Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Tugas TKN Jokowi sekarang sah, resmi diambil alih oleh tukang poto. Tidak diperlukan lagi ujaran ndakik-ndakik, program, visi misi, atau makhluk sejenisnya. Itu sudah lewat, 2014 semua amunisi Jokowi sudah dimuntahkan.

Sekarang, TKN Jokowi tinggal mencari remah-remah dari puing pencitraan yang masih mungkin untuk dijual. Terakhir, foto sesi makan bersama ditetapkan TKN sebagai produk unggulan yang layak unggah, untuk mempengaruhi persepsi publik, untuk mempengaruhi preferensi politik umat.


Harapannya, dengan foto bersama dan bersahaja, dengan menu sederhana dan dibuat 'ala kadarnya' TKN bermimpi terbangun persepsi ditengah masyarakat, bahwa JOMA' (Jokowi - Ma'ruf) adalah Figur pasangan capres cawapres yang merepresentasikan umat. Namun persepsi yang diharapkan justru berkebalikan.

Rakyat itu bukan dalam kondisi sederhana, tapi melarat dan sekarat. Mungkin jika aksen makannya dengan menggunakan pakaian compang camping, duduk dipinggir bantaran rel kereta api, untuk merepresentasikan 'rakyat' yang dipimpin, untuk menunjukan empati pada 'rasa' yang ada dibenak rakyat, bolehlah.

Tetapi menyantap hidangan yang disuguhkan kamera kepada rakyat, justru menyakiti hati rakyat. Rakyat sibuk bertarung, bekerja menyambung hidup, pemimpinnya malah asyik makan. Dipamerkan pula.

Giliran kunjungan ke lokasi gempa, dimana rakyat lapar dan butuh makan, pemimpin tidak membawa makanan barang satu bungkus. Pemimpin justru sibuk menjadikan latar bencana, sebagai ajang selvie layaknya praweding.

Preferensi politik umat juga berkebalikan, awalnya umat ragu untuk tidak memilih pasangan JOMA'. Tapi, karena umat terlalu sering disuguhi foto-foto makan-makan, padahal rakyat sedang kelaparan, maka foto tersebut justru menguatkan preferensi politik umat untuk tidak memilih pasangan Joma'.

Apalagi foto tadi beredar dengan capture menjilat yang diunggah para cebong. Seolah, dengan berfoto masalah negara bisa tuntas. Urusan rakyat bisa kelar.

Menurut saya, setelah membaca tulisan ini pasti TKN Jokowi dahinya berkerenyut dan mengevaluasi rencana poto-poto Jokowi. Harus ada angle yang lebih pas, yang mewakili suasana kebatinan umat, agar foto itu dihayati oleh rakyat, memicu empati dan simpati.

Kalao poto yang diunggah mengulang, termasuk tetapi tidak terbatas seperti : pamer sholat, bercengkrama dengan tol, reuni keluarga, kunjungan Kiyai, dipastikan poto model demikian ini akan mengunduh antipati publik. Poto poto yang beginian, dilini masa dan jejaring sosial media, langsung dihapus oleh netizen yang mendapatkannya, karena dianggap hanya sampah yang membebani memory HP.

Lantas apa yang membuat rakyat simpati ? Ini usulan, mungkin saja benar. Mungkin perlu dibuat video dan foto Jokowi terjun bebas dari puncak bukit dengan ketinggian diatas rata-rata 125 m. Saya kira, video dan fotonya pasti akan mengunduh simpati, empati dan keprihatinan yang mendalam. Saya jamin akan viral !

Sekali lagi, saya serius bertanya : HARI INI JOKOWI MO BIKIN POTO APA LAGI YA ? [].

Posting Komentar