Oleh: Dina Dwi Nurcahayani

Mediaoposisi.com- Tahun 2018 baru saja berlalu. Dengan serentetan bencana alam maupun sosial, negeri ini nampak semakin babak belur. Gempa bumi, tsunami, tanah longsor adalah bencana alam yang sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Namun, sejatinya ada andil manusia disana sehingga Allah turunkan bencana.

Kerusakan yang dibuat oleh tangan-tangan manusia jahil yang menolak dan menentang aturanNya tidak hanya berimbas pada mereka saja, melainkan juga dirasakan oleh masyarakat luas. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Ar Rum ayat 41:

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali [ke jalan yang benar]" 

Bukan hanya bencana fisik, tetapi juga bencana sosial, moral, politik, pendidikan, ekonomi, hukum dan pemerintahan masih menghantui negeri ini. Yang lebih parah adalah bencana semakin merosotnya aqidah umat. Semakin jauhnya masyarakat dari nilai-nilai Islam membuat kehidupan kian kacau balau dan jauh dari kesejahteraan, lahir maupun batin. Namun, semua bencana itu tak jua diambil hikmah dan pelajarannya.

Berbagai macam kerusakan yang terjadi di negeri kaya ini masih terus terjadi. Diantaranya adalah bencana sosial-moral seperti kemaksiatan yang semakin terbuka, pergaulan bebas, perzinahan, prostitusi yang bahkan melibatkan anak-anak dan remaja, perilaku menyimpang lgbt, kenakalan remaja, pornografi dan pornoaksi juga makin tak terkendali.

Kemudian dalam ekonomi, dimana semakin banyaknya pengangguran dan kemiskinan, harga-harga bahan pokok yang tidak stabil, hutang Negara yang terus bertambah, kesenjangan yang semakin melebar, belum lagi sumber daya alam yang masih dikuasai asing nampak jauh dari kata terselesaikan. Korupsi yang masih terus menggurita sampai ke tingkat bawah.

Penegakan hukum yang tebang pilih. Permainan dan rekayasa hukum untuk kepentingan tertentu. Hukum yang tumpul ke atas, tapi tajam ke bawah. Menghukum pihak yang menyampaikan kebenaran, sementara pelaku kejahatan malah dilindungi dan dihormati. Persekusi ulama dan kyai.

Penghadangan tokoh umat yang kritis terhadap penguasa. Menghalangi pengajian dan aktivitas dakwah di tengah umat. Membubarkan ormas yang peduli pada negeri tanpa melalui prosedur yang benar. Sampai pembakaran bendera tauhid yang dituduh sebagai bendera teroris dan terlarang.
Angka kriminalitas yang semakin meningkat dan semakin mengancam kehidupan masyarakat.

Penyalahgunaan narkoba. Perdagangan manusia. Bisnis miras yang terus hidup meski telah memakan banyak korban. Sampai permainan politik kotor demi kursi kekuasaan. Menghalalkan segala macam cara, meski menabrak norma agama dan akal sehat. Menipu dan melakukan pencitraan demi meraih simpati. Mengingkari janji dan mengkhianati amanah tak segan dilakukan.

Bahkan nekat menggunakan suara orang gila guna meraup kemenangan. Otak-atik akal licik demi tercapainya tujuan. Dan masih banyak lagi kekacauan dan kerusakan lainnya yang diakibatkan salah menerapkan sistem.

Terbukti sistem rusak yang selama ini diterapkan adalah sumber dari segala macam permasalahan yang menimpa manusia. Meski sudah diterpa berbagai bencana dan kerusakan dalam semua sendi kehidupan, nampaknya kita belum mengambil pelajarannya. Dan anehnya masih saja dipuja dan dilanggengkan.

Dari tahun ke tahun. Dari pemilu ke pemilu. Waktu terus bergulir. Dari presiden ke presiden, namun dengan sistem yang sama. Adakah perbaikan yang terjadi dalam masyarakat? Semakin sejahterakah rakyat? Semakin adilkah hukum yang berlangsung di negeri ini?

Jawabnya lihat pada angka kriminalitas yang terus naik. Lihat juga pada angka kemiskinan dan pengangguran yang terus bertambah. Setiap waktu terus meningkat, bukannya malah turun atau hilang sama sekali. Bahkan semakin kompleks keadaannya. Semakin bervariasi kerusakan yang terjadi di tengah masyarakat.

Jelas sekali sistem yang dijalankan sekarang ini tak mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Tak mampu memberikan rasa keadilan. Tak mampu memberikan perlindungan yang hakiki. Tak mampu menjamin kebebasan dalam beragama. Tak mampu membuat manusia menjadi makhluk bermartabat yang membawa manfaat bagi sesama dan alam semesta.

Sudah terlampau banyak kerusakan yang diakibatkan oleh sistem rusak buatan manusia hingga tak sanggup lagi tangan ini menuliskannya satu demi satu. Terlampau parah kerusakannya hingga sesak dada ketika menyebutkannya. Begitu nyata. Nampak di depan mata. Tak bisa lagi ditutup-tutupi. Tak bisa lagi didiamkan. Harus segera diakhiri.

Tinggalkan sistem rusak ini dan kembali pada Islam. Pada aturan yang bersumber dari Sang Maha Segalanya. Aturan yang diturunkan oleh Sang Pemilik Alam Semesta. Aturan yang dibuat oleh Allah Al-Mudabbir, Maha Pengatur. Sebaik-baik pembuat aturan.

Aturan yang dibuat oleh Sang Khalik yang menciptakan seluruh makhlukNya. Maka, adakah aturan yang lebih pantas diterapkan selain aturanNya yang jelas memahami seluk beluk manusia dan alam semesta? Adakah aturan lain yang lebih adil selain aturan yang diciptakan oleh Sang Pemilik Keadilan sesungguhnya? Lebih layak mana untuk ditaati, aturan buatan manusia atau aturan Allah? Patut kita renungkan firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 50 berikut ini:

"Apa hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?"

Sejarah telah mencatat, meski banyaknya kepalsuan dan rekayasa untuk menutupi keagungan penerapan Islam. Betapa luar biasanya peradaban manusia ketika Islam diterapkan sebagai aturan Negara. Rakyat hidup aman, bahagia dan sejahtera. Kesejahteraan lahir dan batin setiap rakyat terjamin. Aqidah umat terjaga dengan baik.

Bahkan non muslimpun akan dihormati keyakinannya. Tak ada paksaan untuk memeluk Islam. Setiap umat beragama bisa hidup dengan tenang penuh toleransi menjalankan agamanya masing-masing. Non muslim akan dihormati selayaknya muslim. Tak ada diskriminasi. Semua warga Negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, baik dia muslim atau bukan.

Kondisi ekonomi sangat baik dimana bahkan sulit mencari orang miskin. Setiap orang boleh menggunakan barang-barang milik umum seperti jalan, sungai, jembatan, laut dan yang serupa untuk kehidupan mereka. Air, padang rumput dan api adalah milik umat. Tidak boleh dikuasai Negara apalagi asing.

Barang-barang tambang menjadi milik rakyat yang dikelola oleh Negara untuk kesejahteraan bersama. Apa yang ada di bumi, air dan udara semuanya dapat dipakai untuk kemakmuran rakyat dan Negara dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip pengelolaan yang ramah lingkungan. Membangun tanpa merusak.

Hukum yang ditegakkan secara adil bagi seluruh umat. Tanpa memandang status dan jabatan. Tak peduli meski yang dihadapi adalah penguasa, ketika rakyat dalam posisi benar, maka ia akan mendapatkan keadilannya. Setiap nyawa begitu berharga, sehingga pelanggaran terhadap anggota badan ada sanksinya. Bahkan gigi yang tanggal akibat pelanggaran akan dimintai tanggung jawabnya di hadapan syariat. Keamanan setiap jiwa akan terjamin.

Perempuan sebagai makhluk mulia dan ibu peradaban, sangat dilindungi dalam Islam. Kebutuhan hidupnya terjamin. Nafkahnya dipenuhi oleh suami atau walinya, atau jika tidak ada maka Negara wajib mencukupi segala kebutuhannya. Hingga ia tak harus keluar rumah mencari pekerjaan. Perempuan juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum laki-laki, disesuaikan dengan kodrat fisiknya.

Ia sama pentingnya dengan manusia lainnya. Ia bukan sampingan atau bawahan. Perempuan bukan manusia rendahan. Perempuan sangat terhormat dan mulia. Dijaga dengan jilbabnya. Tetap bisa berkarya sesuai dengan kapasitasnya. Tercatat dalam sejarah begitu banyak muslimah tangguh nan berprestasi yang namanya mendunia. Menjadi panutan banyak muslimah masa kini. Menghasilkan banyak karya yang diakui dunia. Sholehah dan berprestasi.

Ilmu pengetahuan maju dengan pesatnya dengan tetap berlandaskan pada aqidah Islam. Begitu banyak ilmuwan dengan hasil karyanya yang mendunia. Mereka menjadi rujukan oleh seluruh ilmuwan dari berbagai belahan bumi. Bahkan menjadi dasar ilmu pengetahuan modern sampai sekarang. Peninggalan-peninggalan fisik yang menjadi saksi betapa gemilangnya peradaban Islam. Tokoh-tokoh dunia yang mengakui kehebatan dan keagungan Islam sebagai landasan peradaban umat manusia.

Semua itu tak bisa dipungkiri, meski coba disembunyikan dan dipalsukan. Namun kebenaran selalu menemukan jalannya. Ibarat cahaya matahari yang terangnya tak bisa dihalangi. Meski coba ditutupi, ia akan menembus melalui celah-celah. Permata meski terkubur dalam lumpur hitam, tak lantas membuatnya pudar. Itulah cahaya Islam dalam naungan Khilafah.

Hanya Islam yang bisa mewujudkan itu semua. Islam dalam bingkai Khilafah yang akan sanggup menyelesaikan segala problematika kehidupan. Mengakhiri segala penderitaan akibat kezaliman sistem kufur buatan manusia. Bukan Islam dalam bingkai nasionalisme.

Bukan Islam dalam sosialisme, kapitalisme, sekulerisme ataupun feodalisme. Atau bentuk lain apapun itu. Namun, hanya Islam dalam naungan Khilafah yang mampu menerapkan aturanNya secara sempurna. Yang akan melindungi seluruh manusia, membawa kesejahteraan dan keberkahan dunia-akhirat.

Maka, sampai kapan umat akan terus meninggalkan aturanNya? Perlu bukti apalagi hingga mau meninggalkan sistem kufur sekarang ini? Sudah cukup kerusakan di muka bumi ini akibat meninggalkan aturan Islam. Sudah saatnya kembali kepada aturan sejati dari Yang Maha Hakiki. [MO/sr]

Posting Komentar