Oleh : Isturia

Mediaoposisi.com-Jagat hiburan tanah air dihebohkan dengan tertangkapnya artis VA bersama R di kamar hotel surabaya.

VA diduga terlibat prostitusi online dengan tarif 80 juta. Dalam hukum Indonesia, hanya mucikari yang dipidanakan untuk kasus pelacuran. Sementara pelaku prostitusi dan pelanggannya hanya sebagai saksi.

Namun dalam perkembangan terbaru, polisi menyiratkan kemungkinan untuk menjadikan VA sebagai tersangka, dengan tuduhan bahwa ia terlibat aktif dalam jaringan prostitusi.

Kepala Kepolisian Jawa Timur Inspektur Jenderal Luki Hermawan mengungkapkan lima selebritas lain dari 45 perempuan yang diduga terlibat kasus prostitusi online jaringan muncikari yang menaungi artis VA. Luki menyebut, dua di antara mereka adalah finalis Putri Indonesia tahun 2016 dan 2017.(bcc indonesia)

Polisi akhirnya menetapkan Vanessa Angel sebagai tersangka dalam kasus prostitusi online. Sebelumnya, status Vanessa sebagai saksi korban, karena menjadi salah satu penyedia layanan.

"Saya sampaikan kepada rekan-rekan media terkait penyidikan kasus prostitusi online, kami sampaikan terkait hasil gelar daripada diperiksanya saudari VA dan kami mulai hari ini kami tetapkan sebagai tersangka," kata Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Rabu (16/1/2019).(Detiknews)

Bisnis esek-esek ini memang menggiurkan. Hanya bermodal tubuh halus dan mulus sudah bisa meraup fulus hingga jutaan rupiah dalam hitungan jam. Pekerjaan ini tidak hanya diminati oleh kalangan artis. Masyarakat biasa pun bisa terjerumus.

Bisnis ini ibarat mesin pencetak uang. Akan dengan mudah mengumpulkan rupiah demi rupiah. Apalagi di tengah himpitan ekonomi yang parah.

Menjamurnya prostitusi bukan tanpa sebab. 

Salah satu penyebabnya adalah hedonisme. Menurut Wikipedia, Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Terpenuhinya naluri seksual adalah salah satu kesenangan manusia. Walaupun itu menabrak hukum agama tak masalah. Penyakit hedonis telah menjangkiti sebagian umat Islam. Tumbuh subur di alam Sekuler Demokrasi.

Demokrasi pengagung 4 kebebasan.  Kebebasan berprilaku salah satunya membolehkan setiap individu bebas melakukan apapun yang dikehendakinya.

Tidak heran jika pelaku zina tidak termasuk tindak kriminal di negeri ini. Berzina apabila suka sama suka maka ini sesuai hukum yang ada. Pelaku dikenai hukuman jika ada pihak yang dirugikan. Begitulah hukum positif yang berlaku. Mustahil hukum di negeri tercinta kita bisa memberantas kemaksiatan termasuk prostitusi/pelacuran.

Dalam Islam prostitusi/pelacuran merupakan perbuatan zina dan ini kemaksiatan. Pelanggaran terhadap hukum Islam wajib dikenai sanksi. Baik untuk tujuan komersil atau bukan, baik pelaku sudah berkeluarga atau belum.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-nur ayat dua yang artinya:
“Wanita dan laki-laki yang berzina maka cambuklah masing-masing mereka 100 kali.
Dan janganlah belas kasihan kepada mereka mencegah kamu dari menjalankan agama Allah SWT,
jika kamu beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman.”

Hukum Islam diterapkan bukan tidak manusia ataupun kejam tapi sebagai penebus dosa dan efek jera bagi yang lain sehingga tidak melakukan perzinahan.

Janganlah umat berharap pada Demokrasi untuk menghilangkan kemaksiatan seperti pelacuran. Berharaplah pada Islam yang memiliki solusi tuntas dalam menghilangkan kemaksiatan dengan sanksi yang tegas yaitu penerapan Islam secara Kaffah dalam bingkai Khilafah Minhajjin Nubuwwah.[MO/ad]

Posting Komentar