Oleh : Novida Balqis Fitria Alfiani

Mediaoposisi.com-  Aksi reuni 212 pada 2 Desember lalu adalah sebuah aksi yang memperlihatkan persatuan umat Islam di negeri ini. Bagaimana tidak, aksi reuni 212 tersebut dihadiri oleh sekitar 13,4 juta jiwa dari berbagai daerah di Indonesia. Pada aksi reuni 212 kemarin, umat yang hadir sempat diperdengarkan rekaman habib Rizieq yang memberikan sambutan pada aksi tersebut.

Ayo, jadikan setiap 2 Desember sebagai ijtimak ulama, hari berkumpulnya umat untuk kebangkitan persaudaraan dan persatuan, insya Allah. Sebelum saya sampaikan penutup, dan juga bahwa negeri kita sedang carut marut, maka kita harus melakukan perubahan. Dan menurut hemat saya bahwa perubahan dalam waktu dekat ada didepan mata kita tidak lain dan tidak bukan adalah 2019 ganti presiden.” (islampos.com, 2/12/2018)

Menurut pidato yang disampaikan oleh habib Rizieq, beliau menyampaikan tentang kebangkitan dan persatuan pada aksi 212 sebelum menutup pidato. Menurut apa yang disampaikan beliau, perubahan yang seharusnya dilakukan oleh umat adalah ganti presiden pada tahun 2019.

Berbicara tentang perubahan, sebenarnya apakah perubahan yang hakiki (seharusnya) adalah dengan ganti presiden pada tahun 2019? Apakah cukup dengan ganti presiden, carut marut di negeri ini akan terselesaikan? Mari kita mengibaratkan dengan rusaknya sebuah mobil yang dimiliki Joko. Suatu hari, Joko yang sudah mengetahui mobilnya yang rusak membawanya ke sebuah bengkel.

Namun betapa mengejutkannya, montir yang menangani mobil Joko menyampaikan bahwa semua mesin yang berada di mobilnya tersebut sudah penuh dengan karat dan rusak tidak bisa diperbaiki atau diganti mesin yang baru dikarenakan jenis mobil yang dimiliki Joko tersebut sudah sangat tua dan termasuk dalam mobil kuno, maka untuk mendapatkan  jenis mesin dan onderdil-onderdil yang sama sungguh merupakan hal yang mustahil. Akan tetapi yang lebih mengejutkannya lagi, Joko membantah penjelasan dari montir tersebut dan justru menimpali dengan ucapan, saya akan menyewa sopir terbaik agar mobil yang sangat saya cintai ini masih bisa digunakan.

Melihat dari ilustrasi diatas dan dikaitkan dengan kondisi negeri kita sekarang, maka mobil tersebut sangat pas apabila kita samakan dengan aturan atau sistem yang berlaku di negeri ini.
Berbicara soal sistem, maka terdapat 3 sistem yang ada di dunia ini yaitu sistem kapitalisme demokrasi, sistem sosialisme, dan sistem Islam. Dari 3 sistem tersebut, sistem yang diterapkan negeri ini adalah sistem kapitalisme demokrasi.

Siapapun yang mempunyai pemikiran cemerlang (mustanir) tentu ia akan menganalisa suatu masalah secara mendalam, hingga keakar-akarnya, dan mencari solusi sesuai dengan keterkaitannya antara pencipta, kehidupan, dan alam semesta.

Penjelasan terkait hal ini cukup panjang, namun singkatnya seseorang yang berpikir cemerlang (mustanir) tentu akan mencari terlebih dahulu mengenai sistem demokrasi dimana terdapat paham sekuler, dan liberal. Sedangkan yang bercokol dalam sistem demokrasi adalah neoliberalisme, neoimperialisme dan sekulerisme yang notabene sebagai asasnya sendiri. Maka paham tersebut adalah penyebab dari kerusakan dan carut marutnya negeri ini.

Sungguh tampak jelas, bahwa kerusakan sistem demokrasi ini akibat dari kesombongan manusia yang merasa dapat membuat hukum dan aturan sendiri. Dan mencampakkan larangan dan perintah Allah SWT. Salah satu contohnya adalah ketika Allah melarang jual beli khamr (minuman keras), justru pemerintah dan para menterinya memusyawarahkan jual beli khamr, bahkan melegalkan jual beli khamr dengan syarat-syarat tertentu. Seperti menjual di tempat tertentu dan yang boleh mengkonsumsi mempunyai batas umur tertentu, dan lain sebagainya. Padahal jelas dalam Al-Qur’an, kita dilarang sama sekali untuk jual beli khamr, apalagi mengkonsumsinya setetespun.

Sehingga ganti presiden pada pemilu 2019 bukanlah solusi selama sistem yang diterapkan negeri ini adalah kapitalisme demokrasi warisan kaum yunani kuno abad 600 sekian masehi yang sungguh sangat tidak layak menjadi pengatur manusia keseluruhan, sebagaimana ilustrasi di muka yang menggambarkan betapa Joko seharusnya mengganti saja mobil usangnya dengan mobil baru daripada menyewa sopir terbaik untuk mengemudi mobil rusaknya itu, karena akar masalahnya adalah pada mobilnya yang harus diganti, bukan sekedar siapa yang mengendarainya.

Terakhir, janganlah kita lupa akan kewajiban kita sebagai Muslim untuk menerapkan hukum dari Allah SWT. Bagaimanapun, manusia bukanlah pembuat hukum, karena manusia adalah makhluk yang terbatas dan lemah. Pemikiran manusia tidak akan dapat menguasai keinginan seluruh manusia, sehingga pasti terdapat perselisihan dan pertentangan antar sesama manusia terhadap hukum yang ingin diterapkan. Dan hanya Allah-lah yang mengetahui dan dapat memenuhi keadilan seluruh manusia ketika AturanNya diterapkan, tanpa terjadi perselisihan sama sekali.

Maka mari, bersama-sama memperjuangkan penerapan sistem Islam di negeri ini. Yang telah terbukti penerapannya selama hampir 13 abad dalam kekhalifahan Islam. Marilah bersama-sama mengembalikan sistem Islam yang telah tercampakkan, dan berjuang bersama-sama memperjuangkan kehidupan Islam. Karena dengan penerapan sistem Islam, bukan tidak mungkin Allah SWT akan menolong negeri ini dari kerusakan dan carut marut yang terlanjur parah.[MO/sr]







Posting Komentar