Oleh: Lilis Holisah 
Pascasarjana UNTIRTA Banten

Mediaoposisi.com-Selalu saja ada cerita dari negeri yang berpenduduk 267 juta jiwa ini. Baru-baru ini pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) menurunkan harga BBM nonsubsidi yakni Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo, serta Dex dan Dexlite.

Penurunan harganya berkisar antara Rp 100 hingga Rp 250 per liter. Penurunan harga ini bisa dibilang sangat terlambat, kenapa? Karena harga  minyak mentah di pasar dunia sesungguhnya telah turun drastis pada November lalu.

Lantas kenapa sekarang baru turun? Terlebih lagi anehnya pemerintah menurunkan harga BBM saat harga pasar dunia naik. Kita semua tahu, saat ini paslon sudah mulai kampanye pilpres 2019.

Apa namanya jika penurunan BBM dilakukan saat harga dunia naik kalau bukan untuk pencitraan?

Kalau bukan untuk mengambil hati rakyat agar mereka memberikan suaranya saat pilpres nanti? Terlebih penurunan harga ini dinilai terlalu rendah, padahal ketika November lalu harga pasar dunia turun sekitar 30 persen.

Sementara selama ini, subsidi untuk rakyat terus dicabut. Dan harga BBM terus naik tanpa pernah berpikir bahwa rakyat kesulitan akibat kenaikan harga BBM tersebut.

Karena ketika harga BBM naik selalu diikuti dengan kenaikan harga-harga lainnya di pasar. Ketika rakyat mengkoreksi kebijakan pemerintah, rakyatlah yang kemudian disalahkan.
Untuk Kepentingan Siapa?

Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menurunkan harga BBM sejatinya bukanlah semata karena kepeduliannya terhadap rakyat.

Kenapa? Karena kita semua telah secara nyata mengetahui bagaimana keberpihakan pemerintah. Bukan kepada rakyat tetapi kepada kapitalis yang selama ini mensupport, mendukung penuh pemerintah dengan dana-dana yang tidak sedikit.

Penguasa yang sekarang menduduki kekuasaan, tentu tidak lepas dari campur tangan pengusaha yang menopang dana saat masa kampanye dulu. Alhasil, tentulah ada balas budi yang harus dilakukan setelah berkuasa.

Demikianlah, sudah menjadi rahasia umum, dibalik penguasa ada pengusaha yang mendukungnya. Karena untuk bisa sampai pada kursi kekuasaan, butuh dukungan dana yang tidak sedikit. Siapa yang memiliki dana yang besar tersebut kecuali kapitalis besar?
BBM Milik Siapa?

Islam telah menetapkan bahwa BBM merupakan harta milik umum. Oleh Karena itu, pendapatan dari BBM menjadi milik seluruh kaum Muslim dan setiap individu rakyat memiliki hak untuk mempero-leh manfaat dari harta tersebut dan pendapatannya.

Semua kalangan berhak mendapatkan haknya, baik itu laki-laki, perempuan, anak-anak, dewasa, orang shalih, jahat atau kaya dan miskin. Karena ini merupakan harta milik mereka, dan mereka butuhkan.

Harta milik umum atau rakyat yang bisa langsung dimnafaatkan adalah air, padang rumput, api, jalan umum, laut, sungai, danau dan terusan (kanal). Semua kepemilikan umum ini bisa dimanfaatkan secara langsung.

Air, padang rumput maupun api bisa dimanfaatkan langsung oleh rakyat, baik untuk kebutuhannya sendiri, atau memanfatkan sumur, mata air dan sungai untuk diambil airnya dan dialirkan untuk hewan serta ternaknya.

Para penggembala juga bisa menggembalakan hewan dan ternaknya di padang rumput. Pengumpul kayu juga bisa mengambil kayu di hutan.

Ada juga jenis kepemilkan atau harta milik umum yang tidak bisa dimanfaatkan secara langsung, tetapi membutuhkan usaha atau upaya dan biaya untuk mengeluarkannya, seperti minyak, gas dan barang-barang tambang lainnya. Oleh Karena itu, negara yang mengambil alih tanggung jawab untuk eksploitasinya, sebagai wakil dari kaum Muslim.

Hasilnya disimpan di Baitul Mal kaum Muslim. Khalifahlah yang memiliki wewenang dalam hal pendistribusian hasil dan pendapatannya sesuai dengan ijtihadnya, yang dijamin oleh hukum-hukum syara’. Tujuannya adalah untuk mewujudkan kemaslahatan kaum Muslim.

Sementara itu distribusi dan pembagian hasil dari barang tambang dan pendapatan milik umum tersebut bisa dilakukan untuk:

Pertama, membiayai kebutuhan yang berhubungan dengan hak milik umum, seperti:

Pos hak milik umum, bangunan, kantor, catatan, sistem pengawasan dan pegawainya.
Para peneliti, penasihat, teknisi, pegawai, orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk melakukan penelitian dan penemuan, eksplorasi minyak bumi, gas, barang tambang dan dana untuk eksplorasinya,

untuk produksi dan proses penyelesaiannya hingga membuatnya layak untuk digunakan, juga untuk orang-orang yang memberikan jasanya menemukan sumber dan penyalurannya, untuk pembangkit listrik dan jaringan kawatnya.

Membeli berbagai peralatan dan membangun industri, pemboran dan penyulingan minyak bumi dan gas, pemisah dan pembersih bijih-bijih barang tambang, pemrosesan barang-barang tambang hingga layak digunakan.

Juga digunakan untuk membeli alat dan industri yang biasa dipakai pada industri milik umum, dan proses pemanfaatannya. Untuk alat-alat yang bisa mengeluarkan air, memompa dan untuk pipa-pipa salurannya. Pembangkit listrik, gardu, tiang-tiang penyangga dan kawat-kawatnya. Untuk membeli kereta api dan trem listrik, dan sebagainya.

Kedua, dibagikan kepada individu rakyat. Khalifah berhak membagikan harta milik umum seperti air, listrik, minyak bumi, gas dan segala sesuatu yang diperlukan kepada yang memerlukannya untuk digunakan secara khusus di rumah-rumah mereka dan pasar-pasar mereka, secara gratis.

Namun, bisa saja Khalifah menjual harta milik umum ini kepada rakyat dengan harga yang semurah-murahnya, atau mengikuti harga pasar.

Khalifah juga bisa membagikan uang hasil keuntungan harta milik umum  ini kepada mereka. Semua kebijakan tadi ditetapkan dan diambil dalam rangka mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat.

Semua kebijakan tadi ditetapkan dan diambil dalam rangka mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat.[MO/ge]

Posting Komentar