Oleh : Ghaziyah Ufairah
Potong bebek angsa masak di kuali
Sudah ngajar lama, PNS gak jadi
Dulu percaya janji Jokowi, tetapi janjinya tidak terbukti
Potong bebek angsa masak di kuali
Honor selamanya, gaji dikit kali
Kami mengabdi setiap hari, ternyata PNS hanya mimpi
(The Lyric)
Mediaoposisi.com-Berawal dari sebuah lirik lagu yang berdurasi satu menit sebagai perwakilan dari suara manusia-manusia pengabdi negara. Manusia yang kerap kali bekerja sebagai wakil Negara untuk mendidik dan mengurus berbagai seruan tanpa henti dari sang korporasi.

Setiap menit, jam, hari, bulan dan tahun tehitung sebagai seorang pengabdi yang tak ternilai. Melangkahkan kaki dini hari meninggalkan rumah dan keluarga, hanya untuk mencari sesuap nasi untuk anak, istri dan diri. Lalu zalimkah jika mereka meminta hak untuk diri sebagai pengabdi ?

Terganjal Aturan Tak Bisa Jadi PNS, Ratusan Honorer Demo adalah salah satu unjuk rasa yang dilakukan oleh para Honorer di Gedung DPRD DIY dan Kantor Gubernur DIY, Kamis (4/10/2018).

Mereka memprotes mekanisme rekruitmen Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat.

Sesuai Perman PAN dan RB No 36 dan 37 tahun 2018 tentang Kriteria Penetapan PNS Pelaksanaan Seleksi, mereka banyak yang tidak bisa menjadi PNS. Salah satu aturan yang mengganjal mereka terkait dengan umur.

Dimana dalam aturan seleksi terdapat batasan umur sampai 35 tahun. Padahal sebagian besar dari honorer berumur di atas 40 tahun bahkan ada di atas 50 tahun.

Jika dilihat secara saksama di negeri Indonesia, sebagian besar penduduk yang memiliki pekerjaan bergelut sebagai honorer. Pengabdi Negara yang satu ini terkadang merasa bahwa tidak terjadi keadilan seperti pada sila ke-5 yang tertera di Pancasila.

“Mana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ?” gumam salah seorang yang merasa diintimidasi. Sangat krusial menjadi pembahasan belakangan ini tentang slogan keadilan yang tak didapat oleh rakyat bawah dan hina.

Karena keadilan hanya untuk sebagian orang yang merasa penting dan pantas mendapatkannya. Itulah negeri yang dikenal kaya dan pancasilais.

Pengabdi negara yang tak memiliki tunjangan hidup, tak dilirik kemampuan terpendam yang mereka miliki. Namun mereka seperti jam dinding yang tak pernah berhenti berdetak meskipun mereka tak dilirik ataupun dilirik hanya sepintas.

Apakah ‘kezaliman’ itu hanya kata yang tak harus disuarakan ? karena hari ini kejahatan telah terbiasa dengan zonanya, hingga kebenaran terkubur dalam dekapan mereka. Namun, mereka para pembawa kebenaran mulai bangkir dari kuburnya yang dalam untuk menyuarakan kebenaran yang tak seharusya dibungkam.

Keadilan tak harus dimiliki oleh para kapitalis yang bermodal dan berduit. Egaliter adalah bagian dari asas negara yang menjadi realisasi nyata sebagai tuntutan para rakyat. Jika bukan kalian, lalu siapa yang akan membongkar kejahatan ini ? kalau bukan sekarang lalu kapan kebenaran akan bersuara ?

“Misalnya istilah Keadilan Sosial yang menitikberatkan pada peraturan tertentu, yang ringkasnya menjamin pendidikan dan kesehatan bagi orang-orang fakir miskin atau  menjamin hak-hak kaum buruh dan pegawai negeri. Adil menurut Islam adalah lawan dari zalim.

Di dalam Islam jaminan dipenuhinya bagi yang lemah dan amat membutuhkan, adalah hak yang dimiliki bagi seluruh rakyat yang berkewarganegaraan Islam, baik pegawai maupun bukan, buruh ataupun petani, dan lain-lain.” (Taqiyuddin an-Nabhani dalam buku Nizamul Islam Halaman 145-146)

Dalam Islam tak ada istilah hanya PNS yang mendapatkan gaji negara, sedangkan honorer atau buruh harian digaji bukan oleh negara. Tetapi Islam memberikan gambaran bahwa orang yang bekerja akan diberikan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

Boleh jadi PNS yang diberikan tunjangan hidup saat ini tak memberikan pengabdiannya secara maksimal akibat penetapan gaji yang telah digariskan.

Tidak diherankan jika sebagian besar PNS hanya ongkang-ongkang kaki dan malas bekerja. Sehingga Islam menggarisbawahi bahwa rakyat akan mendapatkan sesuai dengan porsinya.

Umar bin Khattab ra adalah seorang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan. Pada masanya, ia menetapkan gaji setiap pengajar sebanyak 15 dinar setiap bulan. Dinar merupakan mata uang yang terbuat dari bahan logam emas. Satu dinar setara dengan 4.25 gram emas.

Mata uang yang terbuat dari emas sepanjang sejarah merupakan mata uang yang tahan banting terhadap inflasi. Dicatat bahwa 1 dinar setara dengan Rp. 2.258.000,-. Artinya gaji guru mencapai Rp. 33.870.000.[MO/ad]

Posting Komentar