Oleh. Sofia Ariyani, S.S
(Member Akademi Menulis Kreatif)
Mediaoposisi.com-Saat ini dunia tengah berada di era industri kreatif, era di mana teknologi otomatisasi dan robotik merajai industri dan telekomunikasi. Era mesin-mesin berganti sistem digitalisasi komputerisasi yang mengambil alih tangan-tangan terampil. Era Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosialekonomi, dan budaya di dunia.

Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa BaratAmerika UtaraJepang, dan menyebar ke seluruh dunia. (Wikipedia)
Dan dunia telah melalui Revolusi Industri itu hingga tahap yang ke tiga. Saat inilah dunia memasuki RI 4.0. Jika dulu masanya RI 1.0 hingga RI 3.0 tenaga manusia masih digunakan dalam industri.

Pada RI 4.0 ini robot pintar dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang akan menggantikan tenaga manusia. Ini akan berdampak pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran tanpa terkecuali tenaga ahli pun akan terkena imbasnya.

Juga yang lebih luas berdampak pada kehidupan manusia yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah sosial, krisis multi-dimensi dan berefek domino.

Meningkatnya pengangguran akan berdampak pada meningkatnya stress di masyarakat maka akan mengakibatkan terjadinya kriminalitas, kemiskinan, hingga meluasnya bencana ekologi yang mematikan. Ditambah pula pemerintah mengimpor tenaga kerja ahli dan buruh serta membuka kampus-kampus asing atas nama kemajuan sain dan teknologi.

Inilah strategi licik Barat berkedok kemajuan teknologi yang akan memuluskan jalan hegemoninya.

Harianterbit.com melansir, Presiden KSPI Said Iqbal menyebut, total karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam kurun 2015-2018 mencapai hampir 1 juta orang. Gelombang PHK itu akan mulai menerjang Indonesia di tahun 2019 disebabkan oleh revolusi industri 4.0.

Meski dinilai revolusi industri 4.0 baru akan berdampak pada tahun 2020, tetapi efeknya mulai terasa pada tahun depan. Pasalnya Indonesia belum memiliki kesiapan menyambut perubahan tersebut untuk melindungi tenaga kerja.

"Tahun 2019 revolusi industri 4.0, pemerintah tidak siap dari sisi regulasi mau pun proteksi untuk para pekerja dan dunia usaha," ujar Iqbal saat konferensi pers evaluasi kinerja ketenagakerjaan, Rabu (26/12/2018).

Pemerintah jangan hanya sibuk mensosialisasikan RI 4.0 saja tapi harus memperhatikan dampak yang akan terjadi bagi para pekerja agar tak tergerus teknologi. Alih-alih demi kemajuan hidup malah merusak tatanan kehidupan itu sendiri.

Atas nama globalisasi ingin kemajuan teknologi merata di seluruh dunia demi kelangsungan hidup manusia. Amerika dan negara-negara Eropa adalah kiblat sekaligus pengusung kemajuan teknologi bagi negara-negara berkembang.

Namun inilah wajah baru penjajahan (neo-imperialisme) tertinggi dengan mengkolaborasi agenda Revolusi Industri 4.0.

Agenda ini tak lepas pula dari upaya penyebarluasan budaya dan ideologi mereka, yaitu Kapitalisme. Dengan penjajahan melalui teknologi ini Barat akan mudah mengeruk sumber daya alam, dan menguasai aset-aset negara.

Negara Khilafah Islamiyah berabad lamanya menjadi negara adidaya dengan kemajuan teknologinya berdiri di atas pondasi aqidah yang shohih (ideologi Islam). Namun Amerika yang kini maju dengan sain dan teknologinya berdiri di atas pondasi aqidah yang bathil (ideologi Kapitalisme).

Begitu pula dengan Uni Soviet kala itu kemajuannya ditopang oleh aqidah yang bathil pula (ideologi Sosialisme-komunisme). Ketika kemajuan-kemajuan itu berdiri di atas pondasi aqidah yang bathil maka mereka pun hanya akan meraih kemajuan semu.

Revolusi Industri 4.0 hanya akan menyisakan krisis multi-dimensi, di mana RI 4.0 tidak mengindahkan kemuliaan manusia yang akan menyengsarakan manusia dan dunia. Salah satu dampaknya adalah gelombang PHK besar-besaran yang melanda dunia dan jurang kemiskinan yang semakin menganga.

Agenda Revolusi Industri 4.0 perlu dikoreksi total. Dan yang mampu mengoreksi total hanyalah ideologi shahih yang berasal dari Islam, kehadiran Khilafah sebagai pembebas dan pewujud kemajuan sain dan teknologi yang menyejahterakan manusia.

Negara wajib memberikan fasilitas pra-riset dan paska-riset demi kelangsungan hidup manusia dengan paradigma ilmu bukanlah komoditas sebagaimana Kapitalisme mengkomersilkan ilmu dan paradigma fungsi negara yaitu sebagai pelayan dan pelindung rakyat bukan sebagai pemerah keringat rakyat.

Sebagai pelayan umat negara akan memenuhi kebutuhan hajat kehidupan masyarakat. Dan sebagai pelindung umat negara akan melindungi rakyatnya dari segala bentuk penjajahan dan penderitaan. Maka negara akan mencapai kemajuan yang hakiki.[Mo/]

Posting Komentar