amal perbuatannya. Begitu juga sebaliknya, semua itu akan tampak di kemudian hari.

Apakah kebaikan itu tulus karena Allah atau ingin mendapat pujian dan sanjungan dari manusia, semua itu ada balasannya. Baik di dunia maupun di akhirat. Kita mendoakan, semoga kebaikan dapat berlimpah di bumi Allah ini. Amin ya Rabbal ‘Alamin. [MO/re]


Posting Komentar