Oleh : Ani Herlina 
(Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com-Publik saat ini, kembali lagi dikejutkan oleh artis yang terjerat  prostitusi online.

Setelah FNJ salah satu artis yang kerap membintangi serial FTV terciduk menginap dengan napi kasus korupsi kelas kakap TCW beberapa waktu lalu,kini diawal 2019 publik dibuat heboh kembali dengan terciduknya artis berinsial AV bintang serial FTV dan AS

Seorang model panas dari majalah popular yang disebut-sebut ditangkap polisi di Surabaya terkait kasus prostitusi berbasis online.

Dan cukup mencengangkan AV satu kali kencan mendapat bayaran 80 juta, tarif yang cukup fantastis ditengah ekonomi yang sedang fluktuatif.

Ibarat fenomena gunung es ,artis yang terjerat prostitusi online bisa jadi jumlahnya sangat banyak. Tapi yang terciduk dilapangan hanya beberapa. Jika dipikir secara logika, artis menjadi PSK adalah hal yang tak mungkin.

Dunia kerja mereka mendapatkan bayaran yang cukup mahal setiap kali wara-wiri dilayar kaca. Namun ,banyak hal yang menyebabkan mereka dengan sukarela menjual diri pada pria hidung belang yang berkantong tebal.

Profesi artis tentu sangat menjual sehingga bisa menaikan tarif yang lumayan mahal dibanding masyrakat kelas biasa dengan profesi sama. Mereka juga didukung dengan kecantikan, juga penampilan yang high classnya.

Maraknya artis yang terciduk polisi karena terjerat prostitusi online tidak lain karena gaya hidup hedonis yang membutuhkan uang sangat banyak untuk memenuhi tuntutan gaya hidup mereka yang cukup mahal.

Sehingga orientasi hidup mereka hanya materi  agar bisa memuaskan kebahagian semunya. Demi bisa memiliki gaya hidup ala sosialita,maka cara apapun ditempupuh meskipun harus  one night stand dengan pasangan haramnya.

Persaingan didunia artispun sangatlah ketat,karena banyaknya pendatang baru yang lebih fresh dan cantik. Otomatis para pemain lamapun perlahan-lahan tersingkirkan pengaruhnya.

Hingga akhirnya, karier mereka meredup yang menyebabkan berkurangnya pundi-pundi rupiah. Sedangkan gaya hidup hedonis sudah cenderung melekat dan tuntutan karena lingkungan yang sudah mewarnainya.

Mereka butuh sejajar dan diakui oleh lingkungan pergaulannya. Sedangkan biaya bergaul ditengah-tengah kaum sosialita itu cukup mahal. Dan prostitusi adalah cara termudah untuk menghasilkan uang yang banyak tanpa harus bekerja lebih keras.

Kecanggihan teknologi juga cukup memudahkan mereka untuk melakukan transaksi jual beli sex secara online.

Ini tidak hanya menimpa kalangan artis saja, namun sudah mewabah kekalangan masyrakat biasa, pelajar dan mahasiswa. Dibantu para mucikari yang memuluskan jalan mereka untuk mempertemukan dengan pelanggan.

Lemahnya peran Negara dalam mempersiapkan generasi yang bertakwa akibatkan diterapkannya demokrasi liberal menyebabkan bangsa ini menglami dekadansi moral yang cukup parah.

Para perempuan yang sejatinya adalah kaum ibu, seharusnya mereka di didik menjadi perempuan tangguh dan hebat,memiliki Izzah dan Iffah agar bisa melahirkan generasi yang Rabbani dan berahlaqul karimah.

Namun hari ini, banyak yang perempuan dengan sukarela menajajakan dirinya menjadi pemuas nafsu syahwat para lelaki hidung belang. Perempuan ini bangga mengekploitasi tubuhnya demi lembaran rupiah. Mereka tidak sadar sudah di ekploitasi dan menjadi komoditas bisnis para kapitalis.

Lemahnya peran keluarga dalam pendidikan agama juga membuat para selebritis sangat rentan tekena virus hedonisme. Bahkan para orang tua sangat bangga jika memiliki anak seorang artis,meski perkerjaannya kerap mengumbar aurat.

Dan para orang tua ikut berpartisipasi agar anak-anaknya ikut berbagai ajang pencarian bakat dengan harapan anaknya bisa menjadi artis. Tak pernah dipikirkan damfak negatipnya.

Pergaulan bebas yang mengancam, tuntutan gaya hidup mahal sehingga kerap kali mengambil jalan yang bertentangan dengan norma agama atau damfak psikologis akibat bullying akibat gaya hidup si artis yang penuh kontra versi.

Didalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ), prostitusi di atur pada pasal 296 KUHP yang berbunyi:

“Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah. KUHP tersebut dapat digunakan untuk menjerat penyedia PSK atau germo.

Dan hal ini merupakan hukuman yang cukup lemah,sehingga wajar prostitusi semkin hari - semakin merajalela.

Sedangkan untuk penjaja dan pemakai jasa PSK, KUHP tersebut tidak bisa diterapkan, namun di atur di beberapa peraturan daerah ( PERDA ) seperti di Jakarta yang diatur dalam pasal 42 ayat ( 2 ) Perda DKI Jakarta No. 8 tahun 2007 tentang ketertiban umum.

Sudah jelas bahwa sekali bahwa Negri belum memiliki peraturan yang cukup ketat terkait kegiatan prostitusi ini. Apalagi ada upaya keras sebagai tindakan preventif agar masyrakat tidak terjerumus pada kegiatan asusila tersebut. Malah cenderung dikasih peluang.

Hanya islam yang menghentikan kegiatan prostitusi ini. Karena islam memberikan sanksi yang tegas terhadap para pelaku perzinahan dengan hukuman rajam.

Dan islamlah yang mengangkat harkat martabat perempuan pada tingkatan tertinggi,juga menjaga sangat menjaga nasab manusia dengan paripurna, yaitu dengan jalan pernikahan.

Dalam sebuah hadist, Rosulullah SAW menyatakan bahwa: “Wanita adalah tiang suatu Negara, apabila wanitanya baik maka Negara akana baik. Dan apabila wanita rusak maka negarapun akan rusak.

Begitu tingginya peran perempuan sehingga maju dan mundurnya bangsa ini tergantung peran mulia dan hebat perempuan.

Karena perempuanlah yang memiliki posisi penting dalam rumah tangga. Selain melahirkan generasi, dia juga memiliki peran penting mempersiapkan generasi hebat dan bertakwa.

Posting Komentar