Oleh: Rissa S Mulyana 
(Mahasiswi Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma)

Mediaoposisi.com- Pada awal Desember tahun ini, muncul petisi yang meminta pihak KPI untuk menghentikan iklan salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia, Shopee, karena menampilkan adegan iklan yang tidak patut untuk ditayangkan. Shopee menjadikan girlband asal Korea yaitu Blackpink sebagai brand ambassador.

Dalam iklan tersebut diketahui Blackpink bernyanyi dan menari dengan pakaian yang sangat minim. Sementara iklan tersebut tampil dalam slot TV acara anak-anak. Hal inilah yang menjadi titik permasalahan dalam petisi yang digagas oleh Maimon Herawati tersebut. Petisi tersebut juga berisi ajakan untuk memboikot Shopee.

Menurut Maimon, tayangan iklan semacam ini merusak moral generasi bangsa, terlebih lagi iklan tersebut selalu muncul di sela-sela acara TV untuk anak-anak. Maimon mempertanyakan letak perlindungan KPI dalam menyortir tayangan yang layak untuk tampil di layar kaca. Petisi yang ditulis Maimon mendapat dukungan sebanyak 128.279 orang.

Beberapa waktu kemudian muncul berbagai kecaman dan petisi tandingan dari pihak yang tidak menyetujui adanya petisi yang diajukan Maimon. Mereka menganggap petisi tersebut sebagai aksi yang berlebihan, bahwasanya selain iklan Shopee-Blackpink, masih banyak juga tayangan dan acara TV lainnya yang lebih rusak dan tidak layak. Mereka mempertanyakan mengapa hanya Shopee dan Blackpink yang menjadi sorotan.

Fenomena di atas adalah salah satu dari sekian banyak fakta yang menunjukkan bobroknya sistem kehidupan sekuler-kapitalis hari ini. Sistem sekuler berlandaskan pemisahan agama dan kehidupan, sehingga agama dianggap sebagai urusan pribadi dan tak boleh mencampuri urusan publik.

Inilah yang terjadi hari ini, saat beragam promosi produk fashion, makanan, properti, dan semacamnya dipenuhi dengan model-model cantik nan rembulan yang dengan bebas mengumbar kecantikannya tanpa batas dan tidak lagi memerhatikan masalah moral dan syariah.

Sistem kapitalis menjadikan manfaat sebagai asas dari segala hal, sehingga berbagai aktivitas termasuk aktivitas produksi pun dimaksudkan untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya bagi para kapital (pemilik modal).

Iklan-iklan produk yang kita temui hari ini adalah ditujukan langsung untuk meraup laba sebanyak-banyaknya tanpa memerhatikan aspek moral apalagi syariat Islam. Melihat bagaimana cara kerja sistem sekuler-kapitalis, maka menjadi sebuah keniscayaan ketika kita menghadapi generasi dengan lifestyle yang jauh dari nilai-nilai keislaman.

Para pemuda tidak lagi memerhatikan permasalahan yang dihadapi umat, namun lebih tertarik pada ragam promo online yang amat menunjukkan gaya hidup konsumerisme. Pendidikan yang ditempuh belasan tahun tidak lagi ditujukan untuk mendapatkan keilmuan yang bermanfaat bagi ummat namun untuk mendapat gelar tinggi agar mendapat gaji yang tinggi dari perusahaan bonafit.

Berbanding terbalik dengan Islam. Islam memiliki aturan kompleks dan menyeluruh terhadap berbagai aspek kehidupan. Dalam sistem Islam, media penyiaran dijadikan sarana untuk mensyiarkan nilai-nilai Islam, mendidik generasi untuk menjadi individu yang bertaqwa.

Media Islam dijadikan pula sebagai sarana untuk kebermanfaatan ummat dengan menjunjung tinggi nilai luhur sesuai syariat Islam serta menebarkan edukasi dan ilmu pengetahuan bagi ummat.

Masyarakat dalam sistem Islam dibentuk untuk mencintai ilmu pengetahuan dan menyalurkan energi dan pengetahuan yang dimiliki untuk kemajuan umat. Sistem tersebut tidak akan terwujud tanpa ditegakkannya Khilafah yang menjadi metode untuk menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu ‘alam bi ashhawab.[MO/sr]

Posting Komentar