Opini: Ani Herlina

Mediaoposisi.com- Media sosial Facebook mendadak ramai. Ketidak percayaan Presiden Jokowidodo tentang masih adanya gaji guru swasta yang 300 ribu menjadi tending topic hari ini. Lantas para netizen pada rame-rame bekomentar, ' kemarin kemana aja pak,selama menjabat 4,5 tahun? Mau mendekati pilpres baru dibahas. Makanya jangan kabur kalau ada guru mau demo ke istana? Dan masih banyak lagi tanggapan lainnya,lebih pedas untuk Mr. Presiden.

Berawal dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kedatangan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) di Istana Negara, Jakarta. Di hadapan Jokowi, Pembina PGSI Abdul Kadir Karding menceritakan mirisnya gaji guru yang masih ditemukan di bawah upah minimum regional (UMR).
"Mereka pejuang pendidikan, Pak. Mereka rata-rata berpenghasilan Rp 300-400 ribu per bulan yang belum besertifikasi. Yang sudah besertifikasi sudah setara dengan UMK (upah minimum kota/kabupaten)," ujar Karding di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (11/1/2019). dikutip dari detik.com

Sangat aneh sekali jika sekaliber pemimpin negara tidak tahu akan nasib pencetak generasinya. Gaji 300 ribu itu sudah menjadi berita lama,bahkan ada yang dibawah itu. Sudah itu gajinya dirapel tiga bulan sekali. Bukan hanya diswasta, tapi disekolah negri juga banyak. Beban dalam mendidik mungkin lebih berat di swasta,terutama yang berbasis islam.

Ini akibat terlalu sibuk membangun pencitraan. Sehingg lupa akan tugas memimpin yang sebenarnya yaitu meri'ayah umat. Negara seperti sebuah pesawat yang dikendalikan auto pilot. Ada pemimpin tapi nggak terasa kepimimpinannya. Sibuk membangun infra struktur hasil ngutang yang nanti dijual lagi. Tapi ada hal yang dilupakan,yaitu membangun manusianya.

Menjadibguru honorer di negri ini memang sangat berat. Padahal beban dalam mengajar sama dengan guru PNS. Maka hal wajar jika tiap ada pengangkatan CPNS, yang mendaptar  jumlahnya sangat banyak. Semua berlomba ingin menjadi guru negri,demi mendapat gaji yang lumayan besar. Ada yang menghalalkan segala cara dengan jalan riswyah/menyuap agar bisa memuluskan jalan untuk mendapat gelar PNS meski harus membayar puluhan juta.

Salahkah jika para guru ingin mendapatkan kehidupan yang layak untuk keberlangsungan hidupnya?
Sebenarnya tidak ada yang salah. Malah negara harus punya perhatian yang cukup besar untuk mensejahterakan nasib para pencetak generasi bangsa ini. Andaikan di negri ini tidak ada guru lagi yang mau mengajar,lebih tertarik bekerja dibidang yang melayakan hidupnya, ini adalah ancaman yang berbahaya. Menanti sebuah kemunduran yang sangat dasyat. Efeknya lebih besar dari tsunami. Menghantarkan umat menuju abad kegelapan.

Hari ini, pekerjaan guru itu tambah berat. Kurikulum 13 membuat guru tambah stress, terutama untuk guru-guru yang belum siap dengan perubahan. Yang siappun masih banyak yang  dibuat ketetaran. Banyak guru yang masih gaptek terutama generasi old,yang masih nyaman menggunakan tradisi lama. Dibalik itu banyak sekali administrasi yang harus dikerjakan guru,yang terkadang harus dibawa kerumah. Pekerjaan guru semakin bertambah banyak. Ribet dan menyita waktu. Sehingga tugas yang sebenar-benarnya mendidik sedikit terabaikan. Maka   generasi kita saat ini,miskin adab dan tidak menghasikkan generasi ahli dibidangnta.  Dan akan sangat berbahaya ketika peran pendidikan menghasilkan geberasi miskin adab.

Perjuangan para guru untuk mencapai sertifikasi dan  menuju jalan PNS pun semakin dipersulit. Penuh jalan berbelit.

Berbeda dengan islam. Ketika islam diterapkan dan mengalami puncak keemasannya. Peran guru sangat dihargai para kholifah. Puncaknya adalah dimasa Harun Ar-Rasyid yang mampu mensejahterakan kehidupan guru sangat layak. Gaji dua ratus dinar untuk para guru,itu adalah penghargaan tertinggi dimasa itu. Ilmu dihargai sangat mahal. Dan kemajuan yang dirasakan saat itu benar-benar luar biasa. Baghdad berada dipuncak kejayaan yang mampu mewarnai peradaban Eropa yang saat itu masih dalam fase kegelapan.

Suatu fakta histories bahwa pemikiran dunia Islam mengalami suatu kemajuan yang hebat dalam waktu antara abad VIII dan abad XIII yang memberikan hasil nyata kepada Eropa.

Mampukah pemimpin negri ini mewujudkan nasib pencetak generasi bangsanya menuju tataran hidup sejahtera. Tidak usah menyamainya dengan era kegemilangan islam. Cukup sejajar dengan negara Malaysia,itu sudah luar biasa.

Perhatian pemimpin negara akan nasib kesejahteraan guru itu sangat penting. Agar para guru lebih fokus pada tugasnya dalam mendidik tanpa harus memikirkan hal-hal lain. Dan akan lebih baik jika administrasi yang dibebankan pada guru dihilangkan. Tapi kembalikan ke visi-misi guru mendidik generasi  yaitu membangun generasi yang insan kamil.

Dan sudah saatnya pendidikan dikembalikan ke kurikulum islam yang berlandaskan Al-Qur'an. Agar generasi negri ini menjadi generasi Qur'ani yang mampu mengubah peradaban sekuler menuju peradaban islam.

Sebagaimana perkataan imam malik rahimahullah :
لَنْ يَصْلُحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّة إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا

Generasi akhir ummat ini tidak akan kembali jaya, kecuali dengan apa-apa yang telah mengantarkan kejayaan generasi awal[MO/sr]







Posting Komentar